LightReader

Chapter 18 - Chapter 18 — Pelan-Pelan Jadi Diri Sendiri

Divisi dekor ternyata lebih ribet dari yang Maya kira.

Cat nempel di tangan. Kertas karton berantakan. Lem tembak bikin jari hampir melepuh.

Dan anehnya… capeknya beda.

Bukan capek mikir.

Bukan capek nahan perasaan.

Capek fisik.

Dan itu terasa lebih ringan.

"Eh, kamu ternyata lumayan kreatif juga," salah satu panitia nyeletuk waktu lihat desain backdrop yang dia gambar ulang.

Maya cuma angkat bahu. "Iseng aja."

Padahal semalam dia nggak tidur cepat.

Bukan karena nangis.

Tapi karena dia nyoba-nyoba sketsa sampai jam satu pagi.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia sibuk bukan karena seseorang.

Tapi karena dirinya sendiri.

Di sela latihan, dia duduk sendirian sambil ngerapihin pita dekor. Tangannya bergerak otomatis.

Dari jauh, suara Rafi terdengar lagi ketawa bareng timnya.

Refleks, jantungnya masih bereaksi sedikit.

Tapi kali ini… nggak separah dulu.

Dia nggak menoleh.

Bukan karena pura-pura nggak peduli.

Tapi karena dia lagi fokus motong pita yang ukurannya harus pas.

Hal kecil.

Tapi nyata.

Sore itu, ketua panitia minta Maya bantu konsep tata lampu karena dia punya "sense warna yang bagus".

Kalimat itu sederhana.

Tapi cukup buat Maya diam beberapa detik.

Sense warna.

Bukan "yang dulu deket sama si itu".

Cuma Maya.

Dan itu terasa aneh… sekaligus hangat.

Malamnya di rumah, dia buka lagi buku sketsanya.

Kali ini tanpa jeda panjang.

Dia mulai gambar sesuatu yang bukan backdrop acara.

Dia gambar kamar kecil dengan jendela terbuka.

Dan di dalamnya ada satu meja kosong.

Nggak ada dua kursi.

Cuma satu.

Dia berhenti sebentar, lalu tersenyum tipis.

Bukan senyum bahagia.

Tapi senyum orang yang mulai ngerti sesuatu.

Selama ini dia takut kehilangan tempat cerita.

Padahal mungkin… dia belum pernah benar-benar nyaman jadi tempat untuk dirinya sendiri.

Ponselnya berbunyi.

Grup panitia rame.

Nama Rafi muncul di notifikasi.

Maya lihat sekilas.

Dan kali ini, dadanya nggak sesak.

Masih ada sisa.

Tapi nggak lagi menghancurkan.

Dia taruh ponsel itu pelan.

Lalu lanjut gambar.

Untuk pertama kalinya, dia nggak merasa sendirian.

Karena yang nemenin dia bukan orang lain.

Tapi dirinya sendiri yang pelan-pelan kembali.

More Chapters