LightReader

Chapter 64 - Kebetulan yang Bukan Kebetulan

"Hei! Minggir dari motormu!" Teriakan itu menembus hiruk-pikuk kota seperti peluru. Kaivan refleks menepi, dengungan mesin motornya perlahan tenggelam ke dalam keheningan yang terasa ganjil. Tatapan-tatapan penasaran berkilat ke arahnya, seolah kerumunan bisa merasakan sesuatu akan terjadi—sesuatu yang berbahaya, namun anehnya sulit untuk tidak disaksikan.

Dadanya menegang. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan badai yang tiba-tiba mengamuk di dalam dirinya. Bukan karena takut, melainkan karena ia tahu ini bukan jenis pertarungan yang ia inginkan. Namun takdir sudah menggambar lingkarannya. Ia menoleh, menatap balik seorang pria yang berdiri tegap, bahu lebar, tinju terkepal. Wajah pria itu memerah, bukan karena lelah, melainkan karena panasnya amarah.

"Ada yang bisa saya bantu?" suara Kaivan tenang, nyaris lembut. Namun di balik kelembutan itu tersimpan ketegasan yang menjaga harga dirinya.

Pria itu melangkah mendekat, sepatu boots beratnya menghantam aspal, menyeret aura permusuhan bersamanya. Matanya tajam, seolah mencari celah sekecil apa pun untuk menyulut konflik. Dunia seakan menahan napas, menyisakan dua pusat gravitasi yang saling menatap tanpa berkedip.

"Kau hampir bikin aku celaka! Tanggung jawab!" kata-katanya menggelegar, lebih keras dari raungan mesin di sekeliling mereka. Tak ada ruang untuk logika, hanya tuduhan.

Kaivan menguatkan tekadnya. Ia tahu betapa mudah dunia terbakar hanya karena satu percikan kecil. Jadi ia tetap diam, tenang, tatapannya tak goyah. "Kalau begitu… bagaimana kamu ingin saya bertanggung jawab?" Suaranya jatuh seperti batu ke permukaan air yang tenang—hening, namun menciptakan riak.

Pria itu mendongakkan dagu, kesombongan berkilat di matanya. "Seratus ribu rupiah. Sekarang." Tangannya terangkat, seperti palu yang siap menghantam sisa kesabaran Kaivan.

Kaivan tetap diam, menimbang permintaan yang bukan berat karena nominalnya, tapi karena maknanya. Ia tahu ini bukan soal uang, melainkan soal harga diri—yang terluka dan sedang diuji. Namun waktu tak memberi ruang bagi ego. Ia merogoh tasnya, mencari amplop yang sudah ia siapkan sebelumnya. Jarinya menyentuh lembaran uang. Di balik ketenangan wajahnya, tersisa bayangan kekecewaan yang samar.

Saat uang itu berpindah ke tangan pengendara itu, sesuatu berubah. Ekspresi keras pria itu melunak, amarah di matanya meredup menjadi kebingungan yang sunyi. Ia menatap Kaivan, seolah melihat sesuatu yang tak ia duga dari pemuda di hadapannya.

"Ini, Pak. Maaf kalau saya hampir menyebabkan kecelakaan," kata Kaivan tenang. Suaranya membawa ketegasan halus yang tak mau runtuh. Tangannya sempat tertahan di udara beberapa detik lebih lama, tetap stabil meski hatinya bergejolak.

Pria itu menerima uang itu tanpa sepatah kata pun. Tatapannya tertinggal, dipenuhi pertanyaan yang tak pernah ia ucapkan. Ia membalik lembaran uang itu sekali, lalu memasukkannya ke saku. Anggukan singkat menutup ketegangan singkat di antara mereka sebelum ia menyalakan mesin dan menghilang dalam arus lalu lintas yang tak peduli.

Kaivan tetap berdiri, menatap punggung pria itu yang perlahan larut dalam keramaian. Kota di sekitarnya meraung dengan suara dan pergerakan, namun di dalam dirinya terbentang keheningan yang tak mau hilang.

Di tempat lain, di bawah sorot lampu jalan dan raungan mesin, sekelompok pemuda berkumpul. Di antara mereka berdiri Ethan, jaket kulitnya berkilau samar di bawah cahaya pucat kota. Senyum miring bermain di bibirnya.

"Bro, kalian nggak bakal percaya barusan kejadian apa," katanya membanggakan diri. "Ada bocah nyenggol gue, terus aku panggil. Dia langsung bayar. Nggak bantah sama sekali. Gampang banget dapat duit."

Seorang temannya yang berambut panjang dan memakai jaket robek tertawa serak, menepuk bahu Ethan. "Serius lu? Gila, gampang banget itu duit."

Ethan mengangguk, rasa percaya dirinya mengembang. "Iya, asli. Kayaknya seumuran kita, mungkin masih SMA. Tapi dia bawa duit banyak. Aku sempat lihat isi amplopnya. Kayaknya lebih dari tiga juta." Nada suaranya naik, masih terbawa euforia ingatan itu.

Tawa mereka menggema di malam hari. Seorang pria bertato menyeringai. "Kalau ketemu lagi, bawa ke sini. Kita bisa manfaatin orang kayak gitu, hah!" Gelak tawa mereka bercampur dengan suara mesin motor yang meraung di tepi jalan.

Sementara itu, Kaivan berhenti di sebuah kota kecil bernama Cikalong. Ia menatap langit malam, jernih dan luas, seperti halaman kosong yang menunggu untuk ditulisi. Kota itu terasa asing, namun entah kenapa memanggilnya. Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan Tome Omnicent, buku tua yang terikat kayu usang, berbisikkan rahasia dari zaman lain.

Dengan hati-hati, ia membuka lembar-lembar halamannya. Huruf-huruf samar mulai muncul, seperti tinta yang merembes dari pembuluh tersembunyi kertas. Huruf-huruf itu membentuk satu kalimat yang menyambar seperti kilat:

"Raphael dapat ditemukan melalui pengendara motor yang kau temui hari ini."

Kaivan membeku. Napasnya tersendat saat menatap halaman yang kini terasa lebih berat daripada takdir itu sendiri. "Pengendara itu… Ethan?" gumamnya. Apa yang dulu tampak seperti kebetulan kini menunjukkan pola. Takdir dan kebetulan terjalin terlalu rapi untuk diabaikan.

Ia menutup buku itu perlahan, lalu menghela napas. "Harusnya kau bilang dari awal saja," gumamnya pelan, setengah kesal, setengah pasrah. Buku itu, hidup dalam diamnya, tak memberi suara sebagai jawaban. Sebaliknya, kalimat lain muncul, samar namun pasti:

"Aku hanya menyediakan jalur paling efisien."

Kaivan menghela napas panjang. Kata-kata Tome itu, misterius sekaligus kejam, tak pernah meleset dari sasarannya. Menerima hal yang tak terelakkan, ia memasukkan kembali buku itu ke tasnya dan menyalakan mesin motornya. Udara malam bergetar saat motornya kembali meraung hidup. Ia berbalik arah, kembali menuju Cimahi, kota tempat ia pertama kali bertemu Ethan. Ini tak pernah masuk rencana, tapi perjalanannya memang jarang mengikuti niatnya. Setiap belokan, setiap napas, seolah sudah tertulis di halaman hidup milik Tome.

Saat jalan membentang di depannya, pikirannya terus berputar tanpa henti. Siapa sebenarnya Ethan? Kenapa dia menjadi kunci untuk Raphael? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di benaknya seperti roda di bawahnya—tak kenal lelah, tak pernah berhenti.

Saat matahari mulai condong ke barat, Kaivan kembali menyusuri jalan-jalan berliku itu. Hatinya tetap tajam, meski pikirannya dipenuhi kegelisahan. Namun ia tetap percaya pada petunjuk Tome. Bisikannya tak pernah berbohong.

Saat akhirnya ia tiba di Cimahi, langit senja meneteskan warna oranye di atas garis kota. Ia menepi, membuka kembali Tome Omnicent, dan membiarkan jarinya menyentuh halaman-halaman tua yang rapuh oleh waktu. Dan di sana, garis-garis samar kembali muncul, membentuk peta dengan presisi yang tak manusiawi. Peta itu menunjuk ke sebuah tempat nongkrong kecil di pinggir jalan.

Motor-motor berjejer di tepi jalan, tawa bercampur dengan udara yang dipenuhi asap rokok. Tatapan Kaivan langsung mengunci Ethan di antara mereka—pemuda yang sama seperti tadi siang, tersenyum lebar, tenggelam dalam canda dan kebisingan. Waktu seakan berputar kembali, menariknya masuk ke pusat benang takdir yang sedang terurai.

Kaivan memarkir motornya beberapa meter dari sana. Saat mata mereka bertemu, tawa itu langsung mati. Keheningan jatuh berat di antara mereka saat Kaivan berjalan mendekat, langkahnya terukur namun terasa menekan.

Ethan menegakkan tubuhnya, alisnya berkerut. "Hei… itu orang yang tadi siang kasih aku seratus ribu," bisiknya, cukup keras hingga Kaivan bisa mendengarnya.

Suasana santai itu langsung hancur. Tatapan kelompok itu berubah waspada, tajam. Kaivan berhenti tepat di depan Ethan, tatapannya tak bergeser.

"Kamu Ethan, kan? Yang tadi siang."

Ethan berkedip, ragu. "Iya… kenapa?"

 

More Chapters