LightReader

Chapter 55 - Saat Kepedulian Berubah Menjadi Kepemilikan

Radit menyenggolnya dengan siku sambil menyeringai. "Telepon pacarmu juga, Bro. Biar adil."

Tawa pecah di udara senja. Di antara keringat, emas, dan kelelahan, ada kehangatan yang tak bisa dibeli oleh uang mana pun—persahabatan. Dan diam-diam… cinta.

Bibir Felicia melengkung membentuk senyum tipis saat ia tetap berdiri di sisi Kaivan. "Ayo. Waktunya latihan," katanya pelan, namun tegas. Ia bukan tipe yang membiarkan kesempatan lewat begitu saja.

Kaivan menatapnya, lelah sekaligus bingung. "Sekarang? Aku baru saja kerja seharian penuh," keluhnya. Tapi jauh di dalam hatinya, ia tahu—melawan Felicia hanya akan menunda hal yang tak terhindarkan.

Tanpa berkata apa pun lagi, Felicia meraih tangannya dan menariknya berdiri. "Kita tidak punya waktu untuk bermalas-malasan," katanya, menyeretnya keluar bahkan sebelum Kaivan sempat memikirkan alasan.

Radit terkekeh melihat pemandangan itu. "Tuh kan, diseret. Mau diperlakukan sama juga, Frans?"

Frans menghela napas, berpura-pura santai. "Nggak, aku nyaman jadi diri aku sendiri," jawabnya, menutupi sedikit rasa iri yang tak mau ia akui.

Di lantai atas bangunan tua yang disulap menjadi ruang latihan, cahaya senja mengukir bayangan panjang di atas papan lantai yang sudah usang. Felicia berdiri tegap di depan Kaivan, akhirnya melepaskan tangannya.

"Push-up. Sekarang," perintahnya tegas, matanya tak memberi ruang untuk penolakan.

Kaivan mengerang pelan dan menurunkan tubuhnya ke lantai. Felicia mengawasi dengan saksama—dingin, namun penuh perhatian. Setelah beberapa hitungan, ia melangkah maju… lalu duduk tepat di punggung Kaivan.

"Hei! Berat banget! Ini gila!" Kaivan terengah, napasnya terputus-putus.

Felicia tertawa kecil, pipinya memerah samar. "Memangnya aku seberat itu?"

"Bukan kamu… aku cuma belum terbiasa push-up sambil menanggung berat hidup itu sendiri," jawabnya terengah, setengah serius.

Felicia berdiri, masih tersenyum malu. "Baiklah, istirahat dulu. Aku ambilkan minum," katanya, menuruni tangga dan meninggalkannya tergeletak di lantai—dadanya naik turun, keheningan menekan dadanya.

Kaivan berbaring di sana, menatap langit-langit, napasnya dangkal. Baginya, perhatian Felicia tak lebih dari kebaikan seorang teman. Ia tak pernah membayangkan bahwa mungkin… ada sesuatu yang lebih dalam yang diam-diam tumbuh di dalam hati gadis itu.

Langkah Felicia menuruni tangga stabil, namun terhenti di tengah. Di jendela ujung lorong, Radit duduk di ambang kusen, rokok menyala redup di jemarinya. Cahaya senja yang sekarat mewarnai wajahnya dengan nuansa muram, kontras dengan sikap santainya yang biasa.

"Radit, dulu… waktu kamu menyerang tempat Julian, siapa yang masuk bersamamu selain Kaivan?" Nada suara Felicia tenang, namun rasa ingin tahu tersembunyi di dalamnya.

Radit mengangkat alis, mengembuskan asap perlahan. "Cuma aku sama Kaivan. Thivi sama Frans di luar, tapi mereka akhirnya masuk juga dan ketangkap. Jadi ya, yang benar-benar masuk cuma kami berdua," jawabnya santai, seolah itu bukan apa-apa.

Felicia mengangguk samar, tatapannya jauh. "Jadi cuma kalian berdua, ya," gumamnya hampir tak terdengar.

Radit menyipitkan mata, menangkap perubahan ekspresinya. "Kenapa nanya gitu?"

Sebelum ia sempat menekan lebih jauh, Felicia bergerak tiba-tiba—lebih cepat dari yang ia duga. Ia mencengkeram kerah Radit dengan satu tangan dan menariknya maju. Mata Radit membelalak, tubuhnya terseret meski ia jauh lebih kuat.

"Hei! Apa-apaan ini?!" bentak Radit, suaranya menggema di ruangan kosong. Felicia tak mengatakan apa pun. Wajahnya tetap tenang, seolah keputusannya sudah bulat.

Dari sudut ruangan, Frans menurunkan majalahnya dengan senyum miring. "Semoga beruntung, Radit," gumamnya, melambaikan tangan malas, tawanya tipis dan menyindir.

Di dekat pintu, Thivi dan Zinnia menghentikan percakapan mereka. Mata mereka membesar melihat Felicia menyeret Radit seperti karung beras. Mereka saling bertukar pandang, bingung.

"Ada apa sih?" bisik Thivi.

"Entahlah," jawab Zinnia datar. "Dia pasti punya alasan."

Felicia akhirnya berhenti saat mereka sampai di lantai atas. Ia melepaskan Radit, membiarkannya berdiri kaku, tubuhnya masih tegang karena diseret kasar. Radit menatapnya tajam, jelas kesal.

, [Cliffhanger cut here] ,

 

Saat Dunia Melambat

"Itu barusan maksudnya apa?! Kamu nyeret aku kayak karung! Kenapa aku juga harus latihan?!" protes Radit tajam.

Felicia membalas tatapannya tanpa goyah. Suaranya tenang, tapi penuh ketegasan. "Aku tidak akan membiarkan kamu jadi beban bagi Kaivan. Kamu punya potensi, tapi tubuhmu perlu diasah lagi." Kata-katanya jatuh seperti palu yang menghantam harga dirinya.

Kata "beban" menghantam Radit keras. Tangannya mengepal, amarah mulai menyala. "Beban? Kamu pikir aku beban?" suaranya meninggi. Ia melangkah mendekat, matanya menyala. "Aku tidak pernah jadi beban. Selama ini aku selalu bisa diandalkan!"

Di sudut ruangan, Kaivan duduk diam, mengamati tanpa banyak reaksi. Baginya, ini tak lebih dari latihan biasa. Ia gagal menangkap maksud tersembunyi di balik tindakan Felicia, mengira semua ini hanya bagian dari latihan.

Felicia melirik Kaivan lalu Radit, senyum kecil terlukis di bibirnya. "Kalian berdua, serang aku. Aku ingin lihat sejauh mana kemampuan kalian."

Tatapan Kaivan dan Radit saling bertemu. Keraguan sempat menggantung, namun tak ada jalan untuk mundur. Felicia berdiri tenang, seperti angin sepoi yang menyembunyikan badai.

Radit menyerang lebih dulu, amarahnya menjadi bahan bakar kekuatannya. Tinju dilontarkan lurus ke depan. Felicia hanya menundukkan kepala, memutar tubuh ringan sebelum memukul perutnya. Tidak terlalu keras, tapi cukup membuatnya goyah. Radit mundur terhuyung, batuk tertahan.

Kaivan menyusul dari sisi lain, lompatannya tajam dan cepat. Felicia berputar, merendahkan posisi sebelum menyapu kakinya. Kaivan jatuh, napasnya seakan terhempas keluar.

"Ini bukan soal kekuatan," kata Felicia, suaranya lembut seperti embun di pagi dingin. "Ini soal ritme. Soal kerja sama."

Radit perlahan berdiri, memegangi perutnya. "Sial… nggak seharusnya ngerokok tadi," gumamnya, setengah kesal, setengah kagum.

Kaivan tetap diam, matanya terpaku pada Felicia, mencari sesuatu yang tak bisa ia pahami.

Felicia berdiri tegap, tak tergoyahkan. "Kalian berdua punya potensi. Tapi kalian belum cukup kuat. Dalam pertarungan sungguhan, tak ada ruang untuk satu kesalahan pun."

Radit menatapnya. Kali ini bukan dengan protes, tapi dengan rasa hormat yang perlahan tumbuh. Felicia bukan sekadar partner sparring. Ia mengajari mereka sesuatu yang lebih dalam: untuk bertahan hidup, mereka harus bergerak sebagai satu jiwa.

Latihan ini, sekeras apa pun, bukan untuk dirinya sendiri. Felicia ingin Kaivan dan Radit menjadi kuat—bukan beban, melainkan penjaga satu sama lain.

Di sudut ruangan, Kaivan duduk di lantai, napasnya kasar, keringat menetes dari dahinya. Namun pikirannya tidak tertinggal di tanah—ia bergejolak di dalam dirinya. Sesuatu mulai terbangun jauh di kedalaman, bukan rasa sakit… melainkan kesadaran.

"Pikiran dipercepat…" gumamnya.

Di sampingnya, Tome Omnicent perlahan terbuka. Halaman-halamannya berbalik sendiri, bercahaya oleh kata-kata:

"Ketika kamu pingsan, kapasitas otakmu meningkat dua puluh persen. Saat melawan Julian, kamu menggunakannya tanpa sadar."

Kaivan menahan napas. Seolah ada dunia baru yang terbuka di dalam dirinya. "Tapi… bagaimana?" bisiknya.

Buku itu menjawab, kata-katanya seperti bisikan:

"Kendalikan seperti rasa takut, seperti adrenalin. Saat kamu takut, tubuhmu menjadi dingin karena darah dialihkan ke organ vital. Otak memicu mode bertahan hidup. Sekarang, kamu bisa mengaksesnya lebih cepat. Dunia akan melambat, karena pikiranmu dipercepat."

Kaivan membaca setiap kata dengan saksama. Ini bukan sekadar kemampuan. Ini keajaiban. Namun sebelum euforia menutupi akalnya, peringatan lain muncul:

"Tanpa kendali, kekuatan ini bisa menghancurkan tubuhmu. Tubuh yang belum siap bisa runtuh menanggung bebannya."

Kaivan mengepalkan tangan. Bukan karena takut, tapi karena sadar: sesuatu di dalam dirinya telah berubah. Tidak ada jalan untuk kembali.

Senja melukis langit dengan warna jingga tembaga. Di lantai atas workshop, Kaivan berdiri, napasnya berat namun tatapannya tajam. Felicia mengamatinya dengan saksama, senyum tipis terlukis di bibirnya. Ada sesuatu yang berbeda darinya—lebih tenang, lebih teguh.

"Felicia," kata Kaivan mantap. "Kita lanjutkan."

Felicia mengangkat alis, sedikit terkejut, namun tidak menolak. Ia menyilangkan tangan. "Kamu yakin siap untuk serius?"

More Chapters