LightReader

Chapter 5 - Pertemuan Perdana?

Waktunya Pulang!

Waktunya Pulang!

Waktunya Pulang!

Bel sekolah bergema, menandai akhir jam sekolah hari ini.

"Hari ini..... ADALAH HARI PERDANA AKU PULANG BERSAMA ADIKKU!!!" ,pikir Budi dalam hatinya dengan penuh gembira.

Merogoh sakunya

"Tak kusangka hari ini akan tiba juga. Lihat dia, (foto masa kecil Budi dan Cika) bukankah itu sangat manis?! Ya...aku memaksa, dia memang manis. Sekarang? Jangan kau tanya,....GILEE!!! Gacor gila!"

...

..

... "Ekhm..bukan berarti aku berahi atau hal negatif lainnya dengan adikku sendiri. Aku hanya takut kehilangan orang yang ku sayang lagi-"

"WOI BUD!", pundak Budi ditepuk oleh Girang, seketika menghancurkan lamunannya yang begitu dalam.

"Ngelamun gitu, Bud?"

"Huh..mana si Kanya?", tanya Budi sembari melihat sekeliling.

"Kanya?... Cie cie....nyariin ya? Beneran Pasutri nih?" <⁠(⁠ ̄⁠︶⁠ ̄⁠)⁠>, lagi dan lagi Girang menjahili Budi.

"Kau diam"

"Jadi....kau pulang bareng sama adikmu?"

"Terus kenapa, huh? Ga boleh?!", ucap Budi dengan sinis, membuat Girang sedikit merinding.

"Ya.... bukannya begitu. Inikan hari pertamanya, kau tau sendiri ultras sekolah kita se gaul itu? Tidakkah kau akan pulang dengannya?"

...

...

Budi menghentikan langkahnya

"Aku tahu itu, Lang. Hari ini, besok, lusa, Minggu depan, bulan depan, tahun depan dan hingga lulus nanti, aku akan selalu pulang bersama dengannya", jawab Budi dengan nada gak seram"

"Dasar...kau ini Siscon yang menjijikkan. Siapa sangka di balik sikap dinginmu, kau begitu ketat dengan hal ini?", pikir Girang dengan raut wajah jijik.

"Itu dia!", dengan cepat, Budi langsung berlari ke arah Cika. Tentunya ini semakin membuat Girang merasa jijik dengan Budi.

"Cika! Ayo kita pulang bar-", tepat saat mengatakan itu, ia melihat adiknya berbicara dengan..

"Yo, halo! Aku Girang! Aku adalah teman abangmu-"

"Walah, ada Yoga? Wah wah, ada apa ini, Bud? Bukankah ini mencurigakan?", ucap Girang dengan senyum licik, mencoba menghasut Budi agar meledak di depan adiknya.

"Apanya yang mencurigakan? Bukankah wajar bersosialisasi dengan orang lain?", senyum Budi dengan cemerlang.

DIA BERPURA-PURA AGAR TIDAK TERLIHAT JELEK DI MATA ADIKNYA?!!

"Kau adalah kakak terjijik yang pernah ketemui", ucap Girang.

"Yoga, ada yang ingin ku bicarakan denganmu", Budi menarik Yoga menjauh dari Cika dan...

"JANGAN SAMPAI KAU MENYENTUH TANGAN SEDIKIT PUN! SEDIKIT SAJA KAU SENTUH, JANTUNG AKAN KUPINDAHKAN KE DALAM KULKAS MU!"

"Apalah Budi, kami hanya sedang berbincang mengenai keanggotaan OSIS, benarkan, Cika?", ucap Yoga yang mencoba terlihat cool meski sedikit gemetar.

"Uhm... Abang duluan aja! Aku masih ada urusan!"...

....

....

"APA?!"

EMOTIONAL DAAAAMAGE! -Girang (⁠~⁠‾⁠▿⁠‾⁠)⁠~

hati budi seakan tersayat mendengar perkataan Adiknya.

"Udah.. pulang duluan sana! Nanti kelamaan!", dengan nada agak marah.

"Bahkan marahmu sangat imut!", tangis Budi yang dibarengi dengan pulang bersama Girang.

"He-eh? Budi yang galak luluh begitu saja?", tanya Yoga yang heran dengan apa yang baru saja ia lihat.

"Galak? Kalo begitu, berarti Kak Yoga sering bermain dengan abangku?"

"Ya... begitulah?", jawab Yoga dengan sedikit gugup.

"Maafkan aku Kak, dia memang agak sulit kalo bersosialisasi dengan orang lain!"

"Yah, tidak apa-apa",

...

...

"BAHKAN PERMINTAAN MAAFNYA BEGITU IMUT! SIAPA DIA INI ?! MENGAPA BEGITU... RUPAWAN?! AKU HARUS, AKU HARUS TENANG!!!"

"KAK? Kak Yoga?", mencoba menyadarkan Yoga yang kelihatan memerah dan konslet.

More Chapters