LightReader

Chapter 42 - Senyuman Bernama Cemburu

Dari kejauhan, Thivi memperhatikan dengan dada terasa berat. Felicia berdiri terlalu dekat dengan Kaivan. Ada sesuatu yang tajam bergerak di dalam hatinya. Aneh, namun tak bisa disangkal.

Ia mendekat, suaranya tenang namun ragu. "Kenapa sekarang kamu selalu berada sedekat itu dengan Kaivan?"

Felicia menoleh. Senyumnya lembut, namun terasa dalam. "Karena dia memintaku untuk tetap di sisinya."

Kaivan mendengar percakapan itu. Ia mengangkat wajah dan menyela, "Ngomong-ngomong, di mana Frans?"

Keheningan jatuh.

Di lantai atas mal yang sunyi, Frans terbaring sendirian. Napasnya tersengal, lampu neon berkelip di mata yang setengah terpejam. Lorong itu dingin seperti makam, kosong seperti dilupakan dunia.

Fajar merayap masuk, menyapu kota dengan cahaya keemasan yang menyelinap lembut melalui tirai tipis kamar tamu Kaivan. Di balik jendela yang berembun, Thivi berdiri diam, menatap langit yang perlahan terbuka, sementara pikirannya tertambat pada sisa-sisa malam tadi. Percakapan sunyi antara Kaivan dan Felicia terus bergema, enggan pergi.

Menjelang siang, bengkel itu terasa muram. Tempat yang dulu penuh tekad kini porak-poranda. Meja terbalik, peralatan berserakan, pecahan kaca menutupi lantai. Di tengah puing-puing itu berdiri Kaivan. Letih terlukis di wajahnya, namun matanya tetap menyala oleh tekad yang tak tergoyahkan.

"Kita akan memperbaiki semuanya," katanya pelan, namun suaranya terdengar seperti janji yang diucapkan di atas reruntuhan harapan. "Dari awal. Tanpa ragu."

Radit bergerak lebih dulu, matanya menyala seakan menyambut panggilan pertempuran. Frans ikut membantu, meski tangannya sedikit gemetar, bayangan malam sebelumnya masih tertinggal di sorot matanya.

Felicia dan Thivi bekerja berdampingan. Yang satu mengangkat balok-balok berat seolah tak berbobot, yang lain merapikan peralatan kecil dengan penuh ketelitian. Namun di antara mereka, kegelisahan diam-diam mengendap. Pandangan Felicia sesekali melirik Thivi, sementara Thivi menenggelamkan diri dalam pekerjaannya, berpura-pura tak merasakan udara yang kian menekan.

Akhirnya, suara Felicia memecah keheningan. Ia duduk di kursi kayu dekat jendela. Cahaya sore yang lembut menyentuh rambut gelapnya saat ia menyibakkan helai-helai yang jatuh ke bahu. Nadanya halus, namun menghunjam. "Thivi… kamu dekat dengan Kaivan. Katakan padaku, wanita seperti apa yang dia sukai?"

Thivi membeku. Kain di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai dengan bunyi pelan yang terasa seperti sesuatu yang pecah di dalam dadanya. Ia menoleh perlahan, mata menyipit, suaranya tertahan di tenggorokan. "Kenapa kamu menanyakan itu?" bisiknya, datar namun bergetar.

Felicia membalas tatapannya. Senyum tipis terukir di bibirnya, dingin, hampir melukai. "Mungkin… karena aku ingin menjadi wanita seperti yang dia sukai," katanya, seperti palu yang menghantam dada Thivi.

Kata-kata itu mengguncang Thivi hingga ke inti. Napasnya tersendat, panas menggenang di balik matanya. Ia ingin bicara, tapi suaranya lenyap. Jemarinya yang gemetar meraih kain di lantai, namun yang benar-benar berserakan bukanlah kain, melainkan ketenangan yang selama ini ia jaga.

Menarik napas panjang, Thivi menegakkan tubuh. Bahunya terangkat sedikit, seakan melindungi diri dari sesuatu yang tak terlihat. Namun nada suaranya tak mampu menyembunyikan badai di dadanya. Tatapannya terkunci pada Felicia.

"Wanita yang cantik," katanya, tajam bagai bilah pisau. Ia melangkah mendekat, tiap gerak penuh tantangan. "Tinggi, lebih dari satu delapan lima. Tubuh sempurna dengan lekuk yang mencuri perhatian. Pakaian berani, garis leher yang menggoda. Riasan secukupnya, terlihat pintar. Rambut panjang tergerai seperti sutra."

Felicia tetap diam, tatapannya tenang, tak terusik. Saat Thivi selesai, senyum samar menyentuh bibirnya, lembut namun menciptakan jarak yang tak terjembatani. Ia menyentuh rambutnya ringan, seolah tak ada yang perlu diperdebatkan. "Oh, hanya itu?" tanyanya santai, menggoda tanpa mengejek, seperti angin yang tak bisa digenggam.

Kata-kata itu menusuk Thivi seperti paku es. Ia berdiri kaku, pikirannya bergejolak. Dia cuma unggul dua poin. Aku juga punya lekuk. Wajahku cukup. Aku suka pakaian berani. Garis leherku terlihat. Aku sudah memenuhi empat kriteria.

Waktu berlalu. Setelah berjam-jam bekerja dalam diam, bengkel itu kembali tertata. Peralatan berjajar rapi, kekacauan menyerah pada ketenangan. Kaivan berdiri di tengah ruangan, memandangi hasilnya, meski pikirannya melayang pada hal-hal yang belum selesai.

Thivi duduk sendiri di sudut, bahunya sedikit merunduk, pandangannya kosong. Mesin berdetak pelan, menegaskan sunyi yang berat. Akhirnya, Kaivan berbicara, rendah namun mantap. "Biar aku antar kamu pulang."

Thivi menoleh. Tatapan mereka bertemu, dan setelah jeda singkat, ia mengangguk. Saat ia bersiap, pandangannya menyentuh meja kerja Kaivan. Senyum kecil melintas di bibirnya, sebentar lalu lenyap. Di belakang mereka, Felicia mengamati dalam diam. Wajahnya kabur oleh campuran cemburu, kegelisahan, dan harapan yang rapuh.

Langkah kaki Kaivan dan Thivi bergema di lorong saat mereka pergi. Felicia tetap tinggal, menatap punggung Kaivan yang menjauh. Tangannya mengepal, seolah menggenggam sesuatu yang tak mampu ia beri nama.

Di sudut ruangan, Radit menyeringai kecil. Hah, tontonan yang menarik, pikirnya. Selalu menjadi pengamat diam yang menyimpan segalanya. Dalam hatinya ia bertanya, apakah Kaivan menyadari badai yang mulai terbentuk, atau ia terlalu sibuk dengan perangnya sendiri untuk melihatnya.

Matahari sore menyala terang di luar, namun badai tersembunyi mengamuk di dada Felicia. Sepulang sekolah, ia berdiri di depan cermin, menatap wajahnya dalam diam. Tangannya bergerak cekatan, merapikan rambut, menaburkan bedak, menambahkan semburat warna di pipi. Maskara membingkai matanya, seolah mendorongnya untuk mengucapkan kata-kata yang tak pernah berani keluar.

"Semua ini untuk Kaivan," bisiknya, menggenggam harapan yang ia rajut diam-diam. Ia mengambil kacamata, aksesori yang jarang ia pakai. Hari ini ia ingin terlihat berbeda. Lebih pintar. Lebih dewasa. Siap untuk dicintai.

Langkah kakinya bergema di lorong sekolah Kaivan yang sepi. Cahaya di luar meredup, membuat kesunyian terasa seperti ujian. Ia mengirim pesan. Tak ada balasan. Sepi menunggu tanpa ampun. Sepatunya mengetuk dinding, detak jantungnya bergetar hingga ke tulang.

Radit muncul di ujung lorong. "Hai, Radit," sapa Felicia, tenang di luar, gemetar di dalam. "Kamu melihat Kaivan?"

Radit menggaruk kepalanya. "Sepertinya dia masih di kelas… tapi aku tidak yakin. Aku belum melihatnya hari ini."

More Chapters