LightReader

Chapter 46 - Luka yang Tak Pernah Kami Tunjukkan

"Hidupku jauh dari kata indah. Keluargaku miskin. Aku lapar, marah, dan putus asa. Jadi aku mencuri. Apa pun, dari siapa pun. Hanya untuk bertahan hidup."

Ia menundukkan kepala sejenak, lalu kembali menatap teman-temannya. "Itu salah, aku tahu. Tapi saat itu, rasanya dunia tidak memberiku pilihan lain."

Hening sesaat.

"Suatu sore," lanjutnya pelan, "aku hampir mencuri lagi. Tapi Kaivan menghentikanku. Dia tidak melaporkanku. Tidak menghukumku. Dia bicara. Dia percaya padaku. Tangannya terbuka… dan aku memilih untuk mempercayainya. Sejak hari itu, aku berhenti."

Atap gedung itu dipenuhi keheningan yang hangat dan berat. Bulan seakan ikut mendengar, sementara lampu kota berkelip pelan, seirama dengan napas malam. Kaivan hanya tersenyum tipis, tidak mengambil pujian, hanya melirik dengan tatapan bangga.

Botol itu diputar sekali lagi. Angin malam menyapu lembut. Saat botol berhenti, lehernya menunjuk ke arah Felicia.

Tatapan Radit tertuju padanya, bukan untuk menantang, melainkan menunggu. Menunggu kejujuran yang tersembunyi di balik parfum dan senyum dinginnya.

Ia bertanya lirih, suaranya berat dan mengguncang keheningan malam. "Kenapa kamu bersama Julian?"

Mata Felicia menjauh, tersesat di lorong-lorong masa lalu. Bayangan kenangan pahit merambat di wajahnya. Cahaya bintang di matanya meredup saat ia menunduk.

"Ayahku…" suaranya nyaris pecah. "Dia sering berselingkuh. Ibuku sakit. Lalu… dia pergi meninggalkan kami."

Hening kembali jatuh. Kata-katanya menggantung di udara, seperti debu yang enggan turun. Ia menggenggam cangkir kopi di depannya, mencari pijakan pada kehangatan yang rapuh itu.

"Sejak saat itu, aku percaya… perempuan harus patuh. Harus tunduk, atau akan ditinggalkan. Aku hidup dalam ketakutan, bahwa jika aku melawan, aku akan dibuang seperti ibuku."

Atap gedung terasa kaku. Tak seorang pun berbicara. Malam sendiri seakan mencondongkan diri untuk mendengarkan.

"Lalu Julian datang," bisiknya. "Dia orang pertama yang meraihku. Aku menuruti dia. Kupikir itu cinta, memberikan segalanya tanpa bertanya."

Ia menyeruput kopinya, yang kini suam. Rasanya hambar, tapi cukup untuk menahannya tetap di sini.

"Aku bertahan. Bertahun-tahun. Bukan karena cinta, tapi karena takut. Sampai… Kaivan muncul."

Nama itu menggantung di udara. Ia menunduk, mengumpulkan serpihan kenangan yang retak.

"Dia berjanji…"

Radit condong mendekat. "Berjanji apa?"

Felicia tak menjawab. Pandangannya mengalir ke kejauhan. Tiba-tiba tangannya meraih botol di tengah meja dan memutarnya dengan keras. Gesekan kaca dan kayu menelan pertanyaan itu, mengurung luka yang hampir terbuka.

Mereka kembali diam. Botol berputar perlahan, membelah ketegangan. Setiap mata terpaku pada geraknya, seolah takdir sendiri bertumpu pada ujung putarannya. Akhirnya, botol berhenti dan menunjuk tepat ke arah Thivi.

Thivi mengangkat matanya ke bulan. Cahaya peraknya membingkai wajahnya yang tenang. Felicia, yang masih terseret arus emosinya sendiri, menoleh padanya. Suaranya melembut, seperti selimut yang menyentuh luka terbuka dengan hati-hati.

"Jadi, seperti apa hidupmu sebelum ini?"

Angin malam berdesir, menjadi musik bagi kisah yang menunggu untuk diceritakan. Pandangan Thivi melampaui atap gedung, menjangkau sebuah desa jauh di dalam ingatannya.

"Sederhana," katanya pelan. "Aku tumbuh di desa kecil. Hari-hari tenang, tanpa tekanan, hanya keluarga, teman-teman, dan sebuah motor tua."

Senyum tipis muncul di bibirnya. Namun di baliknya, sesuatu yang lebih dalam menunggu.

"Aku pernah hampir jatuh ke jurang. Motorku tergelincir, tak terkendali. Kupikir itu akhir segalanya. Tapi lalu dia datang, Kaivan. Dia menarikku kembali dari kematian, memelukku, menyelamatkanku."

Keheningan menyelimuti mereka. Setiap orang membayangkan momen itu, angin, tebing, dan keberanian untuk bertindak.

More Chapters