LightReader

Chapter 6 - Bab 6: Sang Penghapus Melawan Raksasa Baja

di dalam ruang reaktor mendadak mencekam. Tekanan udara seolah meningkat berkali-kali lipat saat General Zerax melangkah maju. Setiap langkah kakinya yang berat meninggalkan bekas retakan di lantai logam. Empat lengan mekaniknya mengayunkan kapak energi raksasa yang mengeluarkan percikan listrik merah, siap membelah apa pun yang menghalangi jalannya.

"Anomali kecil," suara Zerax bergema di seluruh ruangan, terdengar seperti gesekan logam yang kasar. "Kau pikir dengan sedikit trik meretas pintu, kau bisa menguasai pusat sistem? Kau hanyalah kesalahan data yang harus segera diformat!"

Ija berdiri tegak, memegang pedang plasmanya dengan satu tangan. Wajahnya yang dingin tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Ia justru terlihat... bosan.

"Format?" Ija mengangkat alisnya, lalu menyeringai tipis. "Lucu sekali. Kau bicara seolah-olah kau punya kendali atas eksistensiku. Mari kita lihat, siapa yang akan menjadi file sampah setelah ini."

Zerax menggeram marah. Keempat lengannya bergerak serentak. Dua kapak menebas dari atas secara vertikal, sementara dua lainnya menyapu secara horisontal dari samping. Itu adalah serangan yang tidak menyisakan ruang bagi lawan untuk menghindar.

BOOM!

Lantai tempat Ija berdiri hancur berkeping-keping. Debu dan percikan listrik menutupi pandangan. Lyra dan Scarlett menahan napas, bersiap untuk menerjang maju jika Ija terluka. Namun, dari balik kepulan asap, suara Ija terdengar tenang.

"Serangan yang kuat, Jenderal. Tapi sayangnya, kau menyerang koordinat yang sudah tidak ada."

Zerax terkejut. Saat asap menipis, Ija tampak berdiri tiga meter di belakangnya, sedang santai memeriksa kukunya yang sedikit kotor.

[SKILL: COORDINATE JUMP]

[Description: Memindahkan posisi tubuh dengan menghapus data posisi lama dan menulis ulang posisi baru secara instan.]

"Bajingan!" Zerax berbalik dengan kecepatan yang luar biasa untuk ukuran tubuh raksasanya. Ia menembakkan meriam laser dari dadanya.

Ija tidak menghilang kali ini. Ia mengangkat tangan kirinya ke depan. "Xora, aktifkan Mirror Glitch."

"Siap, Tuan!" sahut Xora dengan semangat.

Tiba-tiba, ruang di depan Ija melengkung seperti kaca yang pecah. Serangan laser Zerax bukannya mengenai Ija, tapi justru masuk ke dalam retakan ruang tersebut dan keluar tepat di belakang punggung Zerax sendiri.

KABOOM!

Zerax terjerembap ke depan saat serangan lasernya sendiri menghantam tangki bahan bakarnya di punggung. Ia meraung kesakitan, sistem internalnya mengeluarkan peringatan bahaya yang melengking.

Ija melangkah mendekat dengan langkah pelan dan berirama. "Kau tahu, Jenderal? Masalah terbesar pada sistem seperti kalian adalah kalian terlalu patuh pada logika. Kalian pikir 1 + 1 harus selalu menjadi 2."

Ija mengangkat pedang plasmanya tinggi-tinggi. Cahaya emas neon kini menyelimuti seluruh bilah pedang tersebut, membuatnya terlihat seperti kilatan cahaya yang jatuh dari langit.

"Bagiku, 1 + 1 bisa menjadi nol... jika aku menginginkannya," bisik Ija dingin.

Ija menerjang. Gerakannya begitu cepat hingga hanya menyisakan bayangan emas yang melintas di depan mata Zerax. Dalam satu detik, Ija menebaskan pedangnya empat kali—tepat di sendi-sendi lengan mekanik sang Jenderal.

SLASH! SLASH! SLASH! SLASH!

Keempat lengan Zerax jatuh ke lantai dengan suara dentuman berat. Kabel-kabel sirkuit yang putus memercikkan listrik ke mana-mana. Jenderal yang tadinya terlihat begitu perkasa kini hanya tersisa tubuh utamanya yang cacat.

Ija berdiri di atas dada Zerax yang tergeletak, ujung pedang plasmanya menempel di leher mekanik sang Jenderal.

"Tunggu! Jangan hapus aku! Aku punya akses ke markas besar Arsitek!" Zerax memohon dengan suara yang mulai melemah.

Ija menatap Zerax dengan tatapan misterius selama beberapa saat. Suasana menjadi hening. Lyra dan Scarlett mendekat, mengira Ija akan mengampuni Jenderal itu demi informasi.

Namun, Ija tiba-tiba menoleh ke arah Scarlett dengan wajah konyolnya yang kembali muncul. "Hei Scarlett, menurutmu jika aku mengubah robot besar ini menjadi mesin pembuat kopi otomatis, apakah dia masih bisa memberikan informasi rahasia itu?"

Scarlett melongo. "Apa kau gila?! Dia musuh berbahaya, dan kau memikirkan kopi?!"

"Aku butuh asupan kafein untuk menjaga fokusku saat melihatmu nanti malam," sahut Ija santai, lalu kembali menatap Zerax yang ketakutan. "Maaf, Jenderal. Aku lebih suka kopi daripada informasi yang tidak pasti."

Ija menusukkan pedangnya ke inti energi Zerax.

[SYSTEM OVERWRITE: DELETE ENTITY]

Tubuh raksasa Zerax perlahan berubah menjadi ribuan piksel cahaya biru yang kemudian menguap ke udara, menghilang selamanya dari simulasi. Sektor 4 berguncang hebat—kematian sang penjaga memicu protokol penghancuran diri otomatis di area tersebut.

"Sial! Kita harus pergi sekarang!" teriak Lyra sambil menunjuk ke arah tabung Aria yang mulai retak.

Ija menyarungkan pedangnya, aura pembunuhnya hilang seketika. Ia berlari menuju tabung Aria, lalu menoleh ke arah kedua wanitanya dengan senyum nakal.

"Siapkan pelukan kalian, nona-nona. Karena setelah ini, kita akan melakukan pelarian paling dramatis dalam sejarah galaksi!"

More Chapters