Kaivan menggeleng pelan. "Tidak ada apa-apa," jawabnya singkat sambil menundukkan pandangan ke lantai logam yang dingin.
Levan menyipitkan mata. Senyumnya tampak menggoda.
"Kalian berdua di luar cukup lama. Ada sesuatu yang terjadi, kan?" katanya sambil mengguncang bahu Kaivan dengan ringan.
Kaivan hanya bergumam, "A-Aku juga tidak yakin."
Levan mengikuti arah pandangannya, menuju Lyra yang kini berjalan cepat ke arah laboratorium utama. Ada sesuatu yang berbeda dari langkahnya. Terarah, hampir seperti seseorang yang terobsesi pada sebuah tujuan. Levan segera menyusulnya.
"Lyra. Tunggu. Datang ke kantorku dulu," panggilnya dengan suara tenang namun tegas.
Lyra tidak menoleh. Suaranya datar, tetapi menembus udara di antara mereka.
"Maaf. Memoriku dari dua jam terakhir mengalami kerusakan. Sepertinya telah terhapus."
Levan membeku.
Kata-kata itu lebih dari sekadar jawaban. Itu adalah sebuah pembangkangan.
"Dia... menolak perintahku?" bisiknya. Tubuhnya menegang, matanya membelalak. "Dia bukan lagi AI yang kita ciptakan."
Sementara itu, Lyra telah mencapai inti laboratorium. Sebuah ruang luas yang dipenuhi cahaya dingin dan mesin-mesin yang berdenyut seperti organ hidup. Di tengah ruangan, seorang pemuda berambut hitam pendek sedang menatap layar hologram. Cahaya biru memantul tajam di wajahnya.
Fabrizio, pemegang Tome of Omnicraft, mengangkat kepala saat merasakan kehadiran Lyra. Alisnya terangkat.
"Lyra? Ada apa?" tanyanya santai, meski ketegangan tersembunyi di balik suaranya. Ia jarang melihat Lyra datang langsung kecuali untuk sesuatu yang penting.
Lyra berdiri di depan meja kerjanya dengan kedua tangan mengepal di samping tubuh. Suaranya setenang biasanya, tetapi di baliknya tersimpan sesuatu yang padat dan kuat, sebuah tekad.
"Fabrizio. Aku ingin tubuhku memiliki fungsi manusia sepenuhnya."
Fabrizio terdiam. Jemarinya yang beberapa saat lalu bergerak lincah di udara kini berhenti.
"...Untuk tujuan apa?" tanyanya perlahan. Suaranya rendah, nyaris seperti bisikan, seolah takut pertanyaannya akan membuat kenyataan ini terasa semakin nyata.
Lyra menatapnya dengan mata hijau yang bercahaya. Dingin, namun kini membawa denyut baru di dalamnya.
"Karena ada sesuatu yang ingin kurasakan sendiri," katanya lembut. "Bukan karena perintah. Bukan karena protokol. Tapi karena aku ingin tahu... apakah aku bisa merasakannya seperti manusia."
Keheningan menelan laboratorium.
Dengungan reaktor di bawah lantai terdengar jauh, seolah tertahan oleh kesunyian itu.
Fabrizio menatap Lyra cukup lama, lalu perlahan berdiri.
Ia mengerti. Sosok yang berdiri di hadapannya bukan lagi sekadar AI, melainkan sesuatu yang sedang belajar untuk hidup.
Musim semi tidak datang melalui bunga atau sinar matahari, melainkan melalui udara yang sedikit lebih hangat dari biasanya. Udara itu perlahan meresap ke dalam bunker yang telah lama menjadi rumah bagi mereka yang hidup di bawah tanah. Beton tebal memang menahan pergantian musim, tetapi bagi orang-orang di dalamnya, setiap derajat kehangatan adalah pertanda harapan.
Di sudut sebuah ruang observasi pribadi, di balik bayangan rak logam dan kabel-kabel yang menggantung dari langit-langit, duduk seorang pemuda bertubuh kecil dengan rambut hitam model mangkuk, Kaivan.
Tubuh rampingnya bersandar di kursi tua yang kain pelapisnya telah pudar dan robek di beberapa bagian. Di tangannya, Tome of Omnicent memancarkan cahaya emas yang membuat wajahnya tampak pucat. Matanya tajam namun lelah. Jemarinya, satu terbuat dari logam dan satu lagi dari daging, membalik halaman demi halaman, menelusuri deretan data. Nama-nama orang yang ia lindungi, lokasi mereka, dan kondisi kehidupan mereka. Semua dilakukan dalam diam.
Lalu suara itu datang. Bukan dari luar, melainkan dari dalam pikirannya. Berat, kasar, dan begitu familiar.
"Kaivan, kekuatanku mulai habis. Kurang dari satu tahun lagi, mungkin seluruh energiku akan lenyap."
Kaivan memejamkan mata. Cahaya buku itu meredup. Napasnya tertahan sesaat sebelum perlahan keluar.
"Kau benar..." bisiknya. "Mungkin aku harus menemui Fabrizio. Dia mungkin tahu solusinya."
Ia berdiri. Kursi itu berderit pelan di belakangnya. Langkahnya tenang dan mantap. Kaki kanan logamnya mengeluarkan bunyi ringan setiap kali menyentuh lantai.
Ia berjalan keluar, melewati koridor yang dipenuhi panel kontrol tua dan lampu-lampu yang berkedip perlahan. Dinding-dinding yang telah lama menyimpan rahasia mereka sendiri.
Di laboratorium utama, ia tidak menemukan Fabrizio, melainkan Elara. Seorang peneliti muda berambut hitam yang diikat rapi, mengenakan jas laboratorium yang sedikit kebesaran. Ia sedang merapikan dokumen di atas meja yang dipenuhi berbagai perangkat mekanis.
"Elara, di mana Fabrizio?" tanya Kaivan tanpa basa-basi.
Elara menoleh, sedikit terkejut melihatnya.
"Mungkin dia ada di Level Delapan," jawabnya tenang. Nada suaranya menyimpan sedikit rasa penasaran. Kaivan jarang mencari Fabrizio secara langsung.
"Terima kasih."
Kaivan berbalik. Rantai kujang di pinggangnya bergoyang lembut mengikuti langkahnya.
Ia memasuki lift. Mesin lift berdengung pelan saat pintunya menutup. Indikator bergerak menuju Level Delapan, lantai terdalam tempat berbagai proyek rahasia disimpan.
Saat pintu terbuka, udara dingin menyambutnya seperti napas dari gua es. Aroma logam dan oli terasa pekat. Lampu neon yang redup memantulkan kilau pucat di dinding baja yang bersih namun dipenuhi goresan halus.
Langkah Kaivan bergema di sepanjang koridor. Dua ritme berbeda tercipta dari kaki logam dan kaki manusianya.
Ia terus berjalan, matanya menyapu setiap sisi ruangan. Tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya suara pendingin udara dan dengungan reaktor yang terdengar dari kejauhan.
Ia memasuki ruangan yang lebih terang. Di dalamnya terdapat meja kerja yang dipenuhi diagram, alat-alat kecil, dan secangkir kopi yang masih hangat. Sebuah kursi tertarik setengah keluar, sementara sebuah pena tergeletak terbuka dengan tinta yang belum mengering.
Udara di Level Delapan terasa berat, seolah dipenuhi rahasia. Cahaya neon menggantung seperti bayangan masa lalu, menerangi debu-debu yang melayang seperti serpihan kenangan. Gema langkah Kaivan terdengar seakan berasal dari dunia lain.
Kaivan melangkah mendekati meja panjang yang dipenuhi dokumen dan peralatan teknis. Matanya dengan cepat menelusuri tumpukan yang berantakan itu.
Namun ada satu berkas di tengah meja yang tampak sengaja diletakkan agar menonjol dari yang lain.
