━━━━━━━━━━━━━━━━━━
🔥 CHAPTER 118 — "Fragmen Zura, Pemburu Gelombang Pertama, & Teknik Penyatuan Lunar"
(MC: Damien Valtreos)
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
🌑 ADEGAN 1 — Detik-Detik Retaknya Zura
Damien masih memegang tubuh Zura yang retak, tubuhnya bergetar—bukan karena takut, tapi marah dan tidak terima.
Retakan di dada Zura menyala redup seperti kaca yang dipaksa bertahan.
Zura dengan suara lemah: "Tuan Damien… mohon jangan… menyalahkan diri Anda…"
Damien menggeleng pelan. "Aku yang seharusnya melindungimu."
Zura mengangkat satu tangan… yang hampir tidak utuh. "Tuan Damien selalu… melindungi saya. Bahkan hari ini."
Fragmen kecil dari bahunya jatuh dan lenyap seperti pasir cahaya.
Rex menutup mulut, pucat. "Bro… kalau dia retak lagi… dia beneran hilang."
Hana menggigit bibir, matanya merah. "Kita… kita harus lakukan sesuatu…"
---
❄️ ADEGAN 2 — Jejak Pemburu Pertama Terdengar
Suasana hening.
Damien memiringkan kepala sedikit. "…ada yang datang."
Rex panik: "APA?? Itu si es sialan balik lagi?!"
Damien: "Bukan. Kekuatan mereka jauh… lebih lemah dari Aurelius. Tapi tetap berbahaya."
Hana menghunus pedang. "Pemburu pertama?"
Damien mengangguk. "Aurelius bilang dia akan mengirim pemburu setiap malam… tapi dia bohong."
Damien berdiri sambil membawa Zura dengan sangat hati-hati.
"…dia kirim yang pertama bahkan sebelum napas Zura berhenti."
BRUK—
Suara sesuatu jatuh di luar gua.
Rex: "Bro, itu kayak… manusia?"
Damien: "Bukan. Itu pemburu bayangan kelas rendah. Mereka bergerak dengan aroma es Aurelius."
---
🌘 ADEGAN 3 — Munculnya Pemburu Bayangan Kelas Rendah
Tiga sosok kurus, bermata putih tanpa pupil, muncul merangkak dari kegelapan.
Mereka mengeluarkan suara lirih seperti angin dingin terjepit.
Pemburu 1: "…lunar… target…"
Pemburu 2: "…serahkan fragmen…"
Pemburu 3: "…mati perlahan…"
Rex: "BROOO aku benci cara ngomong mereka!!"
Hana: "Fokus! Mereka bukan sekadar zombie!"
---
🌕 ADEGAN 4 — Damien Bergerak Dengan Waktu Terbatas
Damien meletakkan Zura perlahan di balik batu pelindung.
"Zura… tunggu sebentar. Aku akan kembali."
Zura mengangguk—walau kepalanya sendiri hampir retak. "Baik… Tuan Damien…"
Damien berdiri.
Aura merah-peraknya masih ada, tidak mengamuk, tapi berdenyut seperti jantung kedua.
Hana: "Kau yakin bisa bertarung dalam kondisi segini?!"
Damien: "Tidak."
Rex: "Hah?!"
Damien menatap dua pemburunya. "Aku hanya butuh teknik yang… belum pernah kugunakan."
Pemburu 1 melompat.
Damien menggerakkan tangan— bukan untuk memotong, tapi membuat lingkaran sederhana di udara.
Cahaya lunar mengalir ke ujung jarinya…
"Lunar Fragment Unification — Stage 1."
Sekeliling Damien bergetar.
Rex: "BRO?? Itu teknik apa?!"
Damien menjelaskan cepat: "Teknik untuk menyatukan pecahan energi lunar—biasanya dipakai untuk memperbaiki senjata atau ruang patah."
Hana: "Kau mau… pakai itu ke Zura?!"
Damien: "Ya. Tapi sebelum itu… aku harus menyingkirkan mereka dulu."
---
💥 ADEGAN 5 — Pertarungan: Damien Tidak Kuat, Tapi Cerdas
Pemburu 1 menebas dengan tangan seperti tulang beku.
Damien menghindar tipis, lalu menusukkan dua jari ke titik lemah.
TING— Pemburu itu terpental, bukan mati, tapi kaku.
Damien: "Energi mereka dipaksa hidup oleh jejak es. Ganggu pusat alirannya… mereka lumpuh."
Pemburu 2 mencoba menyerang dari belakang.
Rex: "DAMIEEEN!!"
Damien tidak berbalik.
Ia hanya mengetuk tanah satu kali.
Satu garis petir tipis menjalar dan mengenai kaki pemburu itu.
ZRAK— Pemburu itu jatuh ke tanah.
Hana: "Seranganmu… hemat banget."
Damien: "Aku tidak boleh boros. Zura butuh semua energi lunar yang kusimpan."
---
🌑 ADEGAN 6 — Pemburu Ketiga Muncul Dalam Bentuk Besar
Pemburu ketiga tubuhnya berubah lebih besar, seperti dua kali ukuran semula.
Rex: "AH SIAL BROOO YANG INI EVOLUSI???"
Hana: "Kayaknya dia kelas menengah!"
Pemburu itu mengangkat kedua tangannya: "…fragmen… lunar…"
Damien menatapnya tanpa ekspresi.
"Kalau kau mau fragmen lunar… coba ambil."
Pemburu gergasi itu menyerang.
Damien menekankan kaki di tanah—
dan memfokuskan semua cahaya lunar yang ia punya ke satu titik di telapak tangan.
"Crescent Break — Half Moon."
BUUUUM—
Serangan itu bukan ledakan, bukan cahaya besar, hanya hantaman seperti palu bulan.
Tapi cukup untuk menghancurkan kepala pemburu itu menjadi asap putih.
Rex: "BRO… itu keliatan simpel tapi gila!"
Hana terdiam kagum. Ia melihat tangan Damien bergetar.
Hana: "Kau… memaksa teknik itu ya?"
Damien tidak menjawab. Ia hanya memungut kembali tubuh Zura.
---
🌘 ADEGAN 7 — Damien Memulai Teknik Penyatuan Lunar
Damien duduk bersila.
Zura terbaring di pangkuannya.
Damien mengambil napas dalam. "Kau dengar aku, Zura? Teknik ini belum pernah kupakai ke… makhluk hidup."
Zura tersenyum lembut walau wajahnya retak. "Saya… percaya pada Anda."
Cahaya merah-perak mengalir keluar dari tangan Damien.
Lingkaran halus muncul di bawah Zura— seperti bulan sabit yang mencoba melindungi bintang kecil.
Rex dan Hana berdiri menjaga pintu gua.
Hana: "Gimana kalau pemburu lainnya datang?"
Rex menegaskan: "Kalau mereka datang… kita yang tahan."
Hana menatap Damien yang fokus, wajahnya bersinar cahaya lunar.
Hana berbisik: "Damien… selamatkan dia…"
---
🌕 ADEGAN TERAKHIR — Fragmen Lunar Mulai Masuk Ke Tubuh Zura
Cahaya Damien masuk perlahan ke retakan tubuh Zura…
membuat pecahannya berhenti runtuh.
Zura terkejut. "T-Tuan Damien… ini… hangat…"
Damien tersenyum kecil. "Tahan. Jangan hilang."
Fragmen lunar menari seperti serpihan bulan yang kembali ke bentuknya.
Namun…
Tiba-tiba seluruh gua bergetar.
Rex panik: "BROOOO!! ADA AURA GEDE BANGET DATANG!!"
Hana mencabut pedangnya. "Itu bukan pemburu rendah! Ini… kelas tinggi!"
Damien tidak buka mata. "…tahan mereka. Aku belum selesai."
Rex & Hana saling pandang—
dan bersiap mati-matian.
---
🔥 END CHAPTER 118
