LightReader

Chapter 1 - BAB 1 KEMATIAN PALING TIDAK BERGENGSI

Namaku Raka.

Usia dua puluh satu tahun.

Status: pengangguran semi-optimis.

Prestasi hidup: pernah bangun jam lima pagi tanpa alarm—sekali.

Masalah hidup: terlalu banyak untuk diingat satu per satu.

Aku bukan orang yang punya mimpi besar. Aku juga bukan tipe yang punya ambisi mengubah dunia. Kalau ada yang bertanya apa tujuan hidupku, biasanya aku jawab, "Yang penting hidup tenang."

Sayangnya, hidup tidak setuju.

Dan kematianku…

lebih tidak setuju lagi.

Hari itu adalah hari biasa. Tidak ada firasat. Tidak ada musik latar. Tidak ada kupu-kupu terbang lambat di depan wajahku. Aku bangun siang, main ponsel, makan seadanya, lalu mandi. Rutinitas klasik manusia tanpa masa depan jelas.

Masalah dimulai di kamar mandi.

Lantai basah. Air masih menggenang karena saluran mampet. Sandal jepit biru kesayanganku—yang kubeli karena diskon dan sudah menemaniku melewati banyak fase hidup—menunggu di depan pintu.

Aku melangkah.

Dan di situlah pengkhianatan terjadi.

Sandal itu licin.

Licin seperti niat mantan yang bilang mau balikan.

Kakiku terpeleset ke depan. Tanganku refleks bergerak mencari pegangan, tapi yang kutemukan hanya udara dan keputusasaan. Dalam sepersekian detik, pikiranku sempat berpikir:

"Wah, ini jatuhnya jelek."

Lalu…

GUBRAK.

Kepalaku menghantam lantai.

Tidak ada teriakan heroik. Tidak ada last words bermakna. Tidak ada pesan moral. Yang ada hanya sunyi dan rasa malu yang bahkan belum sempat kurasakan.

Gelap.

Aku mengira semuanya akan berakhir di sana.

Ternyata tidak.

Kesadaranku kembali perlahan, disertai suara yang sangat… tidak sakral.

"Nomor antrian delapan delapan dua satu, silakan maju."

Aku mengernyit.

Nomor antrian?

Aku membuka mata.

Yang kulihat pertama kali adalah warna putih. Putih di mana-mana. Lantai putih, dinding putih, langit-langit putih. Putih yang terlalu putih sampai terasa seperti ruangan belum selesai diwarnai.

Aku berdiri.

Di depanku ada meja panjang. Di balik meja itu berdiri seorang pria berjubah putih, rambut perak panjang, wajah tampan, dan ekspresi lelah seperti pegawai negeri yang sudah menghadapi terlalu banyak berkas hari ini.

Di tangannya ada clipboard.

Aku menelan ludah.

"Eh…" suaraku keluar pelan. "Permisi…"

Pria itu mengangkat kepala.

"Oh, kamu yang nomor 8821?"

"Sepertinya iya…?" jawabku ragu.

"Baik, silakan berdiri di lingkaran biru."

Aku menunduk. Di kakiku memang ada lingkaran bercahaya di lantai.

"Ini… di mana?" tanyaku.

"Ruang Administrasi Reinkarnasi."

Aku berkedip.

Sekali.

Dua kali.

"…kok administrasi?"

Pria itu menghela napas panjang, seperti sudah menjawab pertanyaan itu ribuan kali.

"Karena bahkan setelah mati, hidup tetap butuh pengarsipan."

Aku ingin protes, tapi anehnya… itu masuk akal.

Aku mengamati sekeliling. Ada banyak pintu putih berjajar. Di atas masing-masing pintu ada tulisan kecil: Reinkarnasi Dunia Sihir, Reinkarnasi Dunia Teknologi, Reinkarnasi Dunia Monster, dan lain-lain.

"Mas," kataku pelan, "aku… mati ya?"

"Iya," jawabnya santai.

"Beneran mati?"

"Iya."

"Permanen?"

"Iya."

"Penyebabnya apa?"

Dia menunduk membaca clipboard.

"Terpeleset sandal kamar mandi."

Aku menutup wajahku dengan kedua tangan.

"Tolong," kataku lirih. "Kalau bisa, jangan sebut itu keras-keras."

"Tidak bisa," jawabnya tanpa rasa bersalah. "Itu sudah masuk arsip abadi."

"ARSIP ABADI ITU NGAPAIN NYIMPEN HAL MEMALUKAN BEGINI?!"

"Untuk statistik."

Aku ingin menangis, tapi rasanya sudah terlambat untuk itu.

Setelah beberapa detik keheningan yang memalukan, pria itu menatapku lagi.

"Baik, Raka," katanya. "Karena kematianmu tergolong kecelakaan murni dan tidak disengaja, kamu memenuhi syarat untuk reinkarnasi."

Jantungku langsung berdebar.

"Reinkarnasi?" ulangku.

"Iya."

"Ke… dunia lain?"

"Iya."

"Yang ada sihirnya?"

"Iya."

"Pedang, naga, petualang?"

"Iya."

"AKU JADI HERO?"

Pria itu berhenti.

Ekspresinya berubah sedikit. Bukan sedih. Bukan marah. Lebih seperti… kasihan.

"Sayangnya," katanya pelan, "slot Hero Terpilih hari ini sudah penuh."

"…hah?"

"Hari ini banyak kematian massal. Kecelakaan lalu lintas. Ditabrak truk. Klasik."

Aku menatap kosong.

"Jadi… aku kalah saing sama orang-orang yang mati lebih keren?"

"Kurang lebih."

Aku menghela napas panjang.

"Terus aku jadi apa?"

"Kamu akan direinkarnasikan sebagai warga dunia lain biasa."

Hatiku langsung jatuh.

"Oh…"

"Tapi," lanjutnya cepat, "kamu tetap mendapatkan Sistem."

Mataku kembali berbinar.

"Sistem?"

"Iya."

Belum sempat aku bertanya lebih jauh, udara di depanku bergetar. Sebuah layar biru transparan muncul begitu saja, melayang tepat di depan wajahku.

[ SISTEM TELAH DIAKTIFKAN ]

Nama Sistem: Sistem Nanggung Tapi Berguna

Pemilik: Raka

Catatan: Kekuatan muncul sesuai kondisi paling tidak terduga

Aku membaca tulisan itu perlahan.

"…nanggung?" tanyaku.

"Iya."

"Kenapa namanya begitu?"

"Karena sistem ini tidak pernah muncul di kondisi ideal."

Aku mengernyit.

"Mas, sistem orang lain biasanya namanya 'Raja Terkuat', 'Dewa Kehancuran', atau 'Penguasa Segala'. Punyaku kenapa kayak judul skripsi mahasiswa tingkat akhir?"

"Itu hasil evaluasi."

"Evaluasi siapa?"

"Evaluasi hidupmu."

"…sakit."

Pria itu mencoret sesuatu di clipboard.

"Sebagai tambahan," katanya, "sistem ini tidak bisa kamu matikan."

"Tentu saja."

"Dan kekuatannya berkembang sesuai caramu bertahan hidup."

Aku terdiam sejenak.

"Mas," kataku akhirnya, "jujur aja… aku ini orang biasa. Aku nggak jenius. Nggak jago bertarung. Nggak punya bakat aneh."

Pria itu menatapku lama.

"Justru itu," katanya.

Sebelum aku sempat bertanya, cahaya terang menyelimuti tubuhku. Lingkaran di kakiku bersinar lebih kuat.

"Semoga beruntung," ucapnya.

"Mas, tung—"

Dunia berputar.

Suara menghilang.

Dan kesadaranku terlempar ke tempat lain.

Aku terbangun dengan napas terengah-engah.

Hal pertama yang kurasakan adalah angin. Sejuk. Nyata. Hal kedua adalah bau rumput. Hal ketiga adalah rasa sakit di punggung.

Aku membuka mata.

Langit biru membentang luas. Awan bergerak pelan. Di sekelilingku hamparan rumput hijau sejauh mata memandang.

"…aku hidup," gumamku.

Aku bangkit perlahan dan menepuk-nepuk tubuhku. Lengkap. Tangan, kaki, kepala. Semuanya ada. Pakaian yang kupakai bukan baju rumahku, melainkan pakaian sederhana seperti petani.

Perutku tiba-tiba berbunyi keras.

[ Sistem ]

Status: Lapar

Rekomendasi: Cari makanan sebelum pingsan

"Aku suka kamu langsung jujur," kataku.

Aku melangkah maju.

Dan saat itulah aku mendengar suara aneh dari semak-semak.

Geraman rendah.

Aku menoleh.

Dari balik semak muncul makhluk besar berbentuk babi, dengan taring panjang dan mata merah menyala.

Aku menelan ludah.

"Ah," kataku pelan. "Monster."

Monster itu menatapku.

Aku menatap balik.

Kami saling diam selama dua detik.

Lalu aku panik.

[ SKILL AKTIF ]

Refleks Salah Fokus (Lv.1)

Efek: Saat panik, tubuhmu melakukan tindakan tidak relevan namun berpotensi efektif

"Apa maksudnya—"

Tanganku bergerak sendiri.

Aku melempar sesuatu.

Sandal.

Sandal itu melayang…

dan mengenai mata monster tepat sasaran.

Monster itu menjerit, berlari tanpa arah, dan menabrak pohon hingga roboh tak sadarkan diri.

Aku berdiri terpaku.

"…aku baru saja mengalahkan monster dengan sandal."

[ Sistem ]

Prestasi Tercapai: Senjata Improvisasi

Catatan: Jangan dibiasakan

Aku menatap langit.

"Dunia ini… aneh."

Dan entah kenapa,

aku merasa…

ini baru permulaan.

More Chapters