LightReader

Chapter 9 - Chapter 9: Interogasi di Balik Asap Cerutu

Kantor redaksi Gema Sastra sedang diselimuti kabut asap cerutu saat Satria melangkah masuk ke lotengku tanpa mengetuk pintu. Ia tidak datang dengan senyum meremehkan seperti biasanya. Kali ini, matanya yang tajam menatap tumpukan kertas remas yang berserakan di lantai—hasil dari writer's block yang menghantamku kemarin.

"Kau terlihat berantakan, Arlan," ucap Satria sambil memungut salah satu bola kertas. Ia membukanya, menatap pola tinta hitam yang menyerupai grafik garis-garis aneh. "Apa ini? Kode rahasia? Atau kau mulai kehilangan kewarasanmu?"

Aku mencoba menarik kertas itu, tapi Satria menghindar. "Itu bukan urusanmu, Satria."

"Bukan urusanku?" Satria tertawa sinis. Ia mendekat, aroma parfum mahalnya beradu dengan bau tinta di ruangan ini. "Pak Bram mungkin menganggapmu jenius, tapi aku melihat sesuatu yang lain. Kau bicara tentang hal-hal yang tidak ada, kau berteriak saat ruangan ini sunyi, dan tanganmu gemetar seolah kau sedang menggenggam hantu."

Aku terdiam. Jantungku berpacu. Apakah perilakuku di dunia ini mulai terlihat "rusak" di mata orang lain?

"Katakan padaku," Satria berbisik, wajahnya hanya beberapa inci dari wajahku. "Kau ini siapa sebenarnya? Kau tidak punya catatan sekolah yang jelas di kota ini. Kau muncul begitu saja seperti orang yang jatuh dari langit. Dan tulisanmu... itu bukan fiksi. Itu seperti kau sedang menceritakan kenangan dari tempat yang belum pernah kita kunjungi."

"Aku hanya penulis, Satria. Sama sepertimu," jawabku dengan nada datar yang kupaksakan.

"Tidak. Aku menulis untuk membangun bangsa ini. Kau? Kau menulis seolah kau sedang mencoba melarikan diri dari sesuatu." Satria meletakkan kembali kertas itu di meja. "Hati-hati, Arlan. Jika kau terus berakting aneh, orang-orang akan mengira kau mata-mata... atau orang gila yang seharusnya berada di bangsal jiwa, bukan di kantor redaksi."

Satria berbalik pergi, namun di ambang pintu ia berhenti. "Satu hal lagi. Maya terlihat khawatir padamu. Jangan hancurkan dia hanya karena kau tidak bisa membedakan mana khayalan dan mana kenyataan."

Sepeninggal Satria, loteng itu terasa lebih dingin. Aku menatap cermin kecil yang tergantung di dekat rak. Untuk sesaat, bayanganku di cermin bergetar. Wajahku terlihat pucat, dan di leherku, muncul jejak samar bekas plester medis yang biasanya menempelkan selang.

Aku mengusap leherku. Hilang.

Satria benar. Aku mulai retak. Duniamu dan duniaku mulai bertabrakan, dan jika aku tidak segera menyelesaikan apa yang kumulai, aku akan hancur sebelum sempat meninggalkan jejak.

More Chapters