LightReader

AKU MENYESAL TIDAK MENGHARGAI IBU

pemula76
7
chs / week
The average realized release rate over the past 30 days is 7 chs / week.
--
NOT RATINGS
43
Views
VIEW MORE

Chapter 1 - AKU MENYESAL TIDAK MENGHARGAI IBU

CHAPTER 1

Namaku Raka.

Aku anak tunggal. Hidup hanya bersama ibu sejak ayah meninggal saat aku masih kecil.

Ibuku, Bu Sari, bekerja sebagai penjahit di rumah.

Setiap hari ia bangun jam empat pagi. Memasak. Membersihkan rumah. Menjahit sampai larut malam.

Sedangkan aku?

Bangun siang. Main HP. Keluar bersama teman. Pulang larut.

"Rak, sarapan dulu…"

"Taruh aja, Bu. Nanti!"

Begitu jawabanku setiap pagi.

Tanpa menatap wajah lelahnya.

Tanpa peduli tangannya yang mulai keriput.

CHAPTER 2

Suatu sore…

Aku pulang dalam keadaan kesal karena kalah main game.

Begitu masuk rumah, ibu menyapaku.

"Raka, ibu masak sayur favoritmu hari ini…"

Aku malah membentak.

"Bu! Aku capek! Jangan ribet, dong!"

Ibuku terdiam.

Sendok di tangannya jatuh ke lantai.

Ting!

Suara kecil itu… Tapi terasa seperti petir di hatiku sekarang.

Saat itu, aku tidak peduli.

Aku masuk kamar. Mengunci pintu. Memakai headset.

Meninggalkan ibu sendirian di dapur.

CHAPTER 3

Meski sering kusakiti…

Ibuku tidak pernah berubah.

Saat aku sakit, dia begadang.

Saat aku tidak punya uang, dia menjual gelangnya.

Saat aku gagal ujian, dia menghiburku.

"Tidak apa-apa, Nak… ibu percaya kamu bisa."

Aku hanya menjawab dingin:

"Iya, Bu…"

Tanpa melihat matanya.

Tanpa merasakan cintanya.

Bagiku, ibu hanyalah orang yang "selalu ada".

Aku lupa…

Tidak ada yang abadi.

CHAPTER 4

Sejak masuk SMA…

Hidupku semakin sibuk.

Bukan sibuk belajar. Tapi sibuk dengan dunia sendiri.

Main game. Nongkrong. Media sosial. Teman-teman.

Ibu sering mengetuk pintu kamarku.

"Raka… sudah magrib…"

"Sebentar, Bu!"

"Raka… makan dulu…"

"Nanti aja!"

"Nanti." "Sebentar." "Bentar lagi."

Kata-kata itu jadi tembok di antara kami.

Aku tidak sadar… Ibu semakin jarang bicara.

Semakin sering diam.

CHAPTER 5

Suatu pagi…

Aku melihat ibu duduk di sofa.

Wajahnya pucat. Keringat dingin membasahi dahinya.

"Ibu nggak apa-apa, kan?"

Tanyaku asal.

Ibu tersenyum lemah.

"Cuma capek, Nak…"

Padahal…

Ia sering batuk. Sering pusing. Sering lemas.

Aku tahu.

Tapi aku memilih tidak peduli.

Karena bagiku, selama ibu masih memasak dan mencuci, berarti ibu baik-baik saja.

Betapa bodohnya aku…

CHAPTER 6

Aku mulai sering pulang malam.

Kadang bahkan tidak pulang.

Menginap di rumah teman.

Tanpa kabar.

Tanpa pesan.

Ibu selalu menungguku.

Dengan mata sembab.

Dengan HP di tangan.

Dengan doa di bibirnya.

"Ya Allah… jaga anakku…"

Sementara aku?

Tertawa di luar sana.

Tanpa rasa bersalah.

CHAPTER 7

Malam itu…

Aku sedang bermain game di kamar teman.

HP-ku bergetar.

Nama: IBU

Aku melihatnya.

Lalu…

Kumatikan.

"Nanti aja," pikirku.

Beberapa menit kemudian, HP bergetar lagi.

Ibu.

Aku kesal.

"Aduh, ganggu banget sih…"

Kumatikan lagi.

Tak lama…

Masuk pesan dari tetangga.

"Raka, cepat pulang. Ibumu pingsan."

Darahku terasa berhenti mengalir.

Tanganku gemetar.

Jantungku berdebar tak karuan.

Aku berlari.

Tanpa berpikir.

Tanpa sepatu.

Tanpa jaket.

CHAPTER 8

Aku sampai di rumah sakit.

Melihat ibu terbaring lemah.

Dengan selang. Dengan alat. Dengan napas tersengal.

Dokter berkata pelan:

"Kondisinya kritis…"

Kakiku lemas.

Aku jatuh berlutut.

"Bu… bangun, Bu…"

Tanganku menggenggam tangannya.

Dingin.

Kurus.

"Maafin Raka, Bu…"

"Aku jahat…"

"Aku egois…"

Air mataku jatuh deras.

Tapi ibu hanya tersenyum tipis.

Bibirnya bergerak pelan.

"Raka… ibu… sayang… kamu…"

Itu…

Kata terakhirnya.

Monitor berbunyi panjang.

Tiiiiiiiiiiit…

CHAPTER 9

Beberapa hari setelah pemakaman…

Aku menemukan sebuah buku di lemari ibu.

Di dalamnya ada surat.

Tulisan tangan ibu.

Untuk anakku tercinta, Raka…

Jika kamu membaca ini, mungkin ibu sudah tidak ada.

Maafkan ibu… jika belum bisa membahagiakanmu.

Ibu hanya ingin kamu jadi orang baik.

Ibu bangga padamu. Meski kamu jarang bilang sayang.

Meski kamu sering marah.

Ibu tetap cinta.

Selamanya.

— Ibumu

Aku menangis sejadi-jadinya.

Untuk pertama kalinya…

Tanpa bisa dipeluk ibu lagi

CHAPTER 10

Sekarang…

Aku duduk di makam ibu.

Setiap minggu.

Membawa bunga.

Membaca doa.

"Bu… Raka sudah berubah…"

"Raka belajar sungguh-sungguh…"

"Raka nggak nakal lagi…"

"Tapi… ibu nggak lihat…"

Angin berhembus pelan.

Seolah membelai wajahku.

Aku tersenyum pahit.

Penyesalan terbesar dalam hidupku…

Bukan kehilangan ibu.

Tapi…

Tidak mencintainya saat masih ada.

🌹 TAMAT