LightReader

KOTA MAJA (Prolog)

Langit Maja terbakar.

Bukan senja—melainkan merah besi pijar yang meleleh di atas kota.

Ledakan dari arah Faksi Benteng merobek udara.

Gedung runtuh, nyawa lenyap bahkan sebelum sempat berteriak.

Meriam menyalak ke langit yang dipenuhi cahaya.

Dari sana, Faksi Langit turun.

Diselimuti sinar biru, para pahlawan berubah menjadi Sang penentu.

Mereka menyerang atas nama keyakinan—

namun di hari itu, tidak ada Tuhan.

Hanya ambisi manusia.

Perang berlangsung empat puluh jam.

Tanpa siang, tanpa malam.

Kota Maja berubah menjadi abu.

Di tengah reruntuhan, satu sosok masih berdiri.

Ia menatap langit yang retak, tanpa doa, tanpa air mata.

Namanya Jaya Abdi.

Dan pada hari itu, ia bersumpah:

"Jika pahlawan bisa menghancurkan dunia,

maka biarkan aku menjadi dosa yang menjaga sisanya."

More Chapters