LightReader

Chapter 267 - Dirancang untuk Bertahan Hidup

Ia berhenti sekitar dua meter dari pemuda yang berdiri di tengah ruangan.

Fabrizio, yang bertubuh ramping dan berwajah serius, melirik ke belakang sesaat. Di hadapannya melayang sebuah tablet holografik transparan yang dipenuhi data berwarna biru. Senyum tipis sempat melintas di wajahnya sebelum ia kembali fokus pada pekerjaannya.

"Kenapa teman-temanku sekarang dipersenjatai sepenuhnya?" tanya Kaivan datar. Suaranya terdengar tegang, seperti tali yang hampir putus.

Fabrizio tidak langsung menjawab. Ia menggulir data di hadapannya, membiarkan keheningan menggantung sejenak, sebelum akhirnya menatap mata Kaivan.

"Ah... itu adalah data tentang teman-temanmu. Semuanya disusun berdasarkan nilai pelatihan dan kemampuan mereka."

Kaivan melangkah maju. Bahunya menegang.

"Data lengkap? Mereka juga berlatih seperti aku? Aku malah khawatir dengan Livia"

Tablet holografik itu menghilang saat Fabrizio menutupnya. Ia bersandar pada meja kerja dan melipat kedua tangannya.

"Tidak. Mereka hanya berlatih di ruang simulasi," jawabnya tenang.

Lalu suaranya merendah.

"Tapi mungkin... mereka pernah bertarung. Melawan Ya'juj dan Ma'juj."

Keheningan kembali turun.

Mesin-mesin di sekitar mereka berdengung pelan, seolah ikut menahan napas.

"Sejak kau kehilangan tangan, kaki, dan matamu, mereka berubah," lanjut Fabrizio dengan suara rendah. "Mereka ingin melindungimu, bukan dilindungi olehmu. Mereka berlatih diam-diam... karena merasa bersalah."

Kaivan menundukkan kepala. Tangannya mengepal di sisi tubuh. Ia tidak pernah meminta mereka ikut menanggung lukanya, tetapi rupanya penderitaannya telah menular kepada mereka.

"Mereka ingin berdiri di sampingmu, Kai. Bukan di belakangmu."

Kaivan menarik napas panjang.

Berbagai emosi memenuhi dadanya. Kemarahan, rasa syukur, dan kesedihan bercampur menjadi badai sunyi yang sulit dijelaskan.

Fabrizio berbalik, membuka laci di bawah meja, lalu mengangkat sebuah benda logam berat yang berkilau di bawah cahaya biru.

"Ngomong-ngomong," katanya, berusaha mencairkan suasana, "ini vambrace milikmu. Aku sudah meningkatkannya."

Kaivan menerima pelindung lengan itu dengan kedua tangan. Desainnya masih sama, logam gelap dengan ukiran-ukiran halus. Namun kini terdapat sebuah rongga besar di sisi kanannya.

"Apa yang berbeda?" tanya Kaivan. "Kelihatannya sama saja... kecuali lubang ini."

Fabrizio melangkah mendekat. Ujung jarinya menyentuh bagian yang ditunjuk Kaivan.

"Pertama, alat ini bisa menyuntikkan adrenalin dan pereda nyeri secara otomatis dalam keadaan darurat," jelasnya. "Kedua, rongga ini..."

Ia membentuk lingkaran dengan jarinya lalu menunjuk ke sisi lain vambrace tersebut.

"Kujangmu bisa disimpan di sini, terhubung dengan rantai baja. Dengan satu gerakan saja, kau bisa langsung menariknya keluar. Bahkan di tengah pertempuran."

Suaranya dipenuhi antusiasme.

Namun Kaivan hanya menatapnya datar.

"Jadi... kau benar-benar ingin mengubahku menjadi senjata hidup?"

Fabrizio terdiam.

Napasnya terasa lebih berat.

"Bukan begitu," katanya pelan. "Aku hanya ingin kau bertahan hidup. Semua ini dibuat untuk melindungimu. Bukan untuk mengubah siapa dirimu."

Kata-kata itu menggantung di udara.

Kaivan menunduk menatap vambrace di tangannya, merasakan dinginnya logam meresap ke kulitnya. Di sekelilingnya, senjata dan mesin-mesin seolah balas menatap dirinya, menghakimi keberadaannya dalam diam.

Ia berjalan menyusuri koridor laboratorium bawah tanah. Cahaya neon di langit-langit memantul di lantai baja, membentuk bayangan panjang setiap kali ia melangkah. Dengungan rendah mesin-mesin bergema seperti detak jantung tempat itu.

"Apakah semua ini benar-benar diperlukan... untukku, atau untuk teman-temanku?" gumamnya sambil menatap Tome of Omnicent di tangannya.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan.

Lalu tinta hitam di halaman buku itu mulai bergerak dengan sendirinya, membentuk kata-kata yang tajam dan tegas.

"Ini diperlukan. Musuhmu di masa depan akan jauh lebih kuat daripada Vella. Aku hanya ingin kau tetap hidup, agar keinginanmu dapat terwujud."

Kaivan membaca pesan itu tanpa berkata apa-apa.

Kemudian, cahaya biru di ujung ruangan menarik perhatiannya.

Sebuah kapsul kaca yang dipenuhi cairan bercahaya samar berdiri kokoh di sana, memantulkan sinarnya ke wajah Kaivan.

Di dalamnya... terdapat seorang wanita.

Ia melangkah mendekat perlahan.

Tubuh wanita itu tinggi, sekitar 200 sentimeter. Kulitnya berwarna cokelat hangat. Rambut panjangnya melayang lembut di dalam cairan. Proporsi tubuhnya nyaris sempurna, indah namun terasa jauh dan sulit dijangkau. Matanya terpejam tenang, seperti patung yang terkunci dalam tidur abadi.

"Siapa dia...?" bisik Kaivan. Napasnya membeku di udara dingin. "Kenapa dia ada di sini?"

 

 

More Chapters