LightReader

Chapter 1 - Chapter 1: Welcome to Hell... and I'm a Cockroach?!

HEY, KOMANDAN! Stan Lee di sini, dan siap-siap karena kita akan memulai perjalanan paling gila yang pernah kau bayangkan! Lupakan dulu para ksatria gagah berani atau penyihir perkasa! Kita akan berkenalan dengan seorang pemuda yang—percayalah padaku—adalah orang yang paling tidak menyangka akan menjadi ITU di kehidupan barunya.

Bayangkan dirimu, pembaca sekalian, seorang ahli strategi ulung yang bisa memprediksi gerakan musuh sepuluh langkah ke depan, seorang jenius yang otaknya adalah mesin superkomputer, tapi jiwanya... ah, jiwanya adalah seorang master kemalasan tingkat dewa. Itulah Adam.

Adam, si otak encer tapi nggak mau repot, dulu adalah seorang otaku garis keras yang hidupnya dipenuhi anime. Dia tahu setiap lore di Tensura, setiap evolusi di Kumo Desu, dan setiap jebakan di dunia fantasi. Dia adalah "si paling tahu" di antara teman-temannya—tipe yang kalau ada kuis anime, dia bakal jadi juara dengan mata tertutup sambil makan keripik. Dunia fantasi baginya hanyalah tontonan, hiburan di layar kaca.

Tapi takdir, para pembaca yang budiman, punya selera humor yang sangat dark.

Suatu hari, entah karena tersedak mie instan saat binge-watching anime isekai kesukaannya atau mungkin karena tersandung kabel charger ponsel saat buru-buru ke kamar mandi, Adam... tewas. Yah, begitulah. Kisah pahlawan kita dimulai dengan akhir yang sangat tidak heroik. POOF! Hidupnya sebagai manusia—habis.

"Sialan," pikir Adam. "Ini pasti karmaku karena selalu menunda pekerjaan rumah dan malah nonton anime sampai pagi."

Kemudian... kegelapan. Keheningan. Lalu, KEJUTAN!

Adam terbangun. Bukan di surga dengan bidadari, bukan di neraka dengan iblis, bukan pula di alam baka dengan para leluhur. Dia terbangun di sebuah tempat yang... lembap. Gelap. Dan yang paling penting, dia merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya.

"Apa ini?" batin Adam, otaknya yang jenius langsung menganalisis. "Sensasi getaran... enam kaki? Antena? Karapaks?"

Dia mencoba menggerakkan "tangannya," tapi yang ada hanyalah enam kaki tipis yang bergerak-gerak secara independen. Dia mencoba melihat sekeliling, tapi pandangannya terbatas, dan yang dia lihat hanyalah... tanah. Batu-batu lembap. Dan bau apek yang sangat familiar.

GASP! Atau lebih tepatnya, sebuah jeritan hening di benaknya.

"Tidak mungkin," batinnya, dengan kengerian yang perlahan merayapi setiap neuronnya. "Ini... ini Labirin Elroe! Aku tahu tempat ini! Ini labirin tempat Kumoko bereinkarnasi!"

Dan yang lebih parah lagi...

"Aku... aku ini... Kecoa?!"

Para pembaca yang mulia, pada saat itu, Adam ingin sekali pingsan. Tapi kecoak tidak pingsan. Mereka hanya bisa kabur atau bersembunyi. Dari seorang otaku jenius yang malas menjadi... seekor kecoak di neraka hidup bernama Labirin Elroe, di lantai terendah yang penuh monster mematikan. Ini adalah plot twist yang bahkan tidak bisa ia prediksi dalam skenario terliar anime isekai sekalipun!

"Dunia macam apa ini?!" teriaknya dalam hati, frustrasi yang mendalam membuncah. "Aku mati secara konyol, lalu bereinkarnasi menjadi makhluk paling dibenci di Bumi—dan sekarang di dunia fantasi pula! Yang bahkan nggak punya skill OP atau status cheat instan!"

Namun, di balik kepanikan yang sesaat itu, otaknya yang jenius mulai bekerja. Ingat, Adam itu seorang jenius yang tenang dan analitis. Dia mungkin panik sejenak, tapi tidak akan lama. Dia tahu persis di mana dia berada. Lantai terendah Labirin Elroe. Habitat monster-monster lemah yang bisa di-grind, tapi juga sangat berbahaya bagi makhluk sekecil dia.

Dia mencoba "melihat" statusnya. Dan seperti yang sering terjadi di anime isekai, muncullah sebuah jendela transparan di depan pandangan mungilnya:

[Nama: Adam]

[Ras: Lesser Cockroach]

[Level: 1]

[HP: 1/1]

[MP: 0/0]

[SP: 5/5 (Stamina)]

[Attack: 1]

[Defense: 1]

[Magic Attack: 0]

[Magic Defense: 0]

[Agility: 5]

[Keterampilan: Stealth Lv.1, Danger Detection Lv.1]

"Sialan! Statistik paling menyedihkan sepanjang sejarah reinkarnasi!" rutuk Adam dalam hati. "Satu HP?! Aku bisa mati hanya karena tersandung kerikil!"

Namun, ada satu hal yang langsung menarik perhatiannya: Agility 5. Ini adalah statistik tertinggi yang dia miliki. Agility adalah kecepatan dan refleks. Dan kecoak, memang terkenal karena kecepatannya.

"Baiklah, Adam," gumamnya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. "Ini buruk. Sangat buruk. Tapi setidaknya aku tidak mati lagi. Dan aku punya Stealth serta Danger Detection sejak awal. Ini bukan sepenuhnya zero."

Dia mulai merangkak, menyusuri bebatuan lembap. Indra-indranya yang baru—antena yang bergerak-gerak, penglihatan majemuk yang agak buram—memproses informasi dengan kecepatan luar biasa. Dia merasakan setiap getaran di tanah, setiap perubahan kelembapan udara.

Bau amis. Bau darah. Itu adalah bau khas Labirin Elroe.

"Oke, Adam, ini bukan lagi binge-watching. Ini adalah survival horror dengan sudut pandang orang pertama," dia memotivasi dirinya sendiri. "Aku pernah menonton ini. Aku tahu aturannya. Grind level, dapatkan skill, berevolusi, dan jangan sampai dimakan monster."

Dia tahu bahwa di lantai ini, dia adalah makanan bagi hampir semua makhluk. Giant Frogs, Poison Taratects (versi kecil dari Kumoko), Rock Lizards, semuanya bisa mengubahnya menjadi santapan ringan dalam sekejap.

Tapi Adam adalah Adam. Jenius yang malas, ya, tapi juga berkomitmen ketika dihadapkan pada situasi yang tidak bisa dihindari. Dan yang paling penting, dia ambisius dan berani. Jika harus bertahan hidup, dia akan melakukannya. Jika harus naik ke puncak, dia akan mendaki, tidak peduli seberapa menjijikkannya tangga yang harus dia pijak.

"Baiklah, dunia. Kau pikir kau bisa menghancurkanku dengan membuatku menjadi kecoak?" Sebuah senyum tipis—atau setidaknya, apa pun yang mirip dengan senyum di wajah kecoak—terbentuk di benaknya. "Aku akan tunjukkan padamu. Aku akan naik level. Aku akan berevolusi. Aku akan menjadi Kecoak Terkuat di Dunia!"

Sebuah tekad membara di dalam hati mungilnya. Ini bukan hanya tentang bertahan hidup. Ini tentang membuktikan bahwa bahkan makhluk yang paling menjijikkan pun bisa mencapai puncak. Ini tentang mengubah takdir yang konyol menjadi legenda.

Dan begitulah, para pembaca yang terhormat, kisah epik Adam, si jenius yang malas, dimulai sebagai seekor kecoak di Labirin Elroe. Perjalanan panjang dan penuh rintangan telah menantinya. Apakah dia akan berhasil? Ataukah dia hanya akan menjadi santapan monster lain?

Bersiaplah! Karena ini baru permulaan!

More Chapters