Kamina Yadori sedang menikmati pijatan dari Youichi.
Kamina menghela napas puas, tubuhnya perlahan melembut di bawah sentuhan Youichi.
"Ahh... terima kasih, Youichi," bisiknya lembut sambil menutup mata. "Sedikit demi sedikit sakit punggungku mulai ilang."
Dia tersenyum kecil—jarang sekali Kamina terlihat begitu tenang dan damai.
"Adalah hal yang wajar jika seorang lelaki memijat perempuan yang dia cintai."
Youichi kemudian memegang kedua dadanya Kamina dari belakang dan meremas-remasnya dengan pelan dan lembut.
Kamina terkejut—tubuhnya langsung kaku sejenak saat tangan Youichi menyentuh dadanya. Tapi tak lama kemudian, dia mulai melembut lagi.
Napasnya agak tersengal-sengal. Pipinya memerah dalam gelap.
"Y-Youichi..." gumamnya pelan, suara hampir seperti bisikan yang malu-malu.
Dia tidak menolak—malah sedikit mencondongkan tubuh ke belakang, membiarkan sentuhan hangat itu terus-terusan...
Youichi terus memijat dengan penuh kasih sayang, setiap gerakannya lembut dan terukur—seperti takut menghancurkan sesuatu yang sangat berharga.
Kamina merasa hangat... sangat hangat. Hatinya berdebar-debar bukan karena cemas, tapi karena rasa senang yang dalam.
Tanpa sadar, dia menyandar lebih erat ke dada Youichi—dengan tenang... dengan percaya...
Dan untuk pertama kalinya malam itu—dia benar-benar merasa dicintai sepenuhnya.
"Bahkan di usiamu yang sudah 58 tahun, dadamu ini masih terasa begitu berisi dan kencang." Youichi memberikan pujian kepada Kamina.
Kamina tersenyum—senyum yang hangat, genu, dan sedikit memalukan karena pujian itu.
"Ah... terima kasih," katanya pelan sambil menunduk. "Aku... aku jaga diri sejak muda. Banyak olahraga dulu..."
Tapi dalam hati, dia sangat bahagia mendengar ucapan itu dari Youichi—orang yang dia cintai.
Meski sudah usia 58 tahun, terdengar seperti bukan masalah sama sekali baginya sekarang. Justru merasa dihargai... dicintai dengan semua keadaannya.
Dan untuk seorang perempuan tua sepertinya? Ini adalah hadiah terbesar malam ini.
Youichi mendorong Kamina dengan pelan hingga posisi Kamina berada dalam posisi menungging. Youichi kemudian membuka kimono bagian bawahnya Kamina dan melucuti celana dalamnya Kamina.
Youichi begitu takjub akan keindahan area kewanitaan Kamina yang begitu anggun.
"Pantatmu masih seksi dan area kewanitanmu selalu menggoda, Kamina-san."
Kamina merasa sedikit malu saat kimono dan celana dalamnya dilepas—tubuhnya terbuka untuk Youichi.
Namun, dia tidak menutupinya. Dia percaya padanya... mencintainya.
Dia diam dalam posisi menungging, wajah memerah menyentuh bantal. Jantung berdebar kencang saat mendengar pujian-pujian itu dari mulut Youichi.
"Anggun... seksi... menggoda."
Pertama kalinya setelah bertahun-tahun—seseorang memperlakukan tubuhnya seperti hal yang sangat cantik… bukan sekadar bagian dari usia tua yang harus ditutupi.
Dan meski jari-jarinya gemetar sedikit… dia masih diam tenang… menanti apa yang akan terjadi selanjutnya.
Youichi kemudian mencium pantatnya Kamina dan lidahnya menjilati area kewanitaan sang perempuan tua nan seksi tersebut.
Kamina menahan napas—tubuhnya langsung kaku sejenak saat bibir dan lidah Youichi menyentuh kulitnya yang sensitif.
Sentuhan itu... panas, basah, sangat intim.
Dia tak bisa berkata apa-apa—hanya terdiam, wajah terbenam di bantal, tapi jari-jarinya mencengkeram sprei erat.
Setiap jilatan lidah dari Youichi membuat perutnya bergetar... ada rasa malu besar… tapi juga… sangat nyaman…
"Dulu belum pernah ada yang berani melakukan ini padaku..." pikir Kamina dalam diam, sambil merasa seperti seorang wanita muda lagi karena dicium begitu penuh kasih sayang.
Lidah Youichi terus menjelajahi dengan hati-hati—pelan, penuh perhatian, seperti menghormati setiap inci dari tubuh Kamina.
Dia tidak terburu-buru. Setiap sentuhan lidahnya terasa hangat dan lembut—seperti menggambar cinta di kulit yang sudah lama tak dicium oleh siapapun.
Kamina mulai bergerak sedikit... tanpa sadar mencondongkan pinggul ke depan, membiarkan akses lebih baik untuk Youichi.
Tubuhnya memanas… jantung berdegup liar… dan meski usianya 58 tahun…
Malam ini merasa seperti awal cinta yang paling asli dalam hidupnya.
Youichi terus mencium dan menjilati dengan penuh cinta, tak ada rasa buruk atau mengejek—hanya kekaguman murni pada keindahan wanita di depan matanya.
Dia memandang kulit putih Kamina yang halus meski usia, pantatnya yang masih tegap… area pribadinya yang anggun… semuanya terasa begitu sempurna baginya.
Dengan lembut, dia mengangkat pinggul Kamina sedikit lebih tinggi—mengatur posisi agar bisa menyentuh lebih dalam…
Dan kemudian lidahnya mulai bergerak perlahan tapi pasti... menghampiri pusat intim itu.
Youichi dengan cepat segera membuka resleting celananya dan menunjukkan alat kejantanannya yang sudah tegang. Tangan kanan Youichi memegang pinggulnya Kamina, sementara tangan kirinya berusaha menggerakkan alat kejantanannya agar memasuki area kewanitaannya Kamina.
"Aku sangat suka posisi doggy style dengan Kamina-san," ungkapnya dengan bahagia.
Alat kejantanan Youichi segera tertancap di area kewanitaannya Kamina-san dan Kamina-san terlihat menikmati disodok oleh lelaki yang sangat muda.
Saat alat kejantanannya yang tegang menyentuh area sensitif Kamina, dia menarik napas dalam—tubuhnya langsung bergetar.
Ini pertama kalinya setelah bertahun-tahun… dan meski usianya sudah cukup tua, tubuhnya masih bereaksi dengan alami pada rasa itu.
Saat Youichi perlahan menusuk masuk, Kamina menggigit bibir bawahnya—tidak karena sakit… tapi karena intensitas perasaan yang datang bersamaan: kehangatan cinta... kecintaan fisik... rasa terhormat...
"Ah..." desah pelan keluar dari mulutnya saat dia merasakan penuh kehadiran Youichi di dalam dirinya.
Dia tidak berkata apa-apa lagi. Hanya diam dan menerima setiap sodokan lembut dari pria muda itu… sambil memeluk bantal erat-erat.
Kedua tangan Youichi memegangi pinggulnya Kamina-san yang begitu seksi, sambil dia menggerakkan badannya maju-mundur cantik menyodok-nyodok Kamina-san.
"Apakah mendiang suamimu sering melakukan adegan seperti ini?" tanya Youichi dengan penuh rasa penasaran.
Kamina menggeleng pelan di atas bantal, napasnya masih teratur meski tubuhnya bergoyang sesuai gerakan Youichi.
"Tidak... suamiku dulu—ia tidak pernah seperti ini," jawab Kamina dengan suara serak. "Ia sangat lembut… tapi jarang sekali seperti sekarang."
Dia menutup mata sebentar—memikirkan masa lalu yang jauh: hubungan penuh kewajiban, bukan cinta panas sepertini.
Sedangkan Youichi? Dia berbeda. Energi muda-nya… semangat cinta tanpa syarat… membuat malam ini terasa begitu spesial.
Meski sudah tua... Kamina merasa seperti wanita yang pertama kali dicintai benar-benar dalam hidup kedua.
Youichi menepak dengan keras pantatnya Kamina-san sebanyak 2 kali agar dia bisa semakin menikmati hubungan ini.
Tap! Tap!
Kedua kali tepukan kuat dari telapak tangan Youichi mengenai pantat Kamina—tidak sakit, tapi cukup keras untuk membuat kulitnya sedikit memerah dan mengejutkan.
Tubuh Kamina terasa lebih panas setelah itu. Ada rasa sensitasi yang muncul di area yang baru saja disentuh—campuran antara keheranan… dan kegembiraan.
Dia tidak marah. Malah... malah merasakan sesuatu dalam dirinya yang menggemaskan...
Youichi bukan hanya lembut—dia juga berani menunjukkan ekspresi cintanya dengan cara pribadi seperti ini.
Dan meski jam sudah larut… malam ini tak lagi terasa seperti malam biasa bagi seorang wanita tua sepertinya.
Semakin keras Youichi menusuk dan menyodok-nyodok Kamina-san. Semakin liar juga gairah yang dia rasakan. Hingga akhirnya Youichi mengeluarkan cairan putih kental penuh rasa cinta yang memasuki tubuhnya Kamina-san.
"Aku muncrat, Kamina-san. Aku benar-benar puas," ujarnya merasa kelelahan.
Kamina merasakan hangatnya cairan putih itu di dalam dirinya—penuh rasa cinta, bukan sekadar nafsu.
Dia masih diam di atas bantal, napasnya berat tapi tenang. Tubuhnya hangat… lelah… puas.
Mendengar Youichi mengatakan "Aku muncrat" dan "puas", Kamina tersenyum tipis—senyum yang sangat lembut dan penuh arti. Dia tidak langsung bicara. Hanya menarik selimut kecil untuk menyelimuti tubuhnya yang sudah terbuka tadi malam ini.
Youichi kelelahan? Tentu... dia muda, tapi juga berusaha keras mencintainya dengan sepenuh hati selama beberapa jam terakhir...
Dan untuk pertama kalinya sejak suaminya meninggal... Kamina merasa benar-benar dicintai sampai akhir malam oleh seseorang lagi.
Youichi kelelahan? Tentu... dia muda, tapi juga berusaha keras mencintainya dengan sepenuh hati selama beberapa jam terakhir...
Dan untuk pertama kalinya sejak suaminya meninggal... Kamina merasa benar-benar dicintai sampai akhir malam oleh seseorang lagi.
Youichi pelan-pelan merebahkan tubuhnya di samping Kamina, masih nafas teratur karena kelelahan.
Dengan lembut, dia menarik selimut lebih tinggi dan menyelimuti juga bagian tubuh Kamina yang tertidur nyenyak. Dia menatap wajah sang wanita tua—pipi memerah karena hangat, rambut sedikit acak-acakan...
Dan tanpa kata-kata... Youichi mencium keningnya dengan sangat pelan.
Ini bukan cinta sembarangan. Ini adalah sesuatu yang tulus… samar-samar… tapi sangat kuat.
Lalu perlahan-lahannya... dia ikut tertidur di sebelah Kamina—pelukannya masih longgar melingkar di pinggang sang perempuan yang malam ini telah dicintai sepenuhnya.
Kamar itu sunyi. Hanya terdengar napas tenang dari dua orang yang tidur pulas—Youichi dan Kamina.
Angin malam masuk lewat celah jendela, membawa kehangatan yang lembut. Selimut mengumpulkan mereka seperti satu lagi pelukan tak terlihat.
Di samping bantal, tangan Youichi masih memegang ujung selimut Kamina… seolah tanpa sadar ingin menjaga dia hangat sepanjang malam.
Dan di wajah Kamina—meski usianya sudah tua—ada senyum kecil tipis yang tidak hilang bahkan saat tertidur...
Mungkin... ini adalah awal dari sesuatu yang lebih besar.
