LightReader

Chapter 82 - Bab: Pelukan yang Tidak Pernah Hina Bayangkan

Di sisi lain koridor, langkah Ravien dan Hina sudah menjauh.

Hina masih memeluk ponselnya yang hancur di dada. Layar yang retak dan bodi yang remuk seperti simbol semua hal yang mudah hilang dari hidupnya.

Kepalanya tertunduk, bahunya bergetar pelan. Butiran air mata masih jatuh, menodai punggung tangan yang memegang erat sisa benda berharga itu.

Hina (dalam hati): 

Ponsel pertama yang kubeli sendiri… dari kerja sambilan…

Kenapa… bahkan yang kecil seperti ini pun harus hilang…?

Ravien melirik ke samping. Ia tidak tahan melihat gadis di sebelahnya berjalan dengan tatapan kosong begitu.

Tanpa banyak kata, ia berhenti, memutar tubuh Hina menghadap dirinya, dan meletakkan kedua tangannya di pundak Hina. Lalu—menariknya ke dalam pelukan.

Jemari Ravien di pundaknya tidak menekan keras—hanya cukup untuk menahan gemetar itu berhenti.

Napas Hina tersangkut, lalu pelan-pelan turun.

Dada Hina menghantam pelan dada Ravien.

Ponsel di tangannya terjepit di antara mereka.

Ravien : "Berhenti menangis."

Suara itu pelan, tapi tegas, dekat sekali di telinga Hina.

Ravien : "Ada aku di sini. Soal ponsel, kita urus nanti.

Sekarang… fokus saja pada lomba."

Hina tertegun.

Ia bisa merasakan hangat tubuh Ravien, detak jantungnya, juga aroma samar sabun dari seragamnya yang bersih.

Pipi Hina memanas.

Hina (dalam hati, panik dan hangat bercampur):

Dipeluk…? Di… dekap beneran…?

Kenapa… rasanya nyaman sekali…?

Wanita-ku… tadi dia bilang begitu juga… Apa benar… aku bisa mendapatkan cinta… untuk kali ini…?

Ravien tidak menambah kata-kata. Ia hanya menahan Hina beberapa detik lagi, lalu perlahan mengendurkan pelukan.

Ravien : "Kalau kau jalan sambil menangis, semua orang akan bertanya kepadaku. Dan itu menyebalkan."

Cara ngomongnya tetap sombong, tapi justru itu yang membuat Hina ingin tertawa di tengah sedihnya. Ia mengusap cepat sudut matanya.

Hina : "Te… terima kasih…"

Mereka kembali berjalan.

Kali ini, meskipun masih memegang ponsel rusak di dada, langkah Hina terasa sedikit lebih ringan.

Tatapan Kaget di Area Lomba

Area lomba dipenuhi murid-murid dari kedua sekolah. Stand makanan berderet di pinggir, spanduk perlombaan terpasang tinggi, dan para peserta sudah mulai berkumpul sesuai kategori mereka.

Airi adalah yang pertama melihat mereka datang.

Airi : "Ah, itu mereka!—"

Suara Airi tercekat di tenggorokan.

Rei, Riku, dan Rika yang berdiri bersamanya ikut menoleh… dan mendapati pemandangan yang tidak pernah terlintas di kepala mereka:

Hina berjalan sangat dekat dengan Ravien, masih memeluk ponsel rusak, dan posisi mereka jelas baru saja… sangat dekat. Sisa kemerahan di mata Hina dan jarak di antara mereka membuat atmosfer di sekitar keduanya terasa berbeda.

Airi refleks mengangkat alis, senyum nakal mulai terbentuk.

Riku menyikut pelan pinggang Rika.

Riku : "Hmm, hmm~"

Begitu mereka benar-benar sampai di depan kelompok itu, Riku langsung menyerang dengan godaan pertama.

Riku : "Auramu beda hari ini."

"Kayaknya ada yang habis dihibur, ya?"

Hina langsung terlonjak kecil, refleks menjauhkan kepala yang tadinya masih sedikit condong ke arah Ravien. Pipinya memerah, dan ia mengangkat kedua tangannya panik.

Hina : "Ti—tidak seperti itu! Kalian jangan mikir aneh-aneh…!"

Rei dan Airi saling pandang, senyum menahan tawa.

Rika menatap tajam ke arah Ravien, lalu menoleh ke Hina. Tatapannya bukan benci, tapi jelas protektif.

Rika : "Hina, kenapa lama sekali? Dan matamu itu… seperti habis menangis.

Ravien, kau… tidak melakukan sesuatu padanya, kan?"

Nada Rika sedikit tinggi.

Rika: "Apa kau yang buat Hina menangis, aku nggak peduli demon atau bukan."

Ravien baru hendak menyahut dengan komentar pedas, tapi Hina cepat-cepat melangkah setengah langkah ke depan, mengangkat tangan seperti menahan.

Hina : "Bukan, bukan Ravien yang bikin aku sedih!

Aku yang salah… tadi aku nabrak seseorang karena lihat ponsel… terus ponselku diinjak sampai hancur…"

Ia menunduk sebentar, lalu mengangkat ponsel retaknya sebagai bukti.

Hina : "Ravien malah… menolongku."

Ia tidak menyebut soal "wanita ku".

Bagian itu disimpan rapat untuk hatinya sendiri.

Riku menghela napas panjang, ekspresi ikut kesal.

Riku : "Serius ada yang sejahat itu?

Yah… soal ponsel, jangan terlalu dipikirin. Nanti biar aku yang belikan."

Hina langsung menggeleng kuat.

Hina : "Tidak perlu! Ponsel itu… aku beli dari kerja sambilan.

Kalau tiba-tiba diganti begitu saja… rasanya kayak aku memanfaatkan kalian."

Riku terdiam sebentar, lalu tersenyum lembut.

Riku : "Baik, kalau begitu aku tidak akan memaksa.

Tapi kalau suatu saat butuh bantuan… bilang saja."

Hina mengangguk pelan, matanya sedikit berkaca-kaca lagi—tapi kali ini karena terharu, bukan terluka.

Airi melirik Ravien sambil menyipitkan mata, lalu tersenyum kecil.

Airi (dalam hati):

Jadi kamu yang marah untuk Hina ya… demon sombong.

Baguslah.

Rika mendengus pelan, tapi bukan karena membenci Ravien—lebih karena kesal kepada orang yang berani menginjak barang milik sahabatnya.

Rika : "Ya sudah, yang penting kamu baik-baik saja, Hina."

Setelah suasana sedikit mereda, panitia memanggil para peserta untuk bersiap.

Panitia :

"Peserta lomba akademik dan non-akademik, harap menuju area masing-masing."

Mereka mulai berpencar sesuai cabang lomba.

Hina menoleh sebentar ke arah Ravien.

Hina : "Maaf ya, Ravien… kalau teman-temanku tadi terlalu kaget.

Dan… terima kasih, sudah menolongku."

Ia membungkuk sedikit, tulus.

Ravien menatapnya, menghela napas kecil, seolah semua ini terlalu merepotkan tapi… ia sudah terlanjur masuk terlalu dalam.

Ravien : "Hn. Jangan jatuhkan ponsel di depan orang bodoh lagi."

Itu saja yang ia katakan sebelum berbalik dan berjalan ke area persiapan lomba, tangan di saku, ekspresinya kembali datar seperti biasa.

Namun, ia tidak punya ponsel utuh lagi—tapi ia membawa pulang sesuatu yang lebih sulit ia jelaskan.

Hina (dalam hati): Terima kasih… Ravien.

More Chapters