LightReader

Chapter 344 - Remake of The Special Episode

Sebuah tempat mutlak—ruang yang tak bisa dipahami manusia. Segala sesuatu tercipta hanya dari kehendak satu entitas. Bentuknya tak terbatas, berubah-ubah sesuka hati, tersusun dari persegi-persegi dimensi yang terus bergeser.

Di sanalah Tesseract berasal. Dimensi keempat.

Ia memasuki Bumi melalui celah ruang dan waktu yang tertinggal—sebuah retakan yang seolah sengaja dibiarkan terbuka. Tujuannya satu: memburu Storm Realms. Manusia itu dianggap ancaman bagi keseimbangan semesta.

"Glyzier Slasher!"

Storm memanggil pedang esnya dan melesat maju.

BLARR!

Belum sempat mendekat, tubuhnya terpental. Tesseract bahkan tak bergerak.

"Teknik rendahan tak akan berguna di hadapan makhluk dimensi sepertiku."

Storm bangkit dengan wajah kesal. Armor Scarlet Slycrimson, mode Ice Emperor—semuanya sudah ia gunakan. Tak ada yang berhasil.

"Rendahan, katamu? Baiklah. Akan kutunjukkan siapa aku sebenarnya."

Tiba-tiba dimensi bergetar.

"Potential Black Hole."

Sebuah lubang hitam raksasa muncul di angkasa dimensi itu. Storm berdiri di atasnya tanpa terpengaruh gravitasi—karena ia sendiri adalah inti dari Black Hole tersebut.

Tesseract terkejut. "Mustahil… Ini dimensiku."

Merasa terancam, ia menembakkan cahaya super cepat.

WHUSH!

Lubang hitam itu berhenti berputar… lalu lenyap.

Storm menggertakkan gigi. "Sial…"

Ia kembali menyerang dengan Armor Scarlet Slycrimson mode Ashura. Enam tangan berlapis baja merah menyala menghancurkan serangan Tesseract.

"Tebasan… ASHURA!"

BLARRR!

Serangan itu menembus pertahanan dimensi. Untuk pertama kalinya, Tesseract mengeram marah.

"Aku salah sangka. Kau bukan manusia biasa."

Storm menatapnya tajam. "Aku Storm Realms. Tujuanku membunuh para dewa. Aku menolak takdir menyedihkan yang diberikan padaku."

Tesseract terdiam sesaat.

"Makhluk hidup tak bisa memberontak dari takdir."

"Lebih baik mati mencoba," jawab Storm pelan, "daripada abadi dalam kehampaan."

Ucapan itu menggema. Bahkan penjaga dimensi yang tak memiliki emosi pun merasakan sesuatu yang asing—kesunyian yang selama ini ia abaikan.

Namun pertarungan belum selesai.

Rantai-rantai tak kasat mata muncul, tercipta dari pikiran Tesseract sendiri. Storm menahannya dengan susah payah. Setiap serangan terasa seperti hukum realitas itu sendiri yang menolaknya.

"Kau terlalu dini menantangku," suara Tesseract menggema.

Storm terpental lagi. Armornya mulai melemah—dimensi ini membatasi kekuatannya seperti segel alami.

Di dunia lain, berita global menyebar. Storm Realms kini diburu. Bahkan Dooms Wlenleys, Hero terkuat APH, turun tangan.

Sementara itu, di sebuah mansion megah, Arabels menatap langit dengan cemas. Rem menghilang tanpa kabar. Ia mencoba tegar, meski hatinya dipenuhi rindu.

Kembali ke dimensi Tesseract—

Storm berdiri dengan napas berat. Luka mulai terasa. Ia tak bisa mengeluarkan kekuatan penuhnya di sini.

"Gunakan segenap kemampuanmu," ejek Tesseract. "Bukankah kau ingin menantang entitas dimensi?"

Storm mengepalkan tangan.

"Aku mungkin lemah. Tapi aku masih punya hati. Dan itu cukup untuk melawan."

Dimensi kembali bergetar.

More Chapters