LightReader

Chapter 9 - Sayur Keliling: Dari Jurang Keputusasaan Menuju Puncak Kemakmuran

https://heylink.me/m9wins[1]

Pendahuluan: Bayang-Bayang Hutang

Di tengah hiruk-pikuk kota Jakarta yang tak pernah tidur, terdapat seorang pria biasa bernama Budi Santoso. Usianya 35 tahun, tapi beban hidup telah mengukir garis-garis penderitaan di wajahnya yang dulunya cerah. Setiap fajar menyingsing, sebelum ayam berkokok, Budi sudah bangun.

Ia memuat gerobak sepedanya dengan tumpukan sayur segar: bayam hijau yang menggoda, kangkung renyah, tomat merah menyala, dan cabai pedas yang seperti api neraka—mirip dengan hidupnya sendiri. "Sayur murah! Segar dari pasar!" teriaknya dengan suara serak, sambil mengayuh sepeda tuanya melalui labirin gang sempit di kawasan Tanah Abang yang kumuh.

Budi bukanlah pahlawan dalam dongeng. Ia hanyalah seorang ayah yang berjuang untuk istri tercintanya, Siti, dan dua anak kecil mereka, Rina yang berusia 7 tahun dan Andi yang baru 4 tahun. Dulu, sebelum pandemi melanda seperti badai dahsyat, Budi punya kios kecil di pasar.

Tapi virus itu merenggut segalanya: pembeli hilang, stok busuk, dan hutang menumpuk. Untuk bertahan, ia meminjam dari rentenir kejam, Pak Haji, seorang pria tua dengan mata tajam seperti pisau dan preman-preman yang siap menghancurkan siapa saja yang telat bayar.

"Ingat, Budi! Bunga berjalan setiap hari. Kalau nggak bayar, keluargamu yang tanggung!" ancam Pak Haji sambil menyeringai, tangannya memukul-mukul meja kayu reyot di rumah Budi.

Bukan hanya rentenir, Budi juga terjerat jerat digital: pinjaman online dari aplikasi-aplikasi licik yang menjanjikan "cair dalam 5 menit".

Bunga mencekik lehernya seperti ular berbisa, dan setiap hari ponselnya berdering seperti lonceng kematian: "Pembayaran jatuh tempo! Bayar sekarang atau data pribadimu kami sebar ke semua kontakmu!"

Ancaman itu bukan omong kosong—suatu kali, foto keluarganya tersebar di grup tetangga, membuat Siti menangis tersedu-sedu. "Kenapa hidup kita begini, Mas?" isak Siti sambil memeluk anak-anak yang ketakutan.

Budi merasa seperti tikus dalam perangkap. Ia berjualan dari subuh hingga larut malam, keringat bercucuran bercampur air mata yang tak terlihat.

Tapi pendapatan harian hanya cukup untuk nasi seadanya dan obat batuk untuk Andi yang sering sakit. Hutang seperti monster yang tumbuh semakin besar, menggerogoti mimpinya untuk masa depan yang lebih baik.

-----

Bab 1: Ancaman yang Mengintai

Suatu pagi hujan deras, Budi sedang berjualan di bawah payung plastik robek ketika Pak Haji datang dengan dua preman berbadan besar.

"Mana uangku, Budi? Sudah dua minggu telat!" bentak Pak Haji, suaranya menggelegar melebihi petir.

Preman-preman itu merampas gerobaknya, membuang sayur-sayuran ke tanah berlumpur.

Warga sekitar hanya memandang dari kejauhan, tak berani campur tangan. Budi berlutut, memohon, "Kasih waktu lagi, Pak! Anak saya sakit, saya janji bayar besok!"

Tapi Pak Haji tak peduli. Ia menampar Budi di depan mata anak-anak yang kebetulan lewat dari sekolah.

"Besok pagi, kalau nggak ada uang, rumahmu aku bakar!" ancamnya sebelum pergi. Malam itu, Budi duduk di teras rumah reyotnya, memandang langit gelap.

Siti memeluknya dari belakang, air matanya membasahi bahu Budi. "Kita harus kuat, Mas. Tapi bagaimana? Pinjol juga nggak berhenti nagih. Mereka bilang mau datang ke sini."

Budi merasa dunia runtuh. Ia ingat masa kecilnya di desa, ketika ayahnya mengajarinya berjualan sayur dengan jujur.

"Kerja keras itu kunci, Nak," kata ayahnya dulu. Tapi sekarang, kerja keras saja tak cukup. Ia butuh keajaiban.

-----

Bab 2: Bisikan Keberuntungan

Di warung kopi pinggir jalan, tempat Budi sering istirahat, ia mendengar obrolan dua pemuda yang seperti cahaya di kegelapan.

"Bro, lo harus coba M9WIN! Situs slot online, depo cuma 20 ribu, bonus new member 50%! Server Thailand, anti blokir. Gue kemarin menang 5 juta dari scatter!" kata salah satunya sambil menunjukkan screenshot jackpot di ponsel. Budi mencuri dengar, hatinya berdegup. "M9WIN," gumamnya, mencatat nama itu di secarik kertas bekas.

Malam itu, setelah anak-anak tidur, Budi membuka ponsel tuanya. Situs itu muncul dengan desain mewah: gambar Zeus dengan petir emas, naga berkilauan, dan wanita cantik dikelilingi koin.

"Daftar sekarang, raih keberuntunganmu!" tulisnya. Dengan tangan gemetar, Budi mendaftar. Depo pertama: 20 ribu dari sisa jualan. Putaran pertama, kalah. Kedua, kalah lagi. "Bodoh aku," pikirnya, hampir menyerah.

Tapi di putaran ketiga, simbol scatter berjajar! Koin virtual berhamburan, suara musik kemenangan membahana. Ia menang 100 ribu—cukup untuk bayar cicilan pinjol minggu itu.

"Ini... ini nyata!" seru Budi dalam hati, adrenalin memompa. Esok harinya, ia main lagi. Bonus deposit datang, membuat modal bertambah. Tapi judi seperti api: hangat di awal, membakar di akhir.

Rentenir tetap mengejar. Suatu malam, preman Pak Haji datang ke rumah, memecah jendela dan mengancam Siti.

"Mana suamimu? Bayar hutang atau kami ambil anakmu!" teriak mereka. Budi pulang tepat waktu, bertarung dengan preman itu meski tubuhnya lemah. Ia babak belur, tapi berhasil mengusir mereka. "Aku harus menang besar," tekadnya, kembali ke M9WIN.

-----

Bab 3: Jurang Keputusasaan

Ketagihan makin parah. Budi main setiap malam, mata merah karena kurang tidur. Ia bergabung dengan VIP Club di M9WIN setelah turnover tinggi, mendapat bonus cashback dan gaspol turnover.

Tapi kekalahan datang bertubi-tubi. Suatu hari, ia kalah 500 ribu—uang untuk beli stok sayur. Gerobak kosong, pembeli kecewa. Siti marah besar:

"Kau janji ini terakhir, Mas! Kita hampir kelaparan karena ini!" Mereka bertengkar hebat, Siti mengancam pergi bawa anak-anak.

Budi jatuh ke titik terendah. Ia duduk di atap rumah, memandang kota yang gemerlap tapi kejam.

"Tuhan, beri aku satu kesempatan lagi," doanya.

Malam itu, dengan sisa uang terakhir, ia main slot tema epik: Zeus melawan naga emas. Putaran demi putaran, hatinya seperti di ujung pisau.

Tiba-tiba, efek sobekan di layar—seolah dunia terbelah. Scatter berlipat ganda, petir Zeus menyambar, naga mengaum!

Jackpot progresif! Layar bergetar hebat, koin emas memenuhi ponsel. Budi menang 750 juta rupiah! Ia terduduk, air mata mengalir. "Ini... keajaiban!" bisiknya. Uang cair ke rekeningnya dalam hitungan jam.

-----

Bab 4: Kebangkitan Sang Juragan

Pertama, Budi lunasi hutang rentenir. Pak Haji terbelalak: "Dari mana uang ini? Lo curi?" Budi tersenyum dingin, "Rezeki halal, Pak."

Pinjol juga dilunasi, ancaman sirna.

Sisanya, ia investasikan bijak: beli tanah untuk toko sayur besar, impor sayur organik, dan rekrut karyawan.

Tokonya, "Makmur Sayur Budi", jadi hits di Jakarta. Dengan desain modern, pendingin canggih, dan pengiriman online, pembeli berdatangan dari kalangan atas.

Siti bahagia, anak-anak sekolah di tempat bagus. Ia bahkan bantu tetangga yang terjerat hutang, beri pinjaman tanpa bunga. "Judi bisa beri keberuntungan sesaat, tapi kerja keras dan iman yang bikin abadi," nasihatnya.

Kini, Budi berdiri di depan tokonya yang megah, memandang gerobak lamanya yang dipajang sebagai kenangan. Dari penjual keliling yang dikejar hutang, ia jadi juragan sayur sukses. Hidup seperti sayur segar: butuh hujan deras untuk tumbuh, tapi akhirnya berbuah manis.

#m9win #novelm9win

[1] Link untuk bermain

More Chapters