LightReader

Chapter 59 - Ia Datang Untuknya

Di kantin, Radit sedang tertawa bersama teman-temannya ketika pandangannya tiba-tiba membeku pada sosok yang berjalan mendekat. "Felicia?!" serunya kaget, langsung berdiri.

"Hehe, iya. Aku pindah ke sini," jawab Felicia santai. Ia menyibakkan rambutnya ke belakang, lalu menambahkan pelan, "Aku pindah karena Kaivan. Katanya dia sering dibully di sini… dan aku nggak bisa tenang kalau jauh darinya."

Radit terdiam sesaat, lalu mengangguk. "Dia di Kelas 11 IPA. Naik ke atas, belok kanan."

"Makasih, Radit!" Felicia melambaikan tangan ringan, lalu berjalan pergi dengan langkah yang membawa irama hati yang jatuh terlalu dalam.

Radit memandang punggungnya, senyum kecil tertarik di bibirnya. Jauh di dalam hati, ia tahu Kaivan tidak akan pernah siap menghadapi kejutan ini.

Di SMA Ratu, kehidupan jarang berubah. Namun hari ini, sesuatu mengganggu rutinitas itu. Seorang gadis melangkah masuk, langkahnya ringan, rambut hitamnya mengalir seperti tengah malam, matanya tajam namun hangat. Felicia.

"Permisi, Kelas 11 A di sini?" Suaranya lembut, namun tegas. Dua siswa di dekat pintu langsung membeku.

Dandi menunjuk gugup. "I-iya, di ujung lorong."

Rina menatap Felicia tajam. Ada sesuatu yang terasa aneh darinya. Tanpa berkata apa-apa, ia langsung berlari ke kantin.

Di sana, Tania sedang bersantai. Rina mendekat dengan napas terengah. "Dia… gadis itu, sekarang jadi murid di sini."

Tania langsung duduk tegak. "Siapa?"

"Yang pernah ngehina kamu," bisik Rina. Tangan Tania meremas gelas plastiknya sampai retak. "Dia lagi jalan ke kelasnya Kaivan," tambah Rina.

"Bagus," gumam Tania pelan, senyum gelap menyebar di wajahnya. "Hari ini dia bakal nyesel."

Sementara itu, Felicia berjalan menuju kelas Kaivan. Bisikan mengikuti langkahnya, namun ia tetap maju. Pintu kelas sudah di depan. Jantungnya berdetak kencang.

Di dalam, Kaivan duduk linglung, baru saja menghabiskan makan siang yang dibuat Thivi. Ia meraih botol minumnya ketika tiba-tiba, dua tangan menutup matanya.

"Tebak siapa?" Suara ceria Felicia berbunyi.

Kaivan langsung menarik tangan itu dan berbalik. Matanya membesar melihat Felicia berdiri di depannya. Senyumnya seperti sinar matahari yang menembus awan gelap di pikirannya. Ia membawa kotak makan dengan pita kecil, tanda ia menyiapkannya dengan penuh perhatian.

"F-Felicia? Kamu ngapain di sini?" tanya Kaivan, bingung namun sedikit senang. Kehangatan pelan menyebar di dadanya.

Senyum Felicia melebar. "Hehe, aku pindah ke sini! Aku dengar kamu sering diganggu di sekolah ini. Aku nggak bisa tenang kalau nggak ada di dekatmu." Kata-katanya ringan, tapi penuh ketulusan.

Kaivan terdiam. Matanya berpindah antara Felicia dan kotak makan kosong di tangannya. "Aku tahu kamu pindah… tapi kenapa harus ke kelasku?" gumamnya, mengangkat kotak makan kosong itu.

Ekspresi ceria Felicia langsung mengeras. Mata merahnya menajam saat menatap kotak makan itu. Ia melangkah cepat mendekat, membuat Kaivan refleks bersandar ke belakang. Tangannya yang kuat mencengkeram bahu Kaivan, menahannya.

"Itu… masakan Thivi, kan?!" tanyanya tegas, tatapannya menembus dirinya. Tekanan di suaranya membuat Kaivan merasa seperti sedang diinterogasi.

Kaivan menelan ludah, tak berdaya di bawah tatapannya. "I-iya… itu masakan Thivi," akunya canggung.

Kelas 11 yang tadinya tenang mulai berubah, perhatian beralih pada Felicia yang berdiri di meja Kaivan. Kehadirannya seolah mengubah udara di ruangan. Rambut hitam panjangnya jatuh sempurna hingga pinggang, berkilau diterpa cahaya matahari dari jendela. Senyum tipis di bibirnya membawa keanggunan sekaligus kekuatan yang tak bisa diabaikan.

"Kamu masih lapar, kan, Kaivan?" tanya Felicia lembut, meski matanya menunjukkan tekad yang tak bisa ditolak. Suaranya memotong keramaian kelas, dan tiba-tiba suara lain memudar menjadi hening. Semua siswa yang tadinya sibuk kini menahan napas, menatap penuh rasa ingin tahu.

Kaivan membeku. Ia baru saja menghabiskan makan siang dari Thivi, namun tatapannya berpindah dari wajah Felicia ke kotak makan yang ia sodorkan. Ia tahu gadis ini tidak akan menerima jawaban setengah hati. Dengan senyum kecil canggung, ia menjawab, "Aku sudah makan… tapi ya, kayaknya masih agak lapar, hehe."

Felicia tidak memberinya ruang untuk mundur. Dengan gerakan cepat namun anggun, ia membuka kotak makannya. Aroma hangat langsung menyebar ke udara, memenuhi ruangan. Ia duduk di kursi seberang Kaivan, bergerak seolah tempat itu memang selalu miliknya.

"Kalau begitu, aku yang suapin kamu. Buka mulut, aaah." Ia menyodorkan suapan makanan ke arahnya.

Kaivan tidak punya pilihan. Dengan ragu, ia membuka mulut dan menerima suapan itu. Setiap suapan terasa semakin berat. Perutnya yang sudah penuh mulai protes, tapi ia memaksa dirinya mengunyah dan menelan. Jauh di dalam, ia tahu Felicia tidak akan menerima penolakan.

Bisikan mulai menyebar di kelas, menyelinap di antara napas para siswa. Tatapan penasaran mengarah ke mereka.

"Dia murid baru?" "Cantik banget… pacarnya Kaivan ya?" "Pantes dia cuekin Tania."

Kaivan mendengar semuanya, tapi sulit fokus pada hal lain. Felicia duduk di sana, tersenyum hangat saat melihatnya makan, ekspresinya memancarkan kepuasan.

Setelah selesai, Felicia merapikan kotak makannya dengan rapi. Kaivan, mencoba mencairkan suasana, bertanya, "Jadi… kamu di kelas mana? Kamu pindah ke sini sejak kapan?"

More Chapters