LightReader

Chapter 140 - Bab 140: “Cincin yang Jatuh” — Sisi Mina

Keesokan harinya, Mina tetap datang ke sekolah.

Seragamnya rapi. Rambutnya tertata. Langkahnya juga terlihat tenang.

Tapi begitu ia sampai di depan pintu kelas… semua mata mengarah padanya.

Tidak ada sapaan. Tidak ada senyum.

Seolah kehadirannya sendiri sudah cukup untuk merusak pagi orang lain.

Mina menahan napas, lalu berjalan masuk tanpa protes.

Mina (dalam hati):

…Hidup menyedihkan ini dimulai lagi…

Tapi tidak apa… aku sudah memilih jalan ini.

Ia duduk di kursinya, menatap papan tulis yang masih kosong.

Lalu tanpa sadar, matanya melirik ke bangku di belakang.

Bangku Hayato. Masih kosong.

Ada rasa aneh yang muncul—bukan rindu, bukan khawatir.

Lebih seperti… tenang.

Karena untuk pertama kalinya, Mina tidak harus melihat bayangan "pengawasan" di belakangnya.

Bel masuk berbunyi.

Guru masuk.

Pelajaran berjalan seperti biasa, tapi Mina seperti hanya mendengar suara dari jauh. Ia mencatat. Ia menjawab seperlunya. Ia bertahan.

Waktu Istirahat

Bel istirahat berbunyi. Murid-murid bubar keluar kelas, menuju kantin, lapangan, atau koridor.

Mina tetap di dalam kelas.

Ia membuka bekal dari rumah—masakan ibunya. Ia makan pelan, menunduk, tidak ingin menarik perhatian.

Namun beberapa pasang langkah kaki mendekat.

Beberapa siswi berhenti di depan mejanya.

Siswi 1:

"Hayato mana?"

"Kenapa kamu tidak nempel sama dia seperti biasa?"

Siswi 2 menyeringai, menambah racun.

Siswi 2:

"Atau… kamu sudah dicampakkan?"

"Kayak kamu mencampakkan Rei dulu?"

Nama itu… membuat tangan Mina berhenti.

Sendoknya menggantung di udara.

Dadanya terasa sesak.

Tapi Mina menunduk dan memaksa dirinya melanjutkan makan, seolah tidak mendengar.

Siswi 3:

"Apa kalian tahu?"

"Aku lihat Rei kemarin waktu lomba."

"Dia beda… lebih tampan… dan rambutnya diikat."

"Aku jadi kangen yang dulu."

Siswi 1 menatap Mina tajam.

Siswi 1:

"Jadi kamu sudah lihat Rei, kan?"

"Sudah minta maaf belum?"

Siswi 2 tertawa kecil, sinis.

Siswi 2:

"Ngapain tanya gitu?"

"Rei bahkan tidak ngelirik dia."

"Dingin."

Siswi 1 menaikkan suara—cukup keras agar anak-anak lain di kelas dan koridor bisa mendengar.

Siswi 1:

"Itu balasan buat kamu."

"Kamu hancurin orang yang tulus."

"Dan jangan kira menang lomba bikin kami lupa!"

"Selama ini kamu cuma bersembunyi di bayangan Hayato."

Mina menutup matanya sebentar.

Mencoba untuk sabar dan menahan semuanya.

Namun kata-kata itu terus menekan.

Siswi 1:

"Kalau kamu benar-benar menyesal… kenapa kamu diam?"

"Itu artinya kamu tidak menyesal sama sekali."

Mina akhirnya meletakkan sendok.

Pelan… tapi jelas.

Mina:

"Kalian… tahu apa tentang hidupku?"

Suasana sedikit hening.

Mina menatap mereka—matanya basah, tapi suaranya menahan.

Mina:

"Yang kalian tahu cuma aku bersalah pada Rei."

"Dan ya… aku memang bersalah."

"Aku juga tahu Rei mungkin tidak akan memaafkanku."

Ia menunduk, menahan gemetar di bibir.

Mina:

"Tapi kalian tidak tahu beban apa yang kupikul."

"Kalian tidak tahu apa yang aku… korbankan."

"Kalian cuma melihat perbuatan paling burukku… tanpa melihat kenapa aku berbuat seperti itu."

Siswi 1 tidak melunak.

Siswi 1:

"Kalau kamu sadar itu salah, harusnya dari awal kamu tidak lakukan."

"Tapi kamu lakukan, berarti kamu egois."

Kalimat itu menghantam.

Dan Mina… akhirnya pecah.

Mina berdiri.

Suaranya naik—campuran sedih dan amarah yang sudah terlalu lama dipendam.

Mina:

"Aku menerima Hayato… karena aku harus melindungi keluargaku!"

"Dan aku menerima Rei… karena aku benar-benar mencintainya!"

Kelas membeku.

Nama Rei terdengar jelas di ruangan itu, seolah membuka luka yang semua orang suka lihat tapi tidak mau sentuh.

Mina:

"Perasaan itu… masih ada sampai sekarang."

"Tapi aku tidak bisa bilang!"

"Aku tidak ingin Rei dimiliki siapa pun waktu itu—"

Siswi 1 mendengus.

Siswi 1:

"Nah, benarkan?"

"Kau itu sangat egois."

Sesuatu di dalam diri Mina seperti putus.

Bukan kesabaran—melainkan tali terakhir yang menahan semua luka itu tetap diam.

Tangan Mina bergerak—

PLAK—!

Ia menampar siswi itu.

Teriakan kecil muncul. Kursi bergeser. Beberapa murid kaget berdiri.

Siswi itu menatap Mina dengan mata membara—lalu balas menampar.

PLAK—!

Siswi 1:

"Ini bukti kamu memang egois!"

"Dan kebodohanmu bikin Rei jadi seperti sekarang!"

Mina berusaha menyerang lagi.

Namun orang-orang menahan Mina dan siswi 1.

Siswi 1 berteriak, suaranya tajam seperti kutukan.

Siswi 1:

"Lebih baik kamu mati saja, Mina!"

"Kamu tidak pantas hidup!"

"Kalau bukan karena Hayato, kamu bukan siapa-siapa!"

Mina terdiam.

Kata-kata itu menancap.

Lalu Mina menoleh pada orang-orang yang menahannya.

Mina:

"Lepaskan aku."

Mereka ragu.

Mina mengulang, lebih dingin.

Mina:

"Lepaskan. Aku tidak akan menyerang."

Akhirnya mereka melepas.

Mina berjalan kembali ke mejanya.

Tidak tergesa.

Tidak panik.

Ia memasukkan buku-buku ke tas, merapikan perlengkapannya.

Lalu Mina berhenti di depan siswi yang barusan berkelahi dengannya.

Semua orang menahan napas.

Mina mengangkat tangan—seakan mau menampar lagi.

Beberapa murid hendak menahan… tapi Mina tidak menyerang.

Ia hanya mengangkat tangan ke jarinya.

Mina menarik cincin itu pelan dari jarinya, lalu membiarkannya jatuh ke lantai kelas.

Tek.

Bunyi kecil itu terdengar lebih keras daripada teriakan siapa pun di ruangan itu.

Mina menatap siswi itu lurus.

Mina:

"Aku tidak butuh Hayato untuk hidup."

"Dan aku sudah tidak bertunangan dengannya."

Hening.

Mina melanjutkan, suaranya bergetar tapi tegas:

Mina:

"Dan kalau kamu mau aku mati… itu bukan sekarang."

"Karena Rei belum memaafkanku."

"Dan aku belum meminta maaf padanya."

Lalu Mina pergi.

Tak ada yang mengejar.

Tak ada yang menahan.

Mereka hanya menatap punggungnya… seperti baru sadar Mina bukan lagi "gadis yang bisa diinjak" tanpa batas.

—Telepon dari Ayah Hayato

Di perjalanan pulang, Mina menunduk, pikirannya kacau.

Mina (dalam hati):

Apa ini benar… keputusan yang tepat?

Atau aku baru saja membuat bencana baru…?

Ponselnya bergetar.

Ayah Hayato.

Mina menahan kesal, tapi tetap mengangkat.

Ayah Hayato (telpon):

"Mina."

"Hayato sudah sadar."

"Dia mencari kamu."

"Datang sekarang."

Mina menjawab singkat, dingin:

Mina (telpon):

"Baik."

Telepon ditutup.

Mina langsung menelepon ayahnya sendiri.

Ayah Mina mengangkat cepat, seolah sudah menunggu kabar.

Mina (telpon):

"Ayah… Hayato sudah sadar."

"Keluarganya memanggil Mina ke rumah sakit."

"Mina akan akhiri hari ini juga."

Ayah Mina menghela napas berat.

Ayah (telpon):

"Baik."

"Kalau kamu sungguh mau mengakhiri pertunangan ini… ayah dukung."

"Ayah sudah menjual sebagian aset perusahaan."

"Kalau kamu sudah mantap, kita selesaikan semuanya."

Mina menutup mata.

Mina (telpon):

"…Terima kasih, Yah."

Ayah (telpon):

"Kamu tidak sendirian, Mina."

Telepon ditutup.

Mina memanggil taksi menuju rumah sakit.

Di dalam taksi, ia menatap jendela—kota bergerak, tapi pikirannya tetap pada satu nama.

Mina (dalam hati):

Aku akan mengakhiri semuanya.

Aku akan menanggung risikonya… bahkan kalau kita kehilangan semuanya.

Dan Rei…

Tolong tunggu…

Aku harus minta maaf… sebelum aku benar-benar jatuh.

—Konfrontasi di Rumah Sakit

Setelah perjalanan yang terasa lebih panjang dari biasanya, Mina tiba di rumah sakit.

Dan menuju kamar Hayato untuk menyelesaikan semuanya.

Mina membuka pintu kamar Hayato.

Di dalam, Hayato sudah sadar. Wajahnya masih lemah, tapi matanya berbinar begitu melihat Mina.

Ibu Hayato sedang menyuapi makanan.

Ayah Hayato berdiri di dekat ranjang.

Hayato:

"Mina… kamu datang…"

Namun Mina tidak membalas senyumnya.

Ia langsung bicara—tegas, tanpa berputar.

Mina:

"Aku datang untuk mengakhiri pertunangan ini."

"Dan hutang yang keluarga kalian pinjamkan pada keluargaku… akan kami lunasi dalam beberapa hari setelah orang tuaku mengurusnya."

Wajah ayah Hayato mengeras mendengar itu.

Hayato membeku.

Hayato:

"…Hah?"

"Itu… bercanda, kan?"

Mina menatap Hayato lurus.

Mina:

"Tidak."

Hayato:

"Mina… kenapa…?"

"Untuk apa pengorbananku selama ini?"

"Aku melindungi kamu!"

Mina menarik napas.

Ada amarah yang tertahan bertahun-tahun, akhirnya keluar—tenang, tapi tajam.

Mina:

"Itu bukan perlindungan, Hayato."

"Itu keegoisanmu."

Ibu Hayato tersentak.

Mina melanjutkan, suaranya naik sedikit:

Mina:

"Kamu menyebut itu perlindungan."

"Bagiku, itu kurungan."

"Kamu tidak menjagaku, Hayato."

"Kamu hanya ingin memastikan aku tetap berada di tempat yang kamu tentukan."

"Sedari awal keluargamu sendiri tidak menyetujui pertunangan ini."

"Dan hidupku yang tadinya damai… hancur karena ini."

Hayato mencoba bangkit, kesakitan, marah.

Hayato:

"Kamu… kamu tidak tahu apa yang aku lakukan demi kamu!"

Mina:

"Aku tahu."

"Dan aku muak."

"Karena itu, aku tidak mau melanjutkan semua ini."

Ibu Hayato berdiri, wajahnya merah, hendak menampar Mina lagi.

Tapi Mina bergerak mengangkat tangannya lalu menahan tangan ibu Hayato dan berkata dingin:

Mina:

"Kalau anda menampar saya lagi… saya laporkan sebagai kekerasan."

"Buktinya jelas."

Ibu Hayato marah mendengar ancaman Mina.

Mina melepas cengkramannya dan menatap mereka bertiga—lalu menunduk singkat, seperti mengakhiri babak.

Mina:

"Urusan kita selesai."

Ia berbalik, berjalan keluar.

Saat Mina menutup pintu…

Ayah Hayato berkata dengan suara pelan tapi mengancam:

Ayah Hayato:

"Mina… kau ternyata jauh lebih berani daripada yang kukira."

"Keluargamu akan mendapat balasan atas kejadian ini."

"Dan akan lebih menyakitkan daripada kematian."

Mina berhenti sebentar.

Lalu menjawab tanpa menoleh:

Mina:

"Aku akan menantikannya."

Pintu tertutup.

Dan Mina berjalan meninggalkan rumah sakit, meninggalkan "hidup lama" yang selama ini menjeratnya.

More Chapters