LightReader

Chapter 1 - Chapter 1: Sudah dipastikan lolos

Di dunia ini, tiga jenis tenaga mengalir di dalam tubuh manusia seperti tiga sungai yang bersumber dari mata air berbeda, namun semuanya bermuara pada satu lautan yang sama: kehidupan.

Yang pertama adalah tenaga dalam, Tenaga dalam adalah kekuatan bawaan yang telah ada sejak manusia pertama kali lahir,

Yang kedua adalah tenaga alam, Berbeda dari tenaga dalam, ia tidak lahir dari dalam tubuh. Ia meresap dari luar, dari hembusan angin dan selainnya, Sebagian besar manusia menyerap tenaga ini secara alami, bahkan tanpa menyadarinya, seperti tanah kering yang minum hujan. Namun ada segelintir manusia yang berbeda, mereka yang tubuhnya menolak tenaga ini mentah-mentah, seperti pintu besi yang terkunci rapat, tak membiarkan satu pun hembusan dunia luar menyentuh inti diri mereka.

Yang ketiga adalah tenaga jahat, Ia lahir dari kedalaman kegelapan pikiran manusia. Dendam yang membara, iri hati yang menggerogoti, kebencian yang tak pernah diucapkan—semua itu menjadi benih yang perlahan bersemi dalam jiwa. Tidak terasa tumbuhnya. Tidak terasa menyebarnya. Hingga suatu hari, kegelapan itu telah mengisi setiap celah kekosongan batin, melahirkan sesuatu yang bahkan penciptanya sendiri tak mampu kendalikan. monster-monster itu tidak muncul langsung di hadapan orang yang melahirkan mereka. Mereka tercipta di tempat-tempat yang jauh entah dimana,

Sebagian besar monster yang mengintai dunia ini bukanlah monster alami. Mereka adalah bayangan dari dosa manusia—anak-anak gelap dari pikiran yang membusuk.

Tingkatan monster di dunia ini terbagi dengan jelas,

Monster Tingkat 1 adalah yang paling rendah. Tak memiliki kecerdasan, tak memiliki strategi. Mereka hanya mengandalkan kekuatan fisik kasar,

Monster Tingkat 2 serupa dengan tingkat satu dalam cara berpikirnya—atau lebih tepatnya, dalam ketidakmampuannya berpikir. Namun tubuh mereka jauh lebih besar, lebih keras, dan tenaga mereka berlipat ganda.

Monster Tingkat 3 mulai memiliki kemampuan khusus,

Monster Tingkat Spesial, mereka tidak hanya memiliki kekuatan, mereka tak tertandingi oleh semua tingkatan di bawahnya, mereka bisa berpikir layaknya manusia,

Karena ancaman itulah Akademi Huin ada didunia ini, akademi itu sudah ada lebih dari seratus tahun lamanya, akademi itu terletak di atas sebuah pulau bernama Shiroi, tepat di tengah pulau itu, akademi Huin telah melahirkan banyak sekali orang-orang yang kuat didunia ini untuk melawan para monster,

◇ ◇ ◇

Gedung itu berdiri kokoh tidak jauh dari dermaga tempat kapal Akademi Huin berada, itu adalah gedung pendaftaran dan ujian penerimaan Akademi Huin.

Biasanya, sekitar empat ratus calon murid memenuhi tempat ini setiap tahunnya. Dua ratus laki-laki, dua ratus perempuan, Namun hanya separuhnya yang akan melangkah lebih jauh. Satu ratus laki-laki. Satu ratus perempuan. Sisanya? Mereka pulang membawa kekecewaan dan satu tahun untuk mencoba lagi.

Di dalam gedung itu terdapat dua meja pendaftaran—satu di sisi kiri untuk laki-laki, satu di sisi kanan untuk perempuan. Di belakang masing-masing meja, terdapat ruangan ujian yang terpisah. Perempuan melawan perempuan. Laki-laki melawan laki-laki. Tidak ada pengecualian.

Di antara ratusan wajah yang berdiri dalam antrean panjang sisi kiri, ada satu sosok yang tampak berbeda dari semua yang lain.

Bukan karena ia terlihat gagah atau mengintimidasi—meski mungkin ada yang berpendapat begitu.

Ia berbeda karena ia tampak tidak peduli. Pemuda itu adalah Haise, dia memakai jubah hitam dengan celana putih, dia juga memakai semacam kain untuk menutupi kedua matanya,

"Baiklah, kamu, silakan maju."

Haise menghampiri meja pendaftaran dan berdiri di hadapan petugas yang duduk dengan tumpukan dokumen di depannya.

"Boleh saya tahu nama dan usiamu?" tanya petugas itu, pena sudah siap di tangan. "Perlu saya ingatkan, usia maksimal untuk mendaftar adalah dua puluh lima tahun."

"Haise. Baru delapan belas tahun."

Petugas itu mendongak sejenak, mengamati kain hitam di mata pemuda di hadapannya dengan tatapan yang sedikit heran tapi tidak berkomentar.

"Baik," katanya sambil menuliskan nama itu. "Ini nomor urut kamu." Ia menyodorkan selembar kertas. "Masuk melalui pintu itu, lalu tunggu sampai nomormu dipanggil."

Haise meraih kertas itu dan melirik angka yang tercetak di sana.

*Enam puluh satu.*

"Baiklah."

Ia mendorong pintu di hadapannya dengan kedua tangan, dan begitu daun pintu itu terbuka lebar—suara benturan kayu yang saling bersahutan langsung menyergapnya.

Di dalam, dua orang pemuda sedang berhadapan di atas arena bertarung, masing-masing menggenggam pedang kayu. Mereka bergerak cepat, saling menyerang dan menangkis, sepertiya para calon murid tidak diizinkan memakai senjata asli ke dalam ruangan ujian ini.

Di tribun, beberapa wajah tampak tegang mengikuti setiap gerakan di bawah. Sebagian lainnya mereka yang sudah selesai bertarung,

Haise menyapu semuanya dengan satu pandangan singkat.

Lalu menguap.

"Sial," gumamnya pelan, "Sepertinya aku harus menunggu lama di sini." Ia mengembuskan napas panjang. "Haahh~ benar-benar tempat yang tidak menyenangkan."

Dengan langkah malas, ia berjalan menuju tribun tingkat satu dan menjatuhkan dirinya di bangku panjang. Tas besarnya ia letakkan di sisi kiri. Kedua matanya—atau lebih tepatnya, kain hitam yang menutupinya—ia arahkan ke langit-langit yang cerah itu,

Tidak ada minat sedikit pun untuk memperhatikan arena di bawah.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan relatif—setidaknya bagi Haise—sebelum seseorang di sebelahnya membuka suara.

"Hai. Kau juga daftar ke Akademi Huin?"

Haise memalingkan wajah ke arah suara itu dengan ekspresi yang tidak begitu antusias.

"Hah?" Ia menatap sebentar. "Bukankah sudah jelas jawabannya? Kalau tidak, aku tidak akan ada di sini." Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, "Ngomong-ngomong, kau ini siapa?"

Orang yang duduk di sebelahnya adalah seorang pemuda seusianya. Wajahnya terbuka dan ramah, dengan senyum kecil, sepertinya dia adalah orang yang mudah di ajak bicara,

"Namaku Ryuhei!" katanya dengan nada riang, mengangkat tangan dan mengepalkannya ke depan—gestur adu tinju yang terasa sangat alami darinya. "Mari kita saling kenal dan jaga hubungan baik!"

Haise menatapnya sebentar. Lalu, tanpa peringatan, sudut bibirnya sedikit terangkat.

"Haha. Aku suka cara bicaramu yang tidak membosankan itu." Ia mengangkat kepalan tangannya dan membenturkannya pelan ke kepalan Ryuhei. "Saling kenal juga. Namaku Haise. Mari kita jaga hubungan baik."

Kepalan bertemu kepalan. Sebuah persahabatan dimulai dari hal yang sesederhana itu.

"Kau dapat nomor berapa?" tanya Ryuhei. "Aku harap kita tidak jadi lawan satu sama lain. Kau tahu sendiri—yang kalah sudah pasti gagal."

"Enam puluh satu," jawab Haise singkat. "Kau?"

"Lima puluh sembilan!, Syukurlah. Kita tidak akan berhadapan." Ia mengangguk ke arah arena. "Oh, dan omong-omong—nomor enam puluh satu berarti kau akan lawan nomor enam puluh. Aku akan lawan nomor lima puluh delapan. Mereka memanggil nomor berpasangan seperti itu."

Haise mengernyit sedikit. "Orang di meja tadi tidak menjelaskan itu."

"Aku sudah duduk lebih lama darimu, Jadi aku sempat perhatikan polanya."

"Hoo~"

Setelah itu, keduanya terdiam.

Atau lebih tepatnya—Ryuhei menonton pertandingan, Sementara Haise kembali menatap langit-langit cerah,

Waktu berlalu. Satu pertandingan demi satu pertandingan. Nomor demi nomor. Pada akhirnya, giliran Ryuhei tiba terlebih dahulu.

Pemuda itu turun ke arena dengan dua pedang kembar yang biasanya tersandang di punggungnya—tapi karena aturan tidak mengizinkan senjata asli, ia menaruh keduanya dan mengambil pedang kayu yang disediakan. Pertarungannya tidak berlangsung lama. Lawannya, nomor lima puluh delapan, mencoba menekan dari awal dengan serangan bertubi-tubi—tapi Ryuhei bergerak seperti air, mengelak dan membalas dengan efisiensi yang membuat beberapa penonton di tribun mendecak kagum.

Ketika Ryuhei kembali ke bangku dengan senyum puas, waktu tunggu Haise akhirnya berakhir juga.

"Nomor enam puluh satu!"

Haise bangkit dari duduknya.

"Lakukan yang terbaik," kata Ryuhei, menatapnya naik ke arena.Haise tidak menjawab. Ia sudah berjalan.

Di atas arena, lawannya—nomor enam puluh—sudah berdiri menunggu, menggenggam pedang kayu di tangan kanan. Di sisi arena, seorang pengawas berdiri,

"Kamu tidak mau ambil senjata?" tanya pengawas itu, alis sedikit terangkat.

"Tidak perlu." Haise berdiri santai di posisinya, kedua tangan menggantung bebas di sisi tubuh. "Dari awal, senjataku ada di dalam tubuhku sendiri. Jadi aku tidak memerlukan apa pun dari luar. Kita bisa mulai?"

Pengawas itu menghela napas.

"Anak muda," katanya, aku harap kamu tidak sedang bersikap sombong di tempat yang salah. Ini bukan latihan biasa. Ini adalah ujian yang menentukan satu tahun ke depan dalam hidupmu. Yang kalah tidak lolos, dan harus menunggu satu tahun penuh untuk mendaftar kembali. Apa kamu benar-benar tidak mau mengambil senjata?"

"Haha~" Haise memiringkan kepalanya sedikit, "Apakah pendengaranmu sedang bermasalah? Aku sudah bilang aku tidak memerlukannya." Ia menoleh sekilas ke arah lawannya, lalu kembali menatap pengawas dengan ekspresi yang datar namun sama sekali tidak berniat jahat. Hanya jujur. "Orang seperti dia tidak akan membuatku kalah, pedang atau tidak pedang. Itu bukan kesombongan—itu penilaian."

Nomor enam puluh menegang. Rahangnya mengeras.

Pengawas itu mengambil napas, lalu mengangguk pelan.

"Baiklah. Aturannya sederhana: siapa yang keluar dari garis kalah. Waktu berlangsung lima menit. Jika tidak ada yang tersingkir dalam lima menit, kemenangan ditentukan dari jumlah serangan yang berhasil mendarat. Tidak ada hasil seri." Ia mengangkat tangannya, lalu menurunkannya. "Mulai!"

Nomor enam puluh bergerak cepat, Ia berlari lurus ke depan dengan pedang kayu terangkat, hendak melancarkan serangan pembuka yang keras.

"Tidak sabaran, ya?" Haise bergumam pelan.

Tubuhnya bergerak ke samping, satu langkah kecil cukup untuk membuat ayunan pedang itu menebas angin kosong.

"Hmm." Haise memandangi lawannya yang berbalik dengan napas mulai terguncang akibat momentum yang tidak mengenai sasaran. "Bahkan dasar-dasar bertarung pun kau tidak punya. Aku tidak bohong waktu bilang kau lemah. Tapi aku tetap akan memujimu—kau masih punya nyali untuk naik ke sini. Itu tidak semua orang punya."

Nomor enam puluh mengangkat pedangnya lagi, hendak menyerang untuk kedua kalinya.

Tapi Ia tidak sempat. Entah kapan kaki kanan Haise sudah terangkat. Tidak ada ancang-ancang yang terlihat. Tidak ada tanda yang bisa dibaca. Gerakannya seperti kilat yang menyambar dari langit cerah, Tendangan itu mendarat tepat di tengah dada nomor enam puluh.

Duk!

Tubuh pemuda itu terangkat dari lantai, terbang ke belakang, dan mendarat jauh di luar garis arena dengan bunyi yang cukup keras. Ia tergeletak diam. Sadar atau tidak, sulit dipastikan—tapi yang jelas, ia tidak bangun.

Keheningan sejenak menyelimuti tribun.

Lalu pengawas bersuara,

"Nomor enam puluh satu, lolos." Ia mengangguk ke arah Haise. "Semua yang sudah menyelesaikan pertandingan harap kembali ke tempat duduk dan tidak meninggalkan ruangan sampai seluruh pertandingan selesai."

Haise mengangguk sekali, lalu berbalik.

Langkahnya turun dari arena sama malasnya dengan langkah ketika ia naik tadi.

*Jadi sekarang harus menunggu lagi,* pikirnya sambil berjalan kembali ke tribun. *Kapan tempat membosankan ini akan selesai menyiksaku...*

Ia menjatuhkan diri kembali ke bangkunya dengan ekspresi seseorang yang baru saja dihukum duduk di kelas yang paling tidak ia minati.

"Hahaha!" Ryuhei menyambutnya dengan tawa yang tidak bisa ia tahan. "Ada apa ini—kau menang tapi wajahmu seperti orang yang baru saja kalah?"

"Aku sudah yakin seratus persen akan lolos sejak awal." Haise bersandar di bangkunya, menatap langit-langit lagi. "Yang aku tidak yakin adalah betapa lamanya aku harus duduk di sini menunggu yang lain selesai. Haahh~"

Ryuhei hanya tertawa kecil,

Jam demi jam berlalu.

Langit di luar yang tadinya masih biru kini telah berubah menjadi ungu gelap yang pelan-pelan ditelan malam. Lampu-lampu di dalam gedung menyala,

Ketika pertandingan terakhir akhirnya selesai dan suara pengumuman menggema untuk yang terakhir kalinya, para calon murid yang lolos digiring keluar dari gedung—melewati sebuah jalan setapak yang membelah hutan kecil di belakang gedung, menuju dermaga di tepi air.

"Baiklah, semuanya!" Seorang petugas perempuan berdiri di ujung dermaga, "Naik dengan tertib! Laki-laki melalui tangga kiri, perempuan melalui tangga kanan. Tidak ada dorong-mendorong!"

Mereka naik dengan teratur—dua arus manusia yang mengalir ke kiri dan ke kanan, masing-masing menuju pintunya sendiri.

Bagian dalam kapal terasa lebih hangat dari yang Haise bayangkan. Lorong lebar membawa mereka ke sebuah ruangan besar yang dipenuhi deretan tempat duduk panjang yang terasa seperti sofa, empuk, dan cukup lebar untuk seseorang berbaring jika diinginkan. Di depan setiap sofa terdapat meja makan kecil untuk dua orang. Sisi kiri untuk laki-laki, sisi kanan untuk perempuan—pemisahan yang tampaknya berlanjut bahkan di dalam kapal.

"Perhatikan baik-baik," kata seorang petugas yang berdiri di bagian depan ruangan, suaranya cukup keras untuk menjangkau semua sudut. "Di bawah tempat duduk kalian terdapat sebuah tombol. Jika ditekan, sofa tersebut akan berubah menjadi tempat tidur. Ukurannya memang tidak besar—cukup untuk satu orang. Kamar mandi ada di belakang, tidak jauh dari area dapur. Makan malam akan segera diantarkan. Mohon tunggu di tempat masing-masing."

Haise menemukan nomornya—199—dan duduk.

Di depannya, Ryuhei mendapat nomor 198, duduk menghadap ke arah yang berlawanan.

"Di sini bahkan ada makan malam gratis." Haise bersandar di sofa empuknya, dan untuk pertama kalinya hari ini, sesuatu yang menyerupai kepuasan muncul di wajahnya. "Hehe~ ini baru menyenangkan."

Tidak lama kemudian, makanan diantarkan. Para murid makan dalam suasana yang tenang, diselingi percakapan-percakapan kecil yang mulai mereda seiring malam semakin larut. Ketika selesai makan, lampu ruangan diredupkan. Satu per satu, tombol ditekan, sofa berubah menjadi ranjang-ranjang datar yang memanjang.

"Selamat malam, Haise."

"Ya. Kau juga."

Mereka berdua akhirnya tertidur, tiga puluh menit berlalu.

Haise terbangun. Bukan karena mimpi buruk. Bukan karena suara bising. Ia terbangun karena sesuatu yang lain,

*Aura ini...*

*Haahh~* Ia menghembuskan napas pelan. *Merepotkan sekali.*

Ia bangkit, menyibak selimutnya, dan berdiri. Tanpa terburu-buru, tanpa mengeluarkan suara yang cukup keras untuk membangunkan siapa pun, ia berjalan menyusuri lorong yang remang dan mendorong pintu besar yang mengarah ke dek luar.

Dan di sana, duduk di atas sebuah kursi kayu panjang sederhana yang menghadap ke lautan gelap, terdapat seseorang. Seorang perempuan.

Haise berhenti sejenak. Ia menatap sosok itu, sosok itu sangat cantik, wajahnya bersih, mempunyai kulit yang putih dengan rambut hitam panjang, dia juga mempunyai mata yang indah, matanya benar-benar mirip dengan langit biru, wajahnya terlihat datar, Haise sedikit terkejut melihat sosok yang sangat cantik itu,

"Haha, aku kira semua orang sudah tertidur, apa yang membuat seseorang yang sangat cantik duduk di luar tengah malam begini? Apa kau tidak takut sesuatu yang tidak menyenangkan akan terjadi?"

Perempuan itu adalah Anna, Anna terlihat terkejut saat melihat langsung pemuda yang bernama Haise itu,

*Aku... tidak bisa melihat apa pun.*

Sejak lahir, Anna terlahir dengan mata yang bisa membaca pikiran dan mendengar isi kepala seseorang sebelum kata-kata itu sempat diucapkan, tapi sekarang itu tidak berlaku, itu adalah kemampuan yang tidak pernah ia minta, tidak pernah ia inginkan, dan tidak pernah bisa ia matikan.

*Ada sesuatu yang menghalangi. membuat aku tidak bisa membaca pikiran orang ini sama sekali...* Walaupun Anna terkejut, tapi wajahnya masih saja datar dan dingin,

"Hmm," gumam Haise, sedikit menoleh ke arahnya. "Ada apa? Kau terlihat terkejut. Apa ada yang aneh dengan wajahku?"

"..."

Anna menatapnya sejenak. Wajahnya masih saja datar, tapi entah kenapa Haise tahu kalau dia terlihat terkejut,

"Seharusnya saya yang bertanya, Apa yang membuat kamu terjaga dan keluar malam-malam seperti ini?"

"Haha. Seperti yang mungkin kau bayangkan—aku terbangun tiba-tiba." Haise mengangkat bahu. "Oh, dan satu hal lagi." Ia memiringkan kepalanya sedikit. "Kau tidak perlu berbicara se-formal itu. Aku rasa kita seusia, bukan?"

"Tidak ada yang salah dengan berbicara sopan kepada seseorang yang tidak kita kenal."

"Tidak ada yang salah," setuju Haise. "Tapi terasa jauh. Itu saja."

Anna tidak menjawab.

Lalu—

"Aura membunuh!"

Anna berdiri dari kursinya, Dari kegelapan air di bawah sisi kapal, dua sosok besar bergerak—naik, mendaki lambung kapal dengan kecepatan yang seharusnya tidak mungkin untuk sesuatu sebesar itu, tangan-tangan kasar mereka mencengkeram sisi kapal, kepala-kepala mereka yang tidak berbentuk normal mulai muncul di atas pagar.

Monster Tingkat Dua.

Para penjaga yang seharusnya berjaga di dek malam ini—entah ke mana mereka. Mungkin sedang istirahat di bawah. Mungkin sedang makan. Yang jelas, dek itu kosong kecuali Anna dan Haise.

Haise tidak terlihat bergerak. Ia hanya mengangkat tangan kanannya ke atas, dua jarinya terangkat.

Di dalam kepalanya, kata-kata mengalir seperti mantra,

"Teknik Petir: Dua Jaring Petir."

Yang terjadi berikutnya Anna tidak bisa mendeskripsikannya dengan tepat, karena matanya tidak cukup cepat untuk mengikutinya.

Ada sesuatu yang keluar dari ujung jari Haise. Sesuatu yang sangat halus seperti benang, tapi lebih tipis dari benang. Seperti cahaya, tapi bukan cahaya. Ia bergerak dalam waktu yang tidak terukur, menjangkau kedua monster itu secara bersamaan—

Dan keduanya jatuh.

Tidak ada teriakan. Tidak ada perlawanan terakhir. Mereka hanya jatuh kembali ke laut, tubuh mereka terpotong dengan presisi yang dingin, seperti buah yang diiris oleh pisau yang terlalu tajam untuk meninggalkan bekas.

Hening.

Anna berdiri diam, menatap tempat di mana kedua monster itu berada tidak sampai tiga detik lalu.

*Apa... apa yang baru saja terjadi?*

Ia melihat Haise yang kini sudah menurunkan tangannya, berdiri dengan ekspresi yang tidak jauh berbeda dari tadi, tenang, datar, sedikit bosan.

*Ada sesuatu yang bergerak. Sesuatu yang sangat cepat. Tapi aku tidak bisa melihatnya dengan jelas... tidak ada bekas tenaga yang terasa... tidak ada suara yang terdengar...*

"Baiklah. Tugasku sudah selesai." Ia menatap Anna sejenak—atau setidaknya, wajahnya mengarah ke sana. "Lain kali, di mana pun kau berada, bawa senjatamu. Semakan tenang tempat itu, semakin bahaya tempat itu, itu apa yang guruku katakan."

Ia berbalik.

"Selamat malam."

Dan Haise berjalan kembali ke dalam kapal, mendorong pintu besar itu, dan menghilang ke dalam kegelapan lorong—meninggalkan Anna sendirian di dek, angin malam meniup rambutnya, dan dua tubuh monster tenggelam ke kedalaman laut tanpa suara. Beberapa saat kemudian, para penjaga akhirnya kembali ke dek. Mereka menemukan dua ceceran sisa yang mengambang di sisi kapal, Saat itu Anna juga sudah kembali ke tempat tidurnya, membuat mereka kebingungan,

More Chapters