LightReader

Chapter 26 - Keyakinan Tome Yang Sunyi

Dengan gerakan tenang namun menyimpan antisipasi, Kaivan membuka buku itu. Lembaran-lembarannya yang tua terlipat rapi, sementara tulisan-tulisan aneh yang terukir di dalamnya tampak seolah hidup, berkilau samar di bawah cahaya lampu. Jemarinya menelusuri setiap baris dengan saksama, hingga pandangannya terhenti pada satu bagian, seolah kalimat itu baru saja muncul.

Setelah kejadian tadi malam, kau akan bertemu Felicia lagi pada Sabtu malam. Di sana, kau harus membantunya.

Kaivan membaca kalimat itu berulang kali, memastikan ia tidak salah menangkap maknanya. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya, bukan karena bahagia, melainkan karena kelegaan yang tenang. Tanda bahwa jalan yang ia pilih berjalan sebagaimana mestinya.

"Felicia, ya…," gumamnya pelan, pandangannya beralih ke arah jendela. Dalam benaknya, ia mencoba mengingat raut wajah gadis itu. "Sebenarnya, apa yang kau pikirkan?" bisiknya lirih, meski ia tahu pertanyaan itu takkan pernah terjawab.

Dalam kesenyapan dini hari, saat matahari masih bersembunyi di balik cakrawala, Kaivan bersiap berangkat bersama Radit dan Frans. Mereka masuk ke mobil Frans, kendaraan yang akan membawa mereka menemui Thivi.

Di dalam mobil, tersimpan energi yang tenang namun penuh semangat. Pagi yang damai menjadi latar sempurna bagi percakapan mereka. Memecah keheningan yang nyaris terasa magis, Frans, yang duduk di balik kemudi, lebih dulu membuka suara.

"Kaivan, dari dulu aku penasaran sama buku yang selalu kamu bawa itu," katanya, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu.

Kaivan menjawab dengan senyum tipis yang sulit ditebak. "Oh, buku ini? Mungkin nanti saja aku ceritakan, setelah semuanya berkumpul. Biar lebih seru." Ucapannya menyalakan rasa penasaran tersembunyi di benak Radit dan Frans; ketertarikan mereka pada Tome Omnicent semakin menguat.

Sesampainya di tujuan, mereka turun dan menghirup udara pagi yang segar. Di dekat pintu, Thivi sudah menunggu. Senyumnya tertangkap cahaya pagi. Mengenakan gaun panjang yang anggun, ia tampak seperti perwujudan pagi yang cerah, seolah menghangatkan udara di sekitarnya.

Berselimut sinar matahari lembut, Thivi memanggil nama Kaivan dengan penuh antusias. Langkahnya yang ringan membawa riak kebahagiaan kecil. "Kaivan!" serunya ceria. Ia menyambutnya dengan pelukan hangat, memenuhi momen itu dengan kebahagiaan yang sederhana.

Kaivan membalasnya dengan senyum lebar. "Rapi sekali pagi-pagi begini. Tidak seperti biasanya, terakhir kali aku ke sini, kamu masih meringkuk di balik selimut," godanya ringan, nada bercandanya mempererat jarak di antara mereka.

"Tentu saja! Aku juga mau ke tempat ayah, sekalian jadi pemandu wisatamu," jawab Thivi, tawanya mengalir, keceriaannya terpancar di setiap kata.

Radit, yang sejak tadi mendengarkan, tak tahan untuk ikut menyelipkan candaan. "Lumayan juga, dia benar-benar dapat cewek sebaik ini," celetuknya, memancing tawa.

Tak lama kemudian, mereka kembali duduk di dalam mobil yang sejuk. Thivi dengan ceria mengarahkan Frans menuju tujuan berikutnya. Obrolan dan tawa mengalir alami, merajut benang keakraban yang tak kasatmata.

Dari kursi depan, Radit bersandar santai sebelum memecah keheningan dengan pertanyaan bernada main-main. Dengan senyum khasnya, ia bertanya, "Jadi, Thivi, gimana ceritanya kamu bisa ketemu Kaivan?" Suaranya ringan, tapi penuh rasa ingin tahu.

Pertanyaan itu, meski sederhana, terasa seperti batu kecil yang dilempar ke permukaan air tenang. Thivi, yang duduk di belakang Radit, tertawa pelan sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan. "Aduh… aku malu ceritanya," gumamnya, nada suaranya malu-malu namun menggoda.

Frans, meski matanya tetap tertuju ke jalan, ikut terkekeh. "Ayolah, Thivi. Ceritakan saja. Kami semua penasaran." Desakannya yang santai membuat suasana makin hangat.

Dari kursi belakang, Kaivan yang sejak tadi mengamati dengan tenang ikut menimpali. "Iya, ceritakan saja. Jangan biarkan mereka menebak-nebak."

Akhirnya, dengan mata yang berkilau antara malu dan senang, Thivi mulai bercerita. "Jadi, waktu itu Sabtu sore. Aku lagi naik motor…" Kisahnya mengalir, setiap detail terasa seperti petunjuk menuju sesuatu yang lebih besar. "Terus tiba-tiba, Kaivan meloncat dan menarikku ke semak-semak."

Radit langsung tertawa terbahak. "Tunggu, tunggu, kenapa kamu meloncat dan menyeret dia ke semak-semak, Kaivan? Kelamaan jomblo sampai hilang akal?" godanya, disambut tawa di dalam mobil.

Kaivan, yang jelas terpojok oleh situasi kocak itu, hanya bisa tersenyum sambil menggeleng. "Bukan begitu! Thivi hampir jatuh dari motornya, jadi aku menariknya supaya tidak terluka," jelasnya, nadanya sedikit defensif tapi tetap tenang.

Thivi yang tadi menutupi wajahnya karena malu akhirnya ikut tertawa. "Iya, iya, dia menyelamatkanku hari itu. Lalu karena sudah mulai gelap, Kaivan akhirnya menginap di rumahku. Kami menghabiskan malam dengan mengobrol," tambahnya, nada suaranya ringan dan lembut.

Frans melirik sekilas dengan senyum penuh rasa ingin tahu. "Tunggu, Kaivan, kalian baru kenal, kan? Terus ngapain saja di rumah Thivi?" tanyanya, jelas tak ingin melewatkan cerita.

Dengan tawa kecil yang menggoda, Thivi menjawab singkat. "Anggap saja itu pengalaman pertama Kaivan, dan aku yang membantunya memegang supaya tetap stabil." Nadanya menyiratkan misteri, membuat semua mata spontan tertuju pada Kaivan.

Radit akhirnya mengutarakan dugaan yang mengejutkan. "Tunggu, Kaivan, jangan-jangan kamu… tahu kan, tidur bareng Thivi di malam pertama kalian ketemu?" tanyanya setengah bercanda, setengah serius.

Kaivan terkejut dan cepat-cepat menepisnya. "Hah? Mana mungkin! Kami cuma ngobrol di teras semalaman. 'Pengalaman pertama' itu cuma… pertama kali aku merokok, dan Thivi yang membantuku menyalakan rokok. Itu saja, tidak ada yang lain!" katanya, berusaha meredam imajinasi liar teman-temannya.

Namun tawa di dalam mobil justru semakin pecah. Thivi hanya bisa tersenyum malu, menikmati reaksi mereka. "Hahaha, seru sekali melihat ekspresi kalian," ujarnya sambil menunduk, meski mata­nya berbinar bahagia.

Di akhir perjalanan, mereka tiba di halaman sebuah bangunan sederhana dengan dinding berwarna oranye hangat. Dari balik pintu, seorang pria paruh baya muncul dengan senyum ramah. Rambutnya yang mulai memutih membingkai wajah penuh kebaikan, sementara tubuhnya yang tegap mencerminkan tahun-tahun kerja keras.

Kaivan turun dari mobil dengan tenang. Jaketnya sederhana, namun sikapnya memancarkan rasa hormat. Di balik jaket itu terselip sebuah amplop tebal. Langkahnya terukur saat ia mendekat, menunduk sedikit sebelum menyerahkan amplop itu dengan kedua tangan.

"Pak, ini pembayarannya, sesuai kesepakatan. Satu karung ponsel rusak, sepuluh juta rupiah. Maaf, hari ini saya hanya bisa mengambil satu karung," ucap Kaivan pelan, suaranya mantap dan sopan.

Pria itu, ayah Thivi, tersenyum lebar. Ia menerima amplop itu sambil mengangguk kecil. "Tidak apa-apa. Ambil saja dua karung. Sisanya bisa kamu bayar saat ambil berikutnya." Ia menepuk bahu Kaivan ringan, penuh kepercayaan.

Belum sempat percakapan berlanjut, suara ceria Thivi memecah suasana. "Ayah, boleh tidak aku ikut ke Bandung sama Kaivan? Aku pulang hari Minggu, nanti dia yang mengantarku," katanya polos, matanya berbinar penuh antusias.

Ayahnya menoleh, sempat terkejut, lalu tersenyum lembut. Ia mengangguk perlahan, memandang putrinya sebelum beralih ke Kaivan. Ekspresinya serius, namun hangat.

"Oh, begitu. Kalau begitu tidak apa-apa. Ayah tahu Kaivan orang baik. Tolong jaga Thivi, ya. Dan kita buat delapan juta saja, dua jutanya anggap untuk uang saku Thivi," katanya tulus.

Kaivan terdiam sejenak, matanya sedikit membesar karena terkejut, lalu segera menunduk hormat. "Ah, baik, Pak. Terima kasih banyak," jawabnya penuh rasa syukur.

Di belakang mereka, Frans menyaksikan dengan kagum. Bersandar santai di mobil, tangan di saku jaket, ia berujar dengan nada iri bercanda. "Gila, Kaivan. Kamu sudah dapat kepercayaan ayah Thivi. Andai aku juga bisa sedekat itu dengan ayah pacarku."

Radit yang berdiri dengan tangan terlipat hanya mendengus kecil. "Hah, terserah. Lagian aku juga tidak punya pacar," katanya ringan, meski sorot matanya menunjukkan ia ikut menikmati suasana hangat itu.

Mendengar candaan mereka, Kaivan hanya menghela napas pelan, senyum kecil terukir di bibirnya. "Thivi itu bukan pacarku, ya. Jangan salah paham," katanya serius, melirik sekilas ke arah Thivi. Gadis itu berdiri dengan rona samar di pipinya. Ia hanya tersenyum, tidak menyangkal, juga tidak membenarkan apa pun.

More Chapters