LightReader

Chapter 3 - Chapter 3

Matahari mulai tenggelam di ufuk barat Kota Odelia, menyisakan semburat warna oranye yang indah sekaligus mencekam bagi orang yang tidak punya tempat bernaung sepertiku. Di dunia lamaku, jam segini biasanya aku sedang sibuk berdebat dengan orang asing di kolom komentar media sosial atau sedang memanaskan air untuk mie instan.

Sekarang? Aku berdiri di sebuah gang sempit di belakang sebuah penginapan kelas menengah bernama “Babi Guling Ceria”, menatap nanar ke arah sebuah tumpukan kayu bakar dan beberapa bahan makanan mentah yang baru saja dibeli Elena.

“Jadi… Nona Elena,” aku berdehem, mencoba memecah keheningan yang canggung. “Kau benar-benar ingin aku memasak di sini? Di udara terbuka? Pakai panci ini?”

Elena, yang sedang duduk di atas sebuah peti kayu sambil membersihkan belati kecilnya, mendongak. Cahaya senja memantul di zirah peraknya, membuatnya terlihat seperti dewi perang yang sedang beristirahat. Namun, tatapannya tetap sedingin es di kutub utara.

“Kau punya lisensi dengan bakat ‘Survival’, bukan? Jika kau tidak bisa mengolah bahan makanan di alam terbuka, maka lisensi itu lebih pantas dijadikan alas kaki. Masaklah. Aku sudah membayar pajak masukmu, sekarang bayarlah dengan kinerjamu,” ucapnya datar.

Aku menelan ludah. Masalahnya bukan pada tempatnya, tapi pada peralatannya. Aku hanya punya satu panci penggorengan yang pantatnya sudah lebih hitam dari masa depanku. Tidak ada spatula, tidak ada pisau dapur (kecuali aku mau pakai belati Elena yang terlihat sangat tajam itu), dan tidak ada bumbu kecuali garam kasar yang dibungkus kertas koran.

[Ding!] [Mendeteksi Kepanikan Tingkat Rendah.] [Saran: Gunakan insting koki Anda. Ingat, masakan yang baik lahir dari penderitaan sang koki.]

“Sistem, tolonglah. Kasih aku resep atau apa gitu!” batinku berteriak.

[Membuka Skill Pasif: "Alchemist Dapur Terlarang".] [Deskripsi: Anda dapat memasukkan apa saja ke dalam panci. Hasilnya tidak dijamin enak, tapi pasti memiliki efek samping.]

“Efek samping?! Hei!”

Tapi Elena sudah menatapku dengan tatapan lapar yang berbahaya. Aku tahu, jika aku tidak segera menyajikan sesuatu, mungkin kepalaku yang akan berakhir di atas kayu bakar itu. Dengan tangan gemetar, aku mulai menyalakan api. Beruntung, pengalaman berkemah saat Pramuka dulu masih ada gunanya.

Bahan yang dibeli Elena cukup mewah untuk ukuran pendatang baru: sepotong daging babi hutan, beberapa akar umbi-umbian yang mirip wortel tapi berwarna ungu, dan sejenis jamur berpendar yang dia klaim sebagai “Jamur Penambah Stamina”.

“Oke, Rian. Fokus. Anggap ini game Cooking Mama versi Hardcore,” gumamku.

Aku memotong daging babi hutan itu dengan pinggiran panciku yang ternyata cukup tajam (mungkin karena sudah terlalu sering kupakai untuk memukul slime). Aku memasukkan lemaknya terlebih dahulu untuk mendapatkan minyak.

Sizzzzzt!

Aroma lemak terbakar mulai memenuhi gang. Baunya lumayan, tapi kemudian aku melakukan kesalahan fatal. Aku menjatuhkan jamur berpendar itu seluruhnya ke dalam panci.

Tiba-tiba, asap berwarna hijau neon mulai mengepul dari panciku.

“Rian… asap apa itu?” tanya Elena, tangannya secara insting memegang gagang pedangnya.

“I-ini… ini teknik pengasapan modern, Nona! Asap ini penuh dengan… vitamin!” dustaku sambil terus mengaduk dengan sepotong ranting kayu.

[Ding!] [Peringatan: Reaksi Kimia Terdeteksi.] [Jamur Stamina + Lemak Babi Hutan + Karat Panci = Ramuan Penambah Kecepatan (Versi Gagal).] [Hasil Masakan: "Tumis Babi Hutan Bergetar".]

Aku tidak peduli lagi. Aku menambahkan akar ungu itu, menaburkan garam kasar sebanyak mungkin untuk menutupi rasa anehnya, dan terus mengaduk sampai warnanya tidak lagi hijau neon, melainkan cokelat kehitaman yang mencurigakan.

Setelah lima belas menit bertarung dengan asap dan api, aku menyajikan masakan itu di atas selembar daun lebar yang bersih.

“Silakan, Nona Elena. Bon Appétit,” kataku dengan senyum yang dipaksakan.

Elena menatap tumpukan daging yang bergetar benar-benar bergetar secara fisik di depannya. Dia mengangkat alisnya. “Kenapa daging ini bergerak sendiri, Rian? Apakah babi ini belum benar-benar mati?”

“Itu… itu namanya ‘Daging Menari’, Nona. Itu tanda bahwa nutrisinya sedang bereaksi dengan udara. Sangat segar!”

Elena mengambil sepotong daging dengan ujung belatinya. Dia ragu sejenak, menatapku dengan pandangan ‘kalau aku mati, kau ikut mati’, lalu memasukkannya ke dalam mulut.

Aku menahan napas. Sistem di depanku mulai berkedip-kedip kuning.

Satu detik. Dua detik.

Mata Elena membelalak. Wajahnya yang pucat tiba-tiba menjadi sangat merah. Tubuhnya mulai bergetar pelan, persis seperti daging di atas daun itu.

“Rian…” suaranya bergetar.

“Y-ya, Nona?” Aku sudah bersiap untuk lari.

“Rasanya… rasanya seperti ada ribuan kuda yang berlari di dalam perutku!”

Tiba-tiba, Elena berdiri dengan sentakan yang begitu cepat hingga bangku kayunya hancur berkeping-keping. Dia bergerak ke sana kemari dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Dia baru saja berada di depanku, lalu sedetik kemudian dia sudah berada di ujung gang, lalu kembali lagi.

“Kekuatan ini… apa yang kau masukkan ke dalam masakan ini?!” teriaknya sambil terus melakukan shadow boxing di udara. Setiap pukulannya menciptakan dentuman angin yang keras.

[Ding!] [Efek Masakan Aktif: "Hyper-Active Stamina".] [Target mengalami peningkatan Agility sebesar 300% selama 10 menit.] [Efek Samping: Target tidak bisa berhenti bicara dan akan mengalami gatal-gatal di hidung.]

“Wah, berhasil!” seruku senang.

“Rian! Aku merasa sangat kuat! Aku merasa bisa membelah gunung! Tapi kenapa hidungku gatal sekali?! Dan kenapa aku tidak bisa berhenti bicara?! Kau tahu, sebenarnya zirah ini agak sempit di bagian pinggang dan aku sangat benci pada instruktur ksatria di ibukota karena dia selalu bau bawang putih dan kau tahu tidak kalau sebenarnya aku suka warna merah jambu tapi aku harus pakai perak supaya terlihat keren—”

Elena terus mengoceh tanpa henti dengan kecepatan bicara seperti rapper profesional. Dia menceritakan semua rahasianya, dari hobi makan kue diam-diam sampai ketakutannya pada kecoak hutan.

Aku hanya bisa berdiri melongo. Panci di tanganku terasa lebih berat sekarang.

“Sistem, ini luar biasa. Aku bisa jadi buffer terbaik di dunia ini!”

[Pesan Sistem: Jangan sombong. Lihat ke belakang Anda.]

Aku menoleh. Ternyata, kegaduhan yang dibuat Elena dan aroma "asap vitamin" hijau neon tadi menarik perhatian beberapa tamu tidak diundang. Di ujung gang, berdiri tiga orang petualang berbadan besar yang tadi menertawakanku di Guild.

“Wah, wah, lihat siapa ini,” kata si pemimpin yang berjanggut tebal. “Si Koki Panci dan Ksatria yang sepertinya sedang mabuk.”

Mereka tertawa mengejek. Mereka sepertinya tidak menyadari bahwa Elena sedang dalam mode Hyper-Active.

“Hei, Nona Cantik. Kenapa kau mau bersama sampah seperti dia? Ikutlah dengan kami, kami punya daging yang lebih enak dan tidak bergetar,” kata salah satu dari mereka sambil mencoba memegang bahu Elena.

Elena berhenti bicara seketika. Hidungnya berkedut. Gatalnya sepertinya sudah mencapai puncak emosi.

“Kau…” Elena menatap mereka dengan mata biru yang sekarang berpendar cahaya putih. “Kau mengganggu ceritaku tentang koleksi boneka kelinciku!”

WUSH!

Dalam sekejap mata—benar-benar sekejap—Elena menghilang.

PLAK! BUK! DUAK!

Tiga suara hantaman keras terdengar beruntun. Sebelum para petualang itu sempat mencabut senjata mereka, mereka sudah terbang melayang ke arah tumpukan sampah di luar gang. Mereka pingsan seketika dengan tanda merah berbentuk telapak tangan di wajah masing-masing.

Elena kembali berdiri di depanku, terengah-engah. Efek kecepatannya mulai memudar, menyisakan wajahnya yang kini berubah kembali menjadi dingin, tapi kali ini bercampur dengan rasa malu yang luar biasa karena dia menyadari dia baru saja membongkar rahasia pribadinya kepadaku.

Keheningan kembali melanda gang itu.

“Rian,” kata Elena dengan nada suara yang sangat rendah dan mengancam.

“I-iya, Nona?”

“Jika kau membocorkan pada siapa pun tentang… koleksi boneka kelinciku… atau fakta bahwa zirahnya kesempitan…” Dia mendekatkan wajahnya padaku. “Aku akan memastikan panci itu adalah hal terakhir yang kau lihat di hidup ini.”

Aku mengangguk cepat seolah kepalaku dipasangi pegas. “Sumpah, Nona! Aku tidak dengar apa-apa! Aku tadi sedang… eh… sibuk menghitung semut!”

Elena menghela napas, mencoba mengatur kembali martabatnya yang runtuh. Dia melihat ke arah para petualang yang pingsan. “Setidaknya makanan sampahmu itu berguna. Kita akan berangkat ke Reruntuhan Kuno besok pagi-pagi sekali. Bersiaplah.”

Dia berjalan pergi menuju kamarnya di penginapan, meninggalkan aku sendirian di gang yang gelap.

Aku menatap panciku. Ada sisa-sisa babi hutan yang masih bergetar di sana. Aku mengambil sedikit dan mencicipinya.

“Ugh… rasanya seperti makan ban bekas yang direndam cuka,” aku meludah. “Bagaimana dia bisa menelannya?”

[Ding!] [Quest Selesai: "Lulus Ujian Tanpa Membuat Malu Harga Diri Manusia".] [Reward Diberikan: Peta Kota Odelia (Versi Coret-coret) dan Sabun Mandi Aroma Bunga Bangkai.]

Aku mendesah. Setidaknya aku punya sabun sekarang. Tapi saat aku hendak membereskan kayu bakar, aku melihat statusku lagi.

[Corruption Meter: 0.07%]

Hanya naik sedikit. Tapi setiap kali meteran itu naik, aku merasa ada sesuatu yang berdenyut di dalam jantungku. Sesuatu yang terasa… dingin. Sangat dingin.

“Mungkin hanya efek samping asap hijau tadi,” pikirku sambil menguap.

Aku tidak tahu bahwa di kegelapan gang itu, sebuah bayangan hitam kecil yang menyerupai wajahku sendiri sedang tersenyum lebar, menantikan saat di mana panci itu tidak lagi digunakan untuk memasak daging babi, melainkan untuk menampung darah.

Tapi itu cerita untuk nanti. Sekarang, aku harus mandi. Bau badan dan bau babi bakar ini benar-benar tidak membantu citraku sebagai pahlawan (salah server).

“Oi, Sistem! Besok jangan kasih aku gacha ampas lagi ya!” seruku ke langit malam.

[Ding!] [Permintaan diproses… Hasil Gacha besok: 99.9% Ampas. Selamat istirahat, Tuan Rian.]

“Sialan kau!”

Malam itu, di bawah langit Aethoria yang asing, aku tidur dengan memeluk panciku, bermimpi tentang tumpukan mie instan yang tak pernah sempat kumakan di dunia lama.

More Chapters