"Mereka mengkhianatiku," bisiknya. "Aku memberikan segalanya... tapi pada akhirnya, aku hanya dimanfaatkan. Rina dan Tania... mereka bekerja sama. Setelah itu, aku berhenti percaya pada cinta."
Lyra tetap diam. Ia sedikit mendekat. Daun-daun gugur hinggap di bahunya tanpa ia sadari. Mata zamrudnya terus tertuju pada Kaivan, seperti cermin yang menampung setiap serpihan emosi yang keluar darinya.
Kaivan kembali berbicara, suaranya terdengar lebih berat.
"Semuanya berubah saat aku menemukan Tome Omnicent. Buku itu memberiku pengetahuan... tapi dengan harga yang mengerikan. Aku kehilangan kendali atas hidupku sendiri. Bahkan teman-teman yang kumiliki sekarang..." Ia menatap danau yang berkilauan di bawah cahaya bulan. "Radit, Zinnia, Thivi, Felicia, Ethan, Frans, Raphael, Livia, Isabel... aku tidak memilih mereka. Rasanya seperti buku itu yang memilih mereka untukku."
Lyra meluruskan punggungnya. Tangan kirinya menyentuh rerumputan. Gerakannya masih kaku, tetapi lembut, memberi Kaivan ruang untuk melanjutkan ceritanya.
"Tapi semua itu tidak lagi berarti setelah..." Suaranya melemah. "Setelah Vella datang. Dia membunuh ibuku. Menyerang kakakku. Dan aku tidak bisa melakukan apa pun. Aku terlambat... aku gagal melindungi mereka. Sekarang aku takut jika aku mencintai seseorang, mereka akan menghilang lagi."
Suaranya benar-benar pecah. Bahunya bergetar saat air mata mengalir di pipinya yang memerah karena udara malam yang dingin. Ia menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan kesedihannya. Kedua tangannya mencengkeram celananya erat, seolah mencoba menahan rasa sakit yang terus menggerogoti dirinya.
Keheningan menyelimuti mereka. Daun-daun berguguran tanpa suara, menutupi jejak-jejak yang tertinggal di tanah.
Beberapa saat kemudian, Lyra akhirnya berbicara dengan suaranya yang tenang namun tulus.
"Jadi... kau pernah jatuh cinta sebelumnya?"
Kaivan mengangkat kepala. Mata yang dipenuhi air mata itu bertemu dengan tatapan zamrud milik Lyra. Ia mengangguk perlahan.
"Tapi setelah itu aku tidak pernah memikirkan cinta lagi," katanya pelan. "Aku membencinya. Saat Tania meminta maaf, aku menolaknya. Aku pikir aku benar... tapi karena kemarahanku, aku kehilangan kendali. Vella memanfaatkan kesedihan Tania, dan aku kehilangan keluargaku."
Air matanya kembali jatuh. Ia memalingkan wajah, tetapi Lyra perlahan bergerak mendekat. Lengan dingin namun lembut itu melingkupinya. Gerakannya canggung, seperti sebuah mesin yang baru belajar menyentuh untuk pertama kalinya. Namun dari pelukan itu mengalir kehangatan yang begitu tulus.
"Jika kau menyesalinya," kata Lyra mantap, "maka selesaikanlah... agar kau tidak menyesal lagi, Kaivan."
Tangannya sedikit gemetar di atas bahu Kaivan, tetapi ia tidak melepaskannya.
Di bawah cahaya bulan yang menyelimuti mereka, Kaivan perlahan menyandarkan dirinya ke dalam pelukan Lyra. Tangisnya pecah tanpa bisa ditahan lagi. Tubuhnya bergetar di dalam pelukan itu, seperti anak kecil yang tersesat dan tak memiliki tempat untuk pulang.
"Semuanya sudah tidak berarti lagi, Lyra..." tangisnya di sela isakan. "Ibuku... sudah tiada. Apa pun yang kulakukan, aku tidak bisa mengubah itu."
Lyra tidak menjawab. Ia membiarkan Kaivan menangis. Ia membiarkan beban yang selama ini dipendamnya larut ke dalam udara malam yang dingin. Jemarinya dengan lembut menyisir rambut Kaivan yang berantakan, selembut salju yang jatuh di ujung rumput.
Di dalam keheningan itu, hanya terdengar napas yang berat dan suara daun-daun yang menyentuh tanah.
"Tidak apa-apa, Kaivan... selama kau masih hidup, itu sudah cukup," kata Lyra akhirnya. Suaranya lembut, hampir seperti bisikan, namun penuh ketulusan. Ia terus memeluknya sambil mengusap kepalanya perlahan. "Kakakmu masih ada. Dan ada aku juga... yang akan menghiburmu kapan pun kau membutuhkannya."
Supermoon menggambar siluet mereka. Dua bayangan panjang terbentang di atas rerumputan yang diselimuti embun, hitam dan perak, membeku namun terasa hangat. Keindahan langit malam tidak mampu menyembunyikan kesedihan yang masih memenuhi hati Kaivan.
"Aku tidak pernah bisa membicarakan ini kepada teman-temanku," gumam Kaivan dengan suara serak. "Aku tidak pernah bisa menunjukkan sisi diriku yang seperti ini. Kau satu-satunya yang kupercaya. Tolong... jangan beri tahu laboratorium. Jangan beri tahu siapa pun. Terutama mereka."
Lyra mengangguk perlahan. Ia menyimpan janji itu jauh di dalam sistem memorinya, sebagai sesuatu yang tidak akan pernah dihapus. Tangannya yang sejuk terus membelai rambut Kaivan. Dan di suatu tempat, jauh di dalam algoritmanya, sesuatu yang menyerupai kasih sayang mulai tumbuh.
Setelah beberapa saat, Kaivan perlahan bangkit dari pangkuannya. Ia menghapus air mata dan berusaha berdiri tegak kembali. Lyra memperhatikannya cukup lama sebelum akhirnya berbicara. Suaranya terdengar lebih hangat dari sebelumnya.
"Kaulah orang yang memberiku kesempatan untuk hidup," katanya lembut.
Bibirnya menyentuh pelipis Kaivan dengan ringan, selembut hembusan musim semi.
"Rahasiamu aman bersamaku, Kaivan. Terima kasih... karena telah memberiku alasan untuk hidup."
Langit malam seakan merendah, menyelimuti dunia dengan selimut keheningan. Supermoon melayang tinggi di atas sana, memancarkan cahaya dingin yang perlahan menghangatkan hati dua jiwa yang akhirnya saling terbuka. Udara tak lagi terasa menusuk, seolah telah dilunakkan oleh pengakuan yang akhirnya terucap.
Tanpa banyak kata, mereka meninggalkan padang rumput itu bersama-sama. Langkah mereka tenang dan mantap. Sebuah jip hitam menunggu tidak jauh dari sana, mesinnya berdengung lembut di balik kabut tipis.
Kaivan mengambil kursi penumpang. Jip itu bergerak perlahan menyusuri jalan berliku di Pegunungan Kaukasus. Udara musim gugur masuk melalui jendela, membawa aroma pinus dan tanah yang lembap. Wajah Kaivan yang biasanya tenang kini tampak gelisah. Garis-garis samar di antara alisnya memperlihatkan konflik yang masih berputar di dalam dirinya.
Keheningan panjang memenuhi kabin. Hanya suara mesin dan gesekan ban di atas kerikil yang terdengar.
"Kaivan..."
Suara Lyra akhirnya memecah kesunyian. Lembut, seperti angin yang menyapu kain. Tangan kirinya bertumpu di atas dada, tepat di atas irama stabil jantung sintetisnya. Ada keraguan dalam gerakannya, seperti seseorang yang baru pertama kali belajar memahami arti detak jantung.
Kaivan menoleh ke arahnya. Tatapannya bertemu dengan wajah Lyra yang diterangi cahaya lembut dari dasbor. Begitu manusiawi hingga sulit dipercaya bahwa ia bukan terbuat dari darah dan daging.
Lyra meliriknya sesaat, lalu mengembalikan pandangannya ke jalan kosong di depan.
"Orang seperti apa... yang bisa kau sukai?" tanyanya pelan. "Seseorang yang bahkan bisa... kau cintai?"
Kaivan memiringkan kepala. Ekspresinya merupakan campuran antara kebingungan dan kelelahan.
"rasanya seperti De Javu ,Kau orang ketiga yang menanyakan itu padaku," katanya pelan. "Thivi pernah bertanya. Felicia juga."
Lyra tetap diam, menunggu. Kedua tangannya sedikit mengencang di kemudi, memperlihatkan ketegangan halus yang tersembunyi di jemarinya.
"Katakan padaku, Kaivan. Aku ingin tahu," ujarnya lagi. Suaranya lembut, namun dipenuhi rasa penasaran.
Kaivan mengembuskan napas panjang. Kabut tipis terbentuk di udara dingin. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap langit malam melalui jendela, membiarkan pandangannya mengembara di antara bintang-bintang. Suaranya datar, seperti kata-kata yang telah terlalu sering ia ulang dalam benaknya.
