LightReader

Chapter 2 - BAB 1: Gema yang Tertinggal

​"Prok, prok, prok!"

​Suara tepukan tangan tanda apresiasi bersahutan di dalam ruangan berukuran 4x4 meter itu. Cahaya lampu yang terang menyorot Elena, seorang arsitek muda berbakat yang baru saja memenangkan tender proyek besar yang sangat ia perjuangkan.

​"Selamat, Elena. Kamu memang luar biasa. Kamu pantas mendapatkannya," puji sang manajer kepala sambil menjabat tangannya hangat.

​Elena membalas dengan senyum yang tak kunjung hilang. "Terima kasih, Pak. Saya akan menjaga kesempatan ini dengan sebaik-baiknya."

​Bahagia? Tentu saja. Namun, di dalam hatinya, Elena tahu ini bukanlah akhir, melainkan awal dari pendakian kariernya yang sesungguhnya. Setelah banjir ucapan selamat dari rekan kantornya mereda, mereka memutuskan untuk merayakan kemenangan kecil itu di tempat favorit Elena: Fortress Cafe.

​Sesuai namanya, kafe itu adalah benteng bagi Elena. Dari jendela besar di sudut kafe, ia bisa menyesap latte kesukaannya sambil menatap Big Ben yang berdiri tegak di kejauhan. Menara jam itu seolah detak jantung London yang tak lekang oleh waktu, terus bergerak tanpa peduli berapa banyak manusia yang patah hati di bawah bayangannya.

​"Apa kau masih ingat, Len? Saat pertama kali kau menginjakkan kaki di kota ini? Kamu cuma berdiri diam menatap Big Ben seperti orang linglung," celetuk Anne, memecah lamunan Elena.

​Elena tertawa kecil. "Yeah, aku benar-benar seperti orang tersesat saat itu."

​"Kau memang tersesat, Lena!" tambah Anne yang disambut tawa renyah seluruh meja.

​Elena hanya membalas dengan sikutan pelan. Ia tidak bisa membayangkan betapa konyol wajahnya saat pertama kali tiba di London—seorang gadis Jakarta yang kebingungan di tengah megahnya Britania.

​"Apa ada yang tahu siapa orang yang akan bekerja sama dengan kita di proyek ini?" Elena membuka suara di tengah asyik menikmati makanan.

​"Belum pasti," jawab Ben, rekan arsitek lainnya. "Tapi Pak Austin bilang, klien kita ini wataknya sangat keras. Kamu harus hati-hati nanti, Len. Dia tipe orang yang tidak suka dibantah, tapi katanya dia juga punya sisi santai. Entahlah."

​Elena hanya ber-oh ria sambil mengangguk paham. Keras wataknya, ya? batinnya. Ia sudah terbiasa menghadapi klien sulit, namun ia tidak tahu bahwa "kesulitan" kali ini akan meruntuhkan seluruh benteng yang sudah ia bangun selama tujuh tahun.

​Di sisi lain kota London...

​Dalam sebuah kantor tanpa jendela yang didominasi warna putih terang dengan aksen keemasan, suasana terasa mencekam. Arthur Montgomery duduk di kursi kulitnya, menatap nanar sebuah portofolio yang terbuka di atas meja.

​Mata birunya yang sedingin es menyisir setiap baris kalimat di sana. Napasnya memberat. Dadanya terasa sesak seolah ruangan itu tiba-tiba kehabisan oksigen. Keningnya berkerut dalam, mencoba mencerna sebuah nama yang tertera sebagai Arsitek Utama: Elena.

​Nama itu memicu ledakan di kepalanya. Luka yang ia kira sudah mengering, kini kembali menganga lebar. Perih. Arthur menyandarkan punggungnya, memejamkan mata, dan seketika dunianya tersedot kembali ke masa yang sangat jauh... ke sebuah pagi yang lembap di Jakarta.

​Jakarta, 7 Tahun yang Lalu.

​Pukul 06.48 pagi.

​Seorang gadis dengan seragam sekolah rapi berdiri gelisah di halte. Elena mengeluh pelan sambil berkali-kali melirik jam tangannya. "Huft... bisnya lama. Tahu gini berangkat bareng Papa saja. Tapi Papa sarapannya lama banget," ucapnya pada diri sendiri.

​Tak lama kemudian, bis yang dinanti tiba. Elena segera naik dan bertemu Ririn, sahabat baiknya yang sudah menyisakan satu kursi di barisan belakang.

​"Kamu pasti mau duduk di paling belakang kan, Len?" goda Ririn.

​"Menurutmu?" balas Elena santai. "Wali kelas baru kita galak, Rin. Aku tidak mau menatap wajahnya langsung dari bangku depan."

​Ririn hanya tertawa kecil. Mereka berdua memang bukan siswi ambisius, tapi juga tidak pemalas. Mereka hanya backbenchers yang lebih suka mengamati dunia dari kejauhan. Di kantin yang ramai siang itu, Ririn kembali membuka percakapan yang selalu membuat Elena memutar bola mata.

​"Kamu beneran nggak tertarik cari pacar bule, Len? Di sekolah kita kan banyak bule," ucap Ririn meyakinkan.

​"Nggak, Rin. Aku lebih tertarik sama mas-mas lokal, lebih eksotis," jawab Elena singkat.

​"Dih, serius tau! Aku punya banyak daftar nama mereka," tambah Ririn sambil menaik-turunkan alisnya.

​"Buatmu saja. Aku nggak tertarik."

​Ririn tertawa meledek. Ia tahu Elena sangat anti dengan yang namanya orang asing. Bagi Elena, orang luar itu asing dan menakutkan—siapa yang tahu bagaimana sifat asli mereka di negara asalnya? Elena tidak yakin pada hal-hal yang tidak ia pahami bahasanya.

​Kembali ke Masa Sekarang (London)

​Arthur membuka matanya. Tangannya mengepal kuat di atas meja kerja.

​"Jadi, ini benar-benar kamu," bisiknya pada keheningan ruangan.

​Rasa sesal itu datang lagi, menggulung egonya yang tinggi. Arsitek baru itu adalah masa lalunya. Gadis yang tak pernah sempat ia rangkul, perasaan yang tak pernah ia utarakan sepenuhnya. Arthur merasa takdir sedang menjebaknya dalam permainan yang menyakitkan.

​Dia sudah sangat dekat. Dan kali ini, Arthur tidak tahu apakah ia harus lari lagi atau justru menyerah pada rasa sakit itu.

More Chapters