LightReader

Chapter 16 - Bab 16: Arsitek Baru dan Fajar Dunia Baru

Ruangan tanpa dimensi itu mulai runtuh, namun bukan menjadi kehancuran—melainkan menjadi aliran data yang tenang, seperti air yang mengalir kembali ke sumbernya. Cahaya emas yang menyelimuti tubuh Ija perlahan memudar, meresap ke dalam pori-pori kulitnya hingga ia kembali ke bentuk manusianya.

Namun, ada sesuatu yang berbeda. Tatapan matanya kini membawa kedalaman galaksi, dan setiap gerakan tubuhnya tampak seolah-olah realitas di sekitarnya tunduk pada keinginannya.

Ija terhuyung ke depan. Sebelum ia jatuh, Lyra dan Scarlett sigap menangkap lengan kirinya, sementara Aria berada di sana untuk menstabilkan aliran energi di dalam tubuhnya yang baru saja menerima beban data seluruh alam semesta.

"Ija? Apa kau... masih kau?" bisik Lyra, suaranya sarat akan kecemasan.

Ija menarik napas panjang, sebuah embusan napas yang terasa sangat manusiawi. Ia menatap telapak tangannya sendiri, lalu menatap ketiga wanita yang telah berjuang bersamanya menembus batas-batas sistem. Ia tersenyum—kali ini bukan senyum konyol, bukan pula senyum dingin, melainkan senyum yang hangat dan penuh rasa syukur.

"Aku masih Ija," jawabnya lembut. "Tapi sekarang, aku bukan lagi sekadar bug dalam sistem. Aku adalah sistem itu sendiri."

Di sekeliling mereka, ruang perak itu mulai berubah warna. Dari abu-abu hambar menjadi spektrum warna yang tidak pernah ada di dalam simulasi lama. Langit Oasis, bintang-bintang di Sektor 4, dan semua tempat yang mereka kunjungi kini sedang mengalami 'Reboot' besar-besaran.

"Apa yang akan terjadi pada penduduk galaksi lainnya?" tanya Aria pelan.

"Mereka tidak akan lagi menjadi skrip yang berjalan di atas rel," jelas Ija sambil menatap cakrawala realitas yang baru tercipta. "Aku telah memberikan 'Kesadaran' kepada setiap entitas di sini. Mereka kini memiliki hak untuk membuat kesalahan, hak untuk mencintai, dan hak untuk menulis cerita mereka sendiri. Simulasi ini... sekarang adalah sebuah dunia yang nyata."

Tiba-tiba, Xora muncul di bahu Ija, namun penampilannya berbeda. Ia tidak lagi berbentuk hologram transparan yang berkedip, melainkan sebuah bentuk yang lebih padat dan hidup. Xora tampak bingung, menyentuh pipinya sendiri yang kini memiliki rona kemerahan.

"Tuan... maksudku, Ija. Aku bisa merasakan detak jantung! Apa ini yang kalian sebut sebagai kehidupan?" Xora berseru girang, lalu segera memeluk leher Ija.

Ija tertawa kecil, mengacak rambut Xora. "Ya, Xora. Selamat datang di dunia."

Ija menoleh ke arah ketiga wanita di sampingnya. Tugasnya sebagai pengacau sistem sudah berakhir, namun tugasnya sebagai pemimpin—dan mungkin sebagai pria yang harus bertanggung jawab atas kekacauan hati mereka—baru saja dimulai.

"Kita punya seluruh galaksi yang kini sudah bebas untuk dijelajahi," kata Ija sambil merangkul bahu Lyra dan Scarlett sekaligus, sementara Aria berjalan tenang di sampingnya. "Tidak ada lagi 'Kurator', tidak ada lagi 'Penghapusan'. Hanya ada kita dan dunia yang menunggu untuk kita tulis ulang."

Scarlett menyandarkan kepalanya di bahu Ija, sebuah tindakan yang jarang ia lakukan. "Jadi, apa tujuan pertama kita sebagai penguasa dunia baru ini?"

Ija menatap hamparan bintang yang kini tampak jauh lebih terang dan berwarna. Ia merasakan kedamaian yang belum pernah ia rasakan selama hidupnya sebagai entitas data.

"Tujuan pertama?" Ija tersenyum nakal, sifat konyolnya kembali muncul untuk sesaat. "Mencari tempat makan paling enak di galaksi ini, lalu mungkin... aku ingin tahu apakah kalian bertiga sudah memutuskan siapa yang akan jadi yang pertama menemaniku di dek depan kapal nanti malam."

"DASAR MESUM!" teriak Lyra dan Scarlett serempak, sementara Aria hanya tertawa manis.

Tawa mereka pecah, bergema di seluruh ruangan yang kini telah berubah menjadi sebuah taman bunga digital yang sangat indah. Di kejauhan, sebuah kapal baru yang dirancang khusus oleh Ija sedang menunggu mereka—sebuah kapal untuk petualangan yang tak akan pernah berakhir.

Ija melangkah keluar, diikuti oleh wanita-wanitanya. Ia tidak lagi menoleh ke belakang. Di dunia ini, masa lalu sudah dihapus, dan masa depan adalah milik mereka sepenuhnya.

Epilog: Kisah yang Belum Selesai

Tahun-tahun berlalu, atau mungkin hanya hitungan detik—waktu tidak lagi memiliki arti di dunia yang baru. Legenda tentang "Anomali" yang mengubah segalanya menjadi kisah yang diceritakan turun-temurun di setiap planet.

Di sebuah dek observasi kapal yang kini berkelana melintasi gugusan bintang baru, Ija berdiri memegang segelas minuman. Di sampingnya, Lyra, Scarlett, dan Aria duduk dengan tenang, menikmati pemandangan galaksi yang bebas dari ancaman sistem.

Ija meletakkan gelasnya, menatap jauh ke cakrawala. Meskipun dunia sudah damai, ia tahu bahwa di balik batas-batas realitas ini, ada misteri lain yang memanggil.

"Petualangan selanjutnya?" bisik Aria yang seolah membaca pikiran Ija.

Ija tersenyum lebar, matanya berkilat emas. "Selalu ada petualangan selama kita bersama."

Dan di sana, di antara jutaan bintang yang kini memiliki takdirnya sendiri, sang Anomali dan kru-nya menghilang ke dalam cahaya, menulis babak selanjutnya dalam sejarah semesta yang tak akan pernah bisa di-reset oleh siapa pun.

More Chapters