LightReader

Chapter 95 - Chapter 95

🔥 CHAPTER 95 — "Pemburu Hitam, Jejak Darah Frostveil & Kebangkitan Bulan Merah Kedua."

---

🔥🌑 ADEGAN 1 — Jejak Pemburu Organisasi Hitam

Malam itu sunyi.

Terlalu sunyi.

Zura tiba-tiba berhenti saat mereka baru keluar dari reruntuhan markas.

Zura:

"Tuanku… mereka sudah tiba."

Damien mengangkat alis tipis.

Damien:

"Berapa?"

Zura menatap kegelapan, pupil seperti kaca obsidian.

Zura:

"…enam belas pemburu. Semua Essence Flow tingkat atas.

Dan satu pemimpin… Spirit Manifest tingkat 6."

Hana tercekat.

Rex langsung pucat seperti tepung belum diaduk.

Rex:

"B-bro… itu… itu bukan level kita… bukan levelmu juga, kan?"

Suara Misterius tertawa rendah, geli, tetapi suaranya seperti menyayat.

Suara Misterius:

"Kau benar, bocah.

Damien belum siap untuk melawan Spirit Manifest 6."

Rex:

"L-I-LAH… KENAPA SUARA ITU NGOMONGNYA TENANG BANGET?! MATI KITA!"

Tapi Damien hanya berdiri…

Aura merahnya belum stabil, tapi matanya sudah dingin seperti bulan gelap.

Damien:

"Kalau mereka menghalangi jalan ke Lyanna…

kita habisi."

Hana bisa merasakan suara Damien berbeda.

Ada sesuatu yang berubah di dalam bocah itu—

seperti hati yang mulai terbakar.

---

❄️💀 ADEGAN 2 — Jejak Darah Frostveil

Hana tiba-tiba mengulurkan sehelai kain putih tipis.

Hana:

"Damien… aku menemukan ini."

Robekan kain itu membeku di bagian tepi.

Ada simbol lingkaran kecil bersalju.

Damien memegangnya.

Darah langsung dingin.

Damien (monolog):

Lyanna… kau terluka? Kau diseret?

Jangan berani menyentuh dia lagi… siapa pun kalian.

Kael Arclight muncul dari bayangan spiritual Damien, walaupun hanya bayangan aura.

Kael Arclight:

"Jika dia meninggalkan jejak… berarti dia masih hidup.

Tapi itu juga berarti dia meminta bantuan.

Dan kau… tidak boleh terlambat."

Damien menggenggam kain itu sampai bergetar.

Damien:

"…Lyanna. Aku akan datang."

Aura Hyper Red Primordial meledak keluar sedikit.

BOOM—

Tanah retak.

Hana dan Rex mundur panik.

Rex:

"DAMAIEN BRO—JANGAN NAIK RANAH SEKARANG, TUBUHMU MASIH KAYA TAHU!!!"

---

🌕🔥 ADEGAN 3 — Red Moon Pulse Tahap 2 (Nyaris Aktif)

Suara Misterius muncul di belakang Damien.

Suara Misterius:

"Kemarahanmu membuka setengah gerbang tahap berikutnya."

Damien terkejut.

"Aku siap—"

Kael Arclight memotong dingin:

Kael Arclight:

"Tidak.

Kau akan mati dalam tiga detik kalau memaksakan Stage II sekarang."

Damien:

"Tapi aku harus ke Lyanna—"

Kael Arclight:

"Dan jika kau mati dalam perjalanan, siapa yang akan menyelamatkan dia?!"

Damien membeku.

Suara Misterius mendekat ke telinganya, seperti bisikan iblis.

Suara Misterius:

"Tenanglah… Damien.

Ampas dunia ini tidak layak membuatmu gegabah."

Damien mengepalkan tangan, menahan nafas kasar.

Damien:

"…Baik."

---

⚡🔥 ADEGAN 4 — Penyergapan Pemburu Hitam

Langkah kaki berdetak…

Belati hitam keluar dari kegelapan.

Pemimpin Pemburu:

"Damien Valtreos.

Pewaris Dewa Tinju. Pewaris Dewa Listrik.

Pewaris Primordial… katanya."

Mereka menertawakan.

Pemburu 2:

"Anak kecil. Kau pikir kau sanggup memakai warisan primordial?

Tubuhmu itu belum setetes pun sebanding."

Rex bisik-bisik ke Hana:

Rex:

"Dia salah sih… tapi kok ngenyek banget ya? Greget gw."

Hana:

"Shh, nanti kita mati bareng."

Damien maju selangkah.

Dengan tubuh yang goyah.

Wajahnya pucat.

Aura merahnya belum stabil.

Tapi matanya…

…seperti pemburu bulan merah yang baru lahir.

Damien:

"Kalian boleh salah menilai tubuhku…

tapi kalian tidak akan meremehkan tekadku."

Pemimpin Pemburu tertawa.

Pemimpin Pemburu:

"Kau? Tekad? Kau bahkan belum mencapai puncak Spirit Manifest.

Apa yang bisa anak kecil—"

Damien tiba-tiba menghilang.

SWOOOSH—

Dalam sekejap dia muncul tepat di depan pemburu itu.

Satu detik.

Hanya satu detik.

Damien meninju perut musuh—tapi menahan kekuatan penuh agar tidak memicu rebound.

BOOOM—

Pemburu itu terlempar 20 meter.

Semua pemburu lain terdiam.

Pemimpin Pemburu tersenyum bengis.

"Kaulah yang pertama kubunuh."

Ia menarik pedang berlapis kutukan.

---

🌑🔥 ADEGAN 5 — Red Moon Awakening Gelombang Kedua

Saat pemimpin pemburu maju…

Lyanna's cloth fragment dalam genggaman Damien bersinar biru lembut.

Seolah memanggil.

Damien melihatnya—

dan seluruh emosinya runtuh menjadi satu kata:

"Lyanna…"

Hatinya meledak—

secara literal.

BOOOOOOM—!!!

Aura merah memenuhi langit malam.

Tapi… kali ini bentuknya lebih stabil.

Suara Misterius terkejut.

Suara Misterius:

"Ini… bukan Stage II.

Tapi 'Kebangkitan Bulan Merah Kedua'…"

Kael Arclight memandang Damien dengan wajah yang bahkan jarang ia tunjukkan:

kebanggaan… dan ketakutan kecil.

Kael Arclight:

"Damien…

kau benar-benar mulai menapaki jalan Primordial."

Rex jatuh terduduk.

Rex:

"Astaga… bocah ini… mau jadi dewa kapan?!"

Hana memandang Damien…

Hana:

"Dia… tidak sama seperti sebelumnya."

---

🔥🌙 ADEGAN 6 — Damien Melangkah ke Pertempuran

Damien menatap pemimpin pemburu.

Damien:

"Kau ingin membunuhku?"

Pemimpin Pemburu:

"Sudah pasti."

Damien tersenyum tipis.

Damien:

"Bagus… berarti aku tidak harus menahan diri."

Pemimpin pemburu mengangkat pedang kutukan.

Damien mengangkat tangan—

bulan merah kecil muncul di telapak tangannya.

Suara Misterius:

"Damien… itu teknik Red Moon Pulse tahap awal yang kau belum kuasai…"

Damien:

"Aku tahu."

Suara Misterius:

"Kalau begitu kenapa kau—"

Damien menatap pedang pemburu yang mengarah ke teman-temannya.

Damien:

"Karena aku harus cepat."

BOOM—

Damien menerjang.

Bulan merah meledak.

---

🔥 END CHAPTER 95 🔥

Highlight:

Jejak Frostveil pertama → Lyanna dipastikan masih hidup tapi terluka.

Pemburu organisasi mengira Damien hanya pewaris petir, tinju, dan primordial biasa.

Damien membuka Kebangkitan Bulan Merah Kedua (sebelum naik ke Stage II).

Rex dan Hana menyaksikan kekuatan Damien yang mulai mengarah ke Primordial sesungguhnya.

Pertarungan besar melawan Spirit Manifest 6 dimulai.

More Chapters