LightReader

Chapter 108 - Chapter 108

━━━━━━━━━━

⚡ CHAPTER 108 — "Zura Mengalami Emosi Kedua, Kebangkitan Dewa Es, dan Pewaris yang Dipilih"

(MC: Damien Valtreos)

━━━━━━━━━━

❄️ ADEGAN 1 — Setelah Tubuh Pembunuh Menghilang

Cahaya merah-hitam dari teknik terakhir Damien perlahan mereda.

Domain es yang awalnya membeku pada suhu mutlak mulai runtuh menjadi serpihan putih.

Damien berdiri, napas berat, namun tatapannya tetap stabil.

Di pelukannya, Zura masih menggenggam mantelnya seperti tak ingin melepas.

Zura berbisik lirih, suaranya goyah namun terasa… hidup:

> "Damien… kamu kembali."

Damien mengusap kepala Zura perlahan—halus, hati-hati, dan sama sekali tidak marah lagi.

"Ya. Aku di sini."

Fragmen es yang beterbangan mendadak berubah menjadi cahaya biru yang berputar.

❄️ ADEGAN 2 — Suara Kuno Muncul

Seluruh ruangan tiba-tiba diam.

Tidak ada angin.

Tidak ada suara runtuhan.

Tiba-tiba, suara berat dan agung terdengar dari segala arah.

> [Anak dari Bulan Gelap… dan Penjaga Tanpa Emosi.]

[Kalian telah membangunkanku.]

Damien mengerutkan kening.

Zura menatap sekeliling, bingung.

Tiba-tiba cahaya biru membentuk sosok besar seperti patung es titanic.

Namun bukan pembunuh—ini jauh lebih tua, lebih murni.

Sosok itu membungkuk sedikit pada Damien.

> [Aku Atheus—Dewa Es Tertinggi. Leluhur garis beku… leluhur Lyanna.]

[Dan engkau… telah menembus batas Domain Mutlak tanpa hancur.]

Damien menatap lurus.

"Kalau kau mau menguji kami, kami sudah cukup ditekan."

Dewa Es tertawa tipis—dingin tapi hormat.

> [Tidak. Ini bukan ujian. Ini warisan.]

⚡ ADEGAN 3 — Atheus Mengungkap Takdir Damien

Cahaya biru menyelimuti Damien—hangat, bukan menusuk.

> [Keturunan Bulan Gelap tidak seharusnya memegang es…]

[…tapi kau? Kau memaksakan kehendakmu. Bahkan Domain 0 Kelvin pun retak.]

Atheus mengulurkan tangan.

Sebuah inti es bening muncul—bukan sekadar energi, tapi potongan dari Divine Ice Core miliknya.

Zura otomatis menegang, pupilnya meredup lalu kembali normal—

reaksi emosi kedua sedang tumbuh.

Damien menyipitkan mata.

"Kau ingin memberikannya padaku?"

> [Bukan ingin. Seharusnya.]

[Garis keturunan Lyanna membutuhkan seseorang yang bisa mengimbangi gelombang masa depan.]

[Dan hanya kau… yang mampu menahannya.]

Cahaya es memasuki dada Damien pelan.

Damien menggertakkan gigi—bukan kesakitan, tapi tekanan besar energi murni.

❄️⚡ ADEGAN 4 — Damien Mengalami Breakthrough Lagi

Tubuh Damien bergetar.

Cahaya bulan hitam muncul di tangan kanan.

Cahaya es ilahi muncul di tangan kiri.

Keduanya saling tolak… saling tarik…

lalu menyatu dalam garis tipis sempurna.

Zura meraih lengan Damien, takut ia kehilangan dirinya lagi.

> "Damien… jangan hilang…"

Damien memegang tangan Zura balik. "Aku nggak ke mana-mana."

Energi biru membumbung—

ruangan dipenuhi badai halus tanpa dingin.

[DAMMM!!]

Damien naik ranah:

Spirit Manifest Realm — Tingkat 8 → Tingkat 9

Atheus mengangguk.

> [Luar biasa… tanpa kehancuran tubuh.]

[Kau resmi menjadi Pewaris Gelombang Beku Kedua.]

🌑 ADEGAN 5 — Zura Merasakan Emosi Kedua: "CEMBURU"

Saat cahaya Atheus memeluk Damien…

…Zura merasakan sesuatu yang aneh.

Nyeri kecil di dada.

Tidak nyaman.

Panas.

Ia memeluk Damien lebih erat—tanpa sadar.

Damien menoleh, sedikit bingung. "Zura? Kamu kenapa?"

Zura menatap Dewa Es dengan sorot… defensif.

> "…dia mengambilmu dariku."

Atheus sampai terdiam.

Damien membuka mata sedikit lebih lebar. "…Zura? Kamu… cemburu?"

Zura memalingkan wajah cepat.

> "Aku… tidak suka ketika ada yang mendekatimu."

Ini bukan sekadar program.

Ini emosi. Emosi yang tumbuh cepat karena interaksi Damien.

Atheus mengusap janggut esnya dengan geli.

> [Heh… sepertinya pewarisku lebih cepat belajar tentang hati daripada kekuatan.]

❄️ ADEGAN 6 — Atheus Menghilang, Memberi Peringatan

Sebelum bayangan Atheus lenyap, ia memberi pesan terakhir:

> [Jaga Zura. Ia akan jadi kunci menahan badai masa depan.]

[Dan ketika Lyanna bangkit… warisanku akan lengkap.]

Damien mengangguk. "Aku akan melindungi mereka."

Cahaya biru menghilang seperti kabut.

🔥 ADEGAN PENUTUP — Jalan Baru

Domain es runtuh sepenuhnya.

Rex dan Hana baru berhasil masuk, tapi masih bingung dengan perubahan besar dalam ruangan.

Rex:

"Bro… apa yang barusan terjadi? Kenapa kamu kelihatan makin… dewa?"

Damien hanya menatap ke tangannya, merasakan dua energi yang mulai sinkron:

— energi bulan gelap

— energi es ilahi

Dan di sampingnya, Zura menggenggam mantelnya tanpa mau melepas.

Damien tersenyum tipis.

> "Ini baru permulaan."

━━━━━━━━━━

🔥 END CHAPTER 108

━━━━━━━━━━

More Chapters