Hari itu kelas agak ribut.
Wali kelas masuk bareng satu siswi baru.
"Ini murid pindahan. Tolong dibantu ya."
Cewek itu berdiri di depan. Rambutnya nggak terlalu panjang, wajahnya tenang. Tatapannya nyari-nyari tempat duduk.
Namanya Nadira.
Beberapa anak cowok langsung berisik kecil. Biasa.
Rafi cuma lihat sekilas, lalu balik lagi ke buku.
Bukan urusannya.
Bangku kosong yang tersisa cuma satu.
Di sebelah Rafi.
Wali kelas nunjuk. "Kamu duduk di situ ya."
Nadira jalan ke arahnya.
Rafi refleks geser kursinya sedikit, kasih ruang. "Silakan."
"Thanks," jawab Nadira pelan.
Suaranya nggak dibuat-buat. Biasa aja.
Pelajaran mulai.
Rafi bisa ngerasa Nadira beberapa kali ngelihat ke arahnya, mungkin karena mau tanya atau cuma bingung sama suasana baru.
Tapi dia nggak terlalu peduli.
Pikirannya masih ke depan.
Ke Maya.
Maya duduk bareng Arsen lagi hari itu. Lebih sering ketawa. Lebih sering miringin badan ke arah Arsen waktu ngobrol.
Rafi lihat semua itu tanpa sadar.
"Kamu sering ngelamun ya?"
Suara di sampingnya bikin dia kaget sedikit.
Rafi nengok. "Hah?"
Nadira senyum tipis. "Dari tadi kamu nggak fokus."
"Oh." Rafi berdehem. "Enggak kok."
Nadira cuma angguk kecil. Nggak maksa ngobrol.
Dan entah kenapa, itu bikin Rafi sedikit lega.
Jam istirahat.
Biasanya, tanpa sadar, Rafi bakal nunggu Maya noleh ke belakang.
Hari itu dia nggak nunggu.
Dia berdiri duluan.
Baru dua langkah keluar kelas, Maya manggil, "Raf!"
Refleks dia berhenti.
Maya berdiri di depan, Arsen di sampingnya.
"Kamu ke kantin?" tanya Maya.
"Iya."
"Bareng ya."
Kalimat itu masih ada.
Tapi sekarang rasanya beda.
Di kantin, mereka duduk bertiga.
Rafi nggak tahu sejak kapan posisi duduknya jadi di samping, bukan di depan Maya lagi.
Arsen cerita soal latihan. Maya antusias.
Rafi cuma sesekali masuk.
Tiba-tiba ponselnya getar.
Pesan dari nomor nggak dikenal.
Nadira:
Ini Nadira. Tadi aku pinjem catatan kamu, makasih ya.
Rafi berhenti sebentar.
Rafi:
Iya, santai.
Beberapa detik.
Nadira:
Kamu temenan sama Maya ya?
Rafi lihat ke arah Maya yang lagi ketawa karena Arsen salah ngomong.
Rafi:
Iya. Udah lama.
Balasan Nadira agak lama.
Nadira:
Oh.
Cuma itu.
Tapi entah kenapa Rafi ngerasa ada nada yang nggak kebaca di situ.
Sore itu, waktu pulang, Maya nggak bareng dia.
"Aku langsung latihan ya," katanya sambil buru-buru pakai tas.
Rafi angguk. "Iya."
Dia jalan sendiri lagi.
Di tengah jalan, ponselnya bunyi.
Nadira:
Kamu pulang jalan kaki juga?
Rafi berhenti sebentar.
Rafi:
Iya.
Nadira:
Aku juga. Boleh bareng?
Rafi menatap layar agak lama.
Nggak ada alasan buat nolak.
Beberapa menit kemudian Nadira sudah di sampingnya.
Mereka jalan pelan. Awalnya canggung.
"Sekolah kamu dulu di mana?" tanya Rafi.
Nadira jawab singkat. Lalu balik tanya. Obrolannya ringan. Nggak berat. Nggak tentang cinta. Nggak tentang orang lain.
Untuk pertama kalinya setelah beberapa minggu, Rafi ngobrol tanpa ngerasa dibandingin.
Tanpa ngerasa jadi tempat pelarian.
Di pertigaan, Nadira berhenti.
"Rafi."
"Iya?"
"Kamu baik ya."
Rafi agak bingung. "Kenapa?"
"Kelihatan aja."
Nadira senyum kecil, lalu belok duluan.
Rafi berdiri sebentar di situ.
Kata "baik" itu harusnya biasa aja.
Tapi entah kenapa, rasanya aneh.
Karena selama ini, jadi baik nggak pernah bikin dia dipilih.
Malamnya, Maya nggak chat.
Tapi Nadira kirim pesan.
Nadira:
Makasih udah nemenin tadi.
Rafi balas singkat.
Dan untuk pertama kalinya, dia nggak nunggu notifikasi dari Maya.
Bukan karena nggak peduli.
Tapi karena capek berharap.
Retaknya makin terasa.
Dan tanpa Rafi sadar, seseorang baru mulai memperhatikan dia — bukan sebagai tempat cerita.
Tapi sebagai orang yang dilihat.
