LightReader

Chapter 261 - Ada Hal-Hal yang Tidak Bisa Diperbaiki

Tiba-tiba...

Ledakan tawa menggema dari dek observasi di atas.

"HUAHAHAHAHA! Ini luar biasa! Baru kali ini aku melihat AI jatuh hati pada manusia!"

Suara itu terdengar dari pengeras suara utama.

Di dinding kaca sebelah kanan, sebuah layar besar menyala dan menampilkan wajah Levan.

Ia tertawa tanpa kendali sambil memegangi perutnya. Air mata hampir keluar dari sudut matanya.

"Ariah! Rekam semua ini untukku! Jangan lewatkan sedetik pun!" serunya di sela-sela tawanya.

"Baik, Tuan Levan. Saya akan menyimpannya ke dalam Arsip Interaksi AI-Manusia. Folder baru: 'Interaksi Romantis Tak Terduga'," jawab ARIAH dengan nada datar, suaranya efisien dan tanpa emosi.

Sore perlahan berganti menjadi malam musim gugur yang tenang. Angin dingin menyapu sisi luar fasilitas, meninggalkan lapisan embun beku tipis di kaca jendela. Kaivan baru saja menyelesaikan latihannya menggunakan kujang berantai dan pelindung lengan yang terpasang pada tubuh barunya. Langkah kakinya bergema di lantai logam saat ia berjalan menuju ruang kendali.

Levan duduk di depan sebuah konsol raksasa. Jari-jarinya menari di atas papan ketik holografik. Data medis dan grafik-grafik rumit bergerak di layar lebar di hadapannya. Kaivan mendekat dengan wajah serius dan mata yang menyimpan harapan yang tak terucapkan.

"Levan... bagaimana keadaan kakakku?" tanyanya pelan. Suaranya berat oleh kelelahan dan kekhawatiran.

Levan terdiam sejenak. Ia menarik napas panjang sebelum menoleh.

"Dia masih koma, Kaivan. Tidak ada perubahan. Kerusakan pada otaknya terlalu parah," jawabnya datar, meski simpati yang mendalam terasa jelas dalam suaranya.

Kaivan menundukkan kepala.

Matanya terpejam saat berusaha menahan gelombang emosi yang menghantam dadanya.

"Tidak ada cara lain?" suaranya terdengar serak.

Levan menggeleng perlahan.

"Seberapa pun canggihnya peralatan yang kita miliki, jaringan otak yang rusak tidak bisa diperbaiki. Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkannya."

Tanpa mengatakan apa pun lagi, Kaivan berbalik dan meninggalkan ruangan.

Langkahnya terasa berat, seolah ia sedang memikul beban yang tak terlihat.

Ia memasuki kamarnya yang remang-remang, ditemani dengungan konstan dari mesin pendingin.

Suara langkah kaki lembut terdengar dari belakangnya.

Kaivan menoleh.

Lyra masuk dengan tenang. Rambut cokelatnya berkilau di bawah cahaya biru lembut ruangan. Kehangatan yang ia bawa menembus dinginnya logam yang mengelilingi mereka.

"Kaivan, sudah waktunya makan malam. Jangan lupa memeriksa cincin neuron di lengan dan kakimu," kata Lyra tenang. Suaranya lembut dan tanpa nada menghakimi.

Kaivan hanya mengangguk.

"Baik..." jawabnya pelan.

Matanya tampak redup, seolah semangatnya hampir terkuras habis.

Lyra berdiri di sampingnya dan memandangnya dengan tatapan yang sulit dibaca.

"Kakakmu sangat penting bagimu? Seperti... pasangan?" tanyanya polos.

Kaivan langsung menoleh, terkejut.

Ia menarik napas sebelum menjawab.

"Dia adalah orang yang selalu melindungiku... selalu membantuku," katanya pelan.

Lyra memiringkan kepala, berusaha memahami.

"Apakah itu sama seperti aku? Aku juga membantumu," ujarnya lugas, seolah sedang mencoba memahami hubungan manusia melalui logika yang belum lengkap.

Kaivan mengembuskan napas panjang.

Wajahnya dipenuhi kesedihan yang terlalu dalam untuk dijelaskan dengan kata-kata.

"Bukan hanya karena dia membantuku," gumamnya pelan, hampir seperti berbicara kepada dirinya sendiri. "Karena kami lahir dari ibu yang sama. Dan... Ibu..."

Kata-katanya memudar, ditelan oleh emosi yang tidak lagi mampu ia kendalikan.

Bayangan mendiang ibunya muncul samar di benaknya. Lembut, namun terasa begitu menyakitkan.

Lyra berdiri beberapa langkah darinya.

Tubuh barunya memancarkan kesan kemanusiaan yang masih terasa asing. Mata hijau zamrudnya memandang Kaivan dengan tenang, dingin namun dipenuhi keinginan untuk memahami.

"Maaf. Aku membuatmu mengingat sesuatu yang menyakitkan," katanya.

Suaranya terdengar datar, namun ada ketulusan yang tersembunyi di baliknya.

Kaivan menatapnya.

Lalu memberikan senyum kecil.

"Tidak, Lyra. Tidak apa-apa."

More Chapters