LightReader

Chapter 103 - Chapter 103

đŸ”„ CHAPTER 103 — "Pertarungan Zura, Eksperimen Bermutasi, & Damien Mengamuk

---

🌑 ADEGAN 1 — Zura Bertarung Seorang Diri

Hutan utara remang, penuh kabut gelap.

Zura berdiri dengan tubuh penuh goresan, tetapi matanya tetap kosong—

namun tajam.

Di hadapannya, tiga eksperimen organisasi gelap menggeram.

Tubuh mereka menyerupai manusia, tetapi membelok, merenggang, tulang menonjol seperti binatang yang gagal berevolusi.

Qi mereka tidak stabil.

Berdemet demi detik, aura mereka naik-turun seperti mau meledak.

Salah satu eksperimen melompat.

Zura tak bergeming.

Saat cakar hitam itu hampir menyentuh wajahnya—

Zura memutar tubuhnya.

CRAAK—!!

Pukulan sederhana, lurus, tanpa emosi


tapi kekuatannya brutal.

Eksperimen itu terlempar ke pohon dan patah seluruh tulangnya.

Eksperimen kedua menyerang dari belakang.

Zura berbisik datar:

> "Mengganggu."

SHING—

Tubuh Zura memudar seperti bayangan, muncul di belakang musuh.

Satu tebasan tangan—

BUAAAK!

Eksperimen kedua roboh, tengkoraknya retak.

Eksperimen terakhir mencoba lari.

Namun Zura menunjuk satu jari.

Jari itu memancarkan qi merah tipis—warisan dari Damien.

WHOOM—

Ledakan kecil menghantam punggung eksperimen itu, membuatnya terguling keras.

Zura berjalan perlahan sambil mengibaskan debu di jubahnya.

> "Lemah
 membosankan."

Zura mengangkat tangan untuk menyelesaikan mereka—

sampai tiba-tiba


Mata eksperimen itu berwarna ungu darah.

Tubuh mereka mulai membengkak.

Tulang keluar.

Darah mendidih.

Zura berhenti.

Matanya masih kosong, namun kini sedikit waspada.

> "Ini bukan evolusi normal."

---

🌘 ADEGAN 2 — Eksperimen Bermutasi Tak Terkendali

Ketiga eksperimen itu menggeliat.

Daging mereka terbelah.

Mereka berubah menjadi bentuk ke-2, jauh lebih ganas, jauh lebih tidak stabil.

Suara mereka berlapis, seperti ribuan jeritan:

> "B
boneka
 hidup
 ZURAAAA
 SERAP
 QIII
."

Zura menegang sedikit.

> "Tertarik padaku? Tidak menarik."

Mutan pertama menyerbu.

Lebih cepat.

Lebih liar.

Zura mengangkat tangan untuk mengataatkannya—

Namun mutan kedua menyusul dari sisi lain.

Mutan ketiga meledak aura gelap untuk mengunci gerakannya.

Untuk pertama kalinya—

Zura terdorong mundur.

BOOOOM!!

Tanah di bawahnya hancur saat ia menahan serangan beruntun.

Zura menyipit.

> "Merepotkan."

Mutan-mutannya menyerang bersama.

Zura bersiap bertahan—

---

🌕 ADEGAN 3 — Damien Tiba

SWOOOSH— KRRAAAAK!!

Suara udara terbelah seperti petir.

Kilatan merah-emas mendekat dari kejauhan.

Zura tidak menoleh.

Ia tahu siapa yang datang.

> "
akhirnya."

BOOOOM—!!!

Sebuah ledakan aura menerbangkan ketiga mutan sebelum mereka menyentuh Zura.

Damien muncul di samping Zura, dengan mata God-Sight menyala merah-emas dan darah tipis mengalir dari sisi matanya.

Damien mendesis tajam:

> "Tiga ekor sampah ini hampir menyentuhmu."

Zura menatap Damien datar.

> "Aku bisa menang sendiri. Kau lambat."

Damien nyaris terbatuk darah karena kesal.

Damien:

> "Aku—datang—UNTUK MENYELAMATKANMU."

Zura:

> "Tidak perlu. Mereka membosankan."

Damien:

> "KAU BARU SAJA TERDORONG MUNDUR!"

Zura:

> "
aku hanya terpeleset."

Damien:

"KAU TIDAK PUNYA EMOSI! BAGAIMANA BISA TERPELESET?!"

Zura:

> "Itu rahasia."

Rex dari jauh teriak:

> "GUE SUKA ANAK INI."

Damien menutup wajahnya.

Hana hanya memegangi kepala.

Namun Zura melanjutkan kalimat pendeknya tanpa menatap Damien:

> "Meski kau lambat
 kau tetap datang."

Damien berhenti


dan terdiam sesaat.

Ekspresi dinginnya sedikit melunak.

> "Tentu saja. Kau bagian dari keluargaku."

Zura menatap Damien sekilas—

tidak ada emosi, namun aura Zura menjadi sedikit lebih stabil.

> "
aku mengerti."

Momen itu hanya sedetik—

karena mutan-mutan itu kembali berteriak.

"BONEKA HIDUP
 ZURAAAA
!!!"

Damien menatap mereka dengan tatapan penuh amarah.

> "Kalau begitu
 kalian mati dulu."

---

đŸ”„ ADEGAN 4 — Damien Mengamuk & Latihan Warisan Hyper Red Primordial

Mutan pertama melompat.

Damien mengaktifkan Hyper Red Primordial tahap 1 — Blood Ignition.

AURA MERAH pekat meledak keluar, membuat hutan bergetar.

Damien menghantam mutan itu sekali—

BOOOOM—!!!

Mutan itu hancur.

Darah Damien menetes, tapi ia tidak peduli.

Suara Misterius berbicara:

[Bagus, Damien. Kau sudah siap untuk masuk ke Tahap Inti Hyper Red Primordial — Scarlet Core Awakening.]

Damien merapal sambil maju.

> "Scarlet Core
 hidup."

Simbol merah di dadanya menyala.

Damien memukul mutan kedua—

KREEAAK—!!!

Mutan itu patah seperti ranting.

Mutan ketiga mundur ketakutan.

Damien menghilang—

muncul di atas kepala mutan itu.

> "Selesai."

DUAAARR—!!!

Mutan terakhir meledak menjadi debu hitam.

---

🌑 ADEGAN 5 — Zura Menang
 dan Ngomel

Zura membersihkan tangan dari darah yang tidak nyata.

Damien mendekat.

> "Kau baik-baik saja?"

Zura:

> "Aku bilang aku bisa menang sendiri."

Damien:

"
kau hampir tertusuk tiga cakar beracun."

Zura:

> "Itu hanya latihan pemanasan."

Damien menarik rambutnya frustasi.

Hana tertawa menahan diri.

Rex:

> "Bro, dia kayak kamu versi lebih nyebelin."

Zura menatap Damien.

> "Damien."

Damien:

"Hm?"

> "Aku bosan melihat wajahmu setiap kau menolongku."

Damien:

"
HEH?!"

Zura menunjuk Damien.

> "Kau harus latih dirimu. Matamu. Warisanmu. Jangan terlalu banyak mengawasiku."

> "Aku bisa hancurkan mereka sendiri."

Damien menghela napas.

> "Baik
 aku akan latihan sampai inti warisan Hyper Red Primordial selesai."

Zura:

> "Bagus."

Damien menepuk kepala Zura pelan, seperti adik kecil.

Zura menggerutu:

> "Hentikan."

Namun ia tidak benar-benar menolak.

---

🌕 ADEGAN 6 — Damien Bersiap Latihan Inti Hyper Red Primordial

Damien kembali ke tempat latihan bersama Hana dan Rex.

Ia duduk, menarik napas, dan membuka mata.

Runik God-Sight berputar.

Simbol merah warisan mulai muncul di dadanya.

Suara Misterius:

[Mulai sekarang
 kita fokus ke inti sebenarnya.

Hyper Red Primordial Phase — Scarlet Core Awakening.

Bersiaplah
 ini tidak sesederhana Blood Ignition atau Bone Tempering.]

Damien tersenyum tipis.

> "Bagus. Aku butuh sesuatu yang lebih sakit dari God-Sight."

Rex:

> "BRO TOLOL APA GIMANA
"

Hana menepuk pundak Damien dengan wajah panik.

Namun Damien sudah menutup mata.

Aura merah naik


menggetarkan hutan


dan babak baru warisannya dimulai.

---

đŸ”„ END CHAPTER 103 đŸ”„

More Chapters