Cahaya bulan tepat berada di puncaknya ketika Jiu Yue akhirnya tiba di tengah lembah.
Langkah terakhirnya goyah. Tubuhnya hampir tidak lagi merespons perintah. Ia berlutut, satu tangan menahan tanah, napasnya terputus-putus. Panas di dadanya telah berubah menjadi nyeri kosong, tanda bahwa inti batinnya sudah dipaksa bekerja melewati batas aman.
Shi Liu berdiri di hadapannya, jarak mereka tidak lebih dari sepuluh langkah.
"Stabilitas tubuh menurun," katanya datar.
"Waktu optimal: sekarang."
Ia tidak menunggu.
Shi Liu mengangkat kedua tangan, membentuk segel pengambilan penuh. Kali ini tidak ada penyesuaian, tidak ada uji coba. Energi rubah ekor sepuluh dilepaskan dalam satu garis lurus, langsung mengunci pecahan jiwa di dalam tubuh Jiu Yue.
Tarikan terjadi seketika.
Jiu Yue menjerit tertahan.
Dari dadanya, cahaya biru pucat tercabut keluar—sepotong eksistensi yang berdenyut liar, bergetar tak stabil di udara di antara mereka. Pecahan jiwa itu terlihat rapuh, namun padat, seperti kristal yang menahan badai di dalamnya.
Shi Liu mempersempit segel.
"Keluar sepenuhnya."
Namun tepat sebelum proses pengambilan selesai—
pecahan jiwa itu berbalik arah.
Tanpa kesadaran.
Tanpa perintah.
Ia berdenyut keras, lalu meledak maju dalam bentuk gelombang tajam, langsung menghantam Shi Liu di dada. Bukan serangan energi biasa—melainkan benturan jiwa ke jiwa.
Shi Liu terlempar mundur.
Segelnya pecah total.
Ia menghantam tanah beberapa langkah ke belakang, darah mengalir dari sudut bibirnya. Untuk sepersekian detik, penglihatannya terguncang—bukan karena luka fisik, melainkan karena resonansi balik dari pecahan yang seharusnya tunduk padanya.
"Refleks protektif…" gumamnya rendah.
Di sisi lain, Jiu Yue sudah tidak bergerak.
Tubuhnya ambruk sepenuhnya, kesadarannya terputus saat koneksi internalnya runtuh. Dalam kekosongan itu, pecahan jiwa menemukan jalurnya sendiri.
Cahaya biru itu berputar sekali di udara—
lalu menyusup kembali ke dada Jiu Yue.
Masuk paksa.
Mengunci diri.
Lebih dalam dari sebelumnya.
Energi di sekitar lembah mereda mendadak.
Keheningan jatuh.
Shi Liu bangkit perlahan, satu tangan menekan dadanya sendiri. Ia menatap Jiu Yue yang tergeletak tak berdaya, napasnya sangat lemah namun masih ada.
Pecahan jiwa telah kembali ke tubuh penyangga.
Dan kini—
posisinya lebih terlindungi daripada sebelumnya.
Shi Liu menyipitkan mata.
"Adaptasi selesai," katanya pelan.
"Pengambilan langsung tidak lagi memungkinkan."
Ia berdiri tegak di bawah cahaya bulan, menatap tubuh Jiu Yue tanpa mendekat.
Malam itu berakhir dengan satu kesimpulan yang tak bisa dibantah:
Shi Liu gagal mengambil pecahan jiwanya—
dan Jiu Yue, tanpa pernah tahu alasannya,
telah menjadi wadah yang jauh lebih berbahaya untuk disentuh.
--
Kesadaran Jiu Yue kembali perlahan.
Hal pertama yang ia rasakan—
tidak ada rasa sakit.
Dada yang sebelumnya terbakar kini tenang, terlalu tenang. Aliran energi di dalam tubuhnya stabil, bahkan lebih rapi daripada sebelumnya, seolah sesuatu baru saja mengunci ulang seluruh sistemnya.
Ia membuka mata.
Cahaya bulan masih menggantung di atas lembah. Kabut tipis bergerak pelan. Dan di hadapannya—berjarak beberapa langkah—berdiri seorang pria yang tidak ia kenal.
Jiu Yue bangkit setengah duduk, refleks menyalurkan energi ke tubuhnya.
"Siapa kau," tanyanya rendah.
Tatapan mereka bertemu.
Mata Shi Liu gelap, tajam, dipenuhi amarah yang ditahan paksa. Bukan ledakan, melainkan tekanan yang berat dan dingin.
"Berdiri," kata Shi Liu singkat.
Nada itu bukan perintah yang bisa ditolak.
Jiu Yue justru berdiri penuh, sorot matanya mengeras. Amarahnya muncul—bukan karena takut, melainkan karena naluri bertahan yang terusik.
"Kau yang menarikku ke sini," katanya.
"Kau yang menyerang lebih dulu."
Shi Liu tidak menyangkal.
Ia melangkah maju satu langkah. Aura di sekelilingnya bergetar tidak stabil—bukan karena kehilangan kendali, melainkan karena penolakan yang terus beresonansi dari dalam dirinya sendiri.
Pecahan jiwa itu…
menolak kembali.
Shi Liu mengepalkan tangan.
"Kalau begitu," katanya dingin,
"aku akan menghancurkan wadahnya."
Ia menyerang.
Tidak ada peringatan.
Serangan Shi Liu langsung mengarah ke pusat dada Jiu Yue—lintasan cepat dan tepat, jelas bukan serangan biasa, melainkan teknik penembus inti.
Namun—
Jiu Yue bergerak.
Hampir tanpa berpikir.
Tubuhnya berputar setengah langkah, energi mengalir otomatis mengikuti jalur yang bahkan belum pernah ia latih secara sadar. Tangannya terangkat, membentuk perisai padat yang muncul seketika.
Benturan terjadi.
BOOM—
Gelombang energi menyapu kabut, memecah tanah di sekitar mereka. Jiu Yue terdorong mundur dua langkah, namun tidak runtuh.
Shi Liu berhenti.
Alisnya turun sedikit.
"Refleks pertahanan meningkat…" gumamnya.
Jiu Yue menatap tangannya sendiri, sama terkejutnya. Ia bisa merasakan sesuatu di dalam dirinya—tenang, padat, siap melindungi.
Ia menatap Shi Liu lagi, sorot matanya menyala marah.
"Jangan sentuh aku lagi," katanya tegas.
Shi Liu mengangkat kepalanya perlahan.
Amarah di matanya tidak mereda.
Justru mengeras.
"Kalau kau tidak menyerahkannya," jawabnya dingin,
"maka kau akan terus menjadi penghalang."
Ia membentuk segel kedua.
Kali ini, tidak menargetkan inti.
Melainkan menghancurkan keseimbangan tubuh Jiu Yue sedikit demi sedikit.
Kabut di lembah kembali berputar liar.
Dan pertarungan mereka—
baru saja dimulai sungguh-sungguh.
"Hehh—" Shi Liu tersenyum tipis. "Kau benar-benar keras kepala—Sepertinya pecahan jiwaku yang agung ini sangat nyaman dengan wadah barunya."
Shi Liu bergerak lagi.
Kali ini tidak cepat.
Justru terlalu tenang.
Ia melangkah maju satu langkah, lalu satu lagi. Setiap pijakan membuat tekanan di lembah berubah, seolah tanah menyesuaikan diri dengan keberadaannya. Aura yang dilepaskannya tidak meledak—melainkan menekan, lapis demi lapis, memaksa ruang di sekitar Jiu Yue menyempit.
Ini bukan serangan untuk membunuh.
Ini ujian kekuatan mentah.
Jiu Yue langsung merasakannya.
Udara di paru-parunya menjadi berat. Kakinya terasa seperti tertanam di tanah. Perbedaan tingkat kultivasi itu nyata—terlalu nyata. Shi Liu tidak perlu menyerang untuk membuatnya sulit bergerak.
"Berhenti," kata Shi Liu dingin.
"Tubuhmu belum cukup matang untuk menahan ini lama-lama."
Jiu Yue menggertakkan gigi.
"Aku tidak peduli," balasnya.
"Kau tidak berhak menyentuhku."
Ia memaksa satu langkah maju.
Langkah itu kecil—namun cukup untuk membuat mata Shi Liu menyipit.
Tekanan meningkat.
Kabut di sekitar mereka berputar liar, terdorong oleh benturan dua aura yang tidak seimbang. Batu-batu kecil terangkat dari tanah, bergetar di udara.
Shi Liu mengangkat tangan, lalu menurunkannya tiba-tiba.
Tekanan jatuh.
Jiu Yue terdorong ke belakang, telapak kakinya menggesek tanah hingga meninggalkan jejak panjang. Lututnya hampir menyentuh tanah—namun tidak.
Di detik terakhir, sesuatu di dalam dirinya bergerak.
Pecahan jiwa itu berdenyut.
Energi pelindung muncul spontan, membungkus tubuh Jiu Yue seperti lapisan tipis cahaya biru pucat. Tekanan Shi Liu menghantam lapisan itu—dan retak, tidak sepenuhnya menembus.
Shi Liu berhenti total.
"Itu lagi," gumamnya.
"Respon otomatis… bukan keputusanmu."
Jiu Yue terengah, tapi tetap berdiri. Matanya menyala marah, bukan takut.
"Apa pun itu," katanya serak,
"itu melindungiku. Bukan kau."
Jawaban itu membuat aura Shi Liu bergetar tajam.
Ia menyerang.
Satu serangan lurus—cepat, presisi, mengarah ke bahu Jiu Yue. Jika mengenai, sendi itu akan hancur dan pertarungan berakhir.
Namun Jiu Yue menangkis.
Bukan dengan teknik yang pernah ia pelajari—melainkan dengan gerakan refleks yang terlalu efisien untuk usianya. Lengan mereka bertemu, energi beradu keras, memercikkan cahaya ke udara malam.
Benturan itu memaksa Jiu Yue mundur satu langkah.
Tapi—
ia masih berdiri.
Shi Liu menatapnya lama, mata gelapnya dipenuhi ketegangan yang tidak bisa lagi disangkal.
Sembilan belas tahun.
Tubuh belum matang.
Pengalaman tempur minim.
Namun—
wadah itu menolak runtuh.
"Kalau ini berlanjut," kata Shi Liu pelan,
"Nona, tubuhmu akan rusak sebelum aku mendapatkan apa yang kuinginkan."
Jiu Yue mengangkat dagunya.
"Kalau begitu," jawabnya,
"kau harus melewatiku dulu."
Kabut berhenti berputar.
Malam seolah menahan napas.
Perbedaan kekuatan masih ada—besar dan berbahaya.
Napas Jiu Yue mulai tidak beraturan.
Bukan karena serangan langsung—
melainkan karena tubuhnya dipaksa melampaui kapasitasnya sendiri.
Setiap pertahanan yang muncul otomatis terasa semakin berat. Energi pelindung itu memang melindunginya, tetapi tidak gratis. Jalur energi di dalam tubuhnya bergetar, otot-ototnya menegang sampai nyeri tumpul merayap dari lengan ke dada.
Ia mundur setengah langkah.
Lalu setengah langkah lagi.
Shi Liu melihatnya.
"Kelelahan," katanya datar.
"Seperti yang kuprediksi."
Tekanan aura kembali turun, kali ini lebih berat. Tanah di bawah kaki Jiu Yue retak halus. Lututnya bergetar, akhirnya menyentuh tanah dengan suara tumpul.
Namun ia masih menolak jatuh sepenuhnya.
Shi Liu terdiam sesaat.
Bukan ragu—
melainkan amarah yang dikunci terlalu lama.
Pecahan jiwa itu kembali berdenyut di dalam dirinya. Menolak. Menjauh. Seolah keberadaannya di tubuh Jiu Yue adalah keputusan mutlak yang tidak bisa ditawar.
Ujung jarinya bergetar.
"Cukup," ucap Shi Liu rendah.
Udara di lembah berubah.
Bukan bergejolak—melainkan mundur, memberi ruang. Aura yang selama ini ditekan tiba-tiba dibuka.
Di belakang Shi Liu, bayangan memanjang.
Satu.
Dua.
Tiga—
Cahaya biru pucat muncul satu per satu, menjelma menjadi sepuluh ekor rubah yang besar dan anggun. Mereka tidak bergerak liar, melainkan berayun perlahan, seperti arus air dalam malam yang tenang.
Tekanan yang keluar melonjak drastis.
Bukan hanya kuat—
melainkan murni dan tua.
Marahnya Shi Liu bukan amarah liar.
Itu amarah sesuatu yang kehilangan bagian dirinya sendiri.
Jiu Yue tertegun.
Untuk sesaat, rasa sakit dan lelah di tubuhnya… lenyap.
Ia menatap ke atas.
Cahaya bulan menyapu siluet Shi Liu dan ekor-ekor itu, membuatnya tampak tidak nyata—seperti makhluk dari legenda yang seharusnya hanya hidup dalam cerita kuno.
Indah.
Itu kata pertama yang muncul di benaknya—tanpa ia sadari.
Bukan indah yang lembut.
Melainkan indah yang membuat dunia terasa kecil.
Jiu Yue lupa bernapas sejenak.
Inilah pertama kalinya ia melihat sesuatu yang begitu sempurna… dan begitu berbahaya… berdiri tepat di hadapannya.
Shi Liu melangkah maju.
Dengan sepuluh ekor terbuka, setiap langkahnya membuat tanah bergetar. Aura yang dilepaskan kini cukup untuk menghancurkan pertahanan biasa dalam sekejap.
"Kau tidak akan sanggup menahan ini lama," katanya dingin.
"Tubuhmu sudah di ambang runtuh."
Jiu Yue memaksa dirinya berdiri, meski pandangannya bergetar.
"Aku…" napasnya berat,
"…tidak akan menyerahkannya."
Shi Liu mengangkat tangan.
Energi terkumpul—jauh lebih padat dari sebelumnya.
Serangan berikutnya tidak akan sekadar menguji.
Dan Jiu Yue tahu itu.
Namun meski tubuhnya gemetar dan napasnya tersendat, matanya masih tertuju pada sosok di hadapannya—pada ekor-ekor yang berkilau di bawah cahaya bulan.
Kagum.
Bukan karena kekuatan semata.
Melainkan karena ia sadar, untuk pertama kalinya—
ia sedang berhadapan dengan sesuatu yang melampaui batas manusia sepenuhnya.
