LightReader

Chapter 343 - Tekad Storm

Blarr!

Storm terpental jauh, hingga terkapar di tempat dimana realitas tidak bisa dijelaskan dengan ilmiah. Storm kewalahan. Sejak tadi dia mengerahkan semua teknik terbaiknya... Hanya saja Tesseract sangat kuat.

Bahkan Storm sedikit terluka. Ini adalah efek samping dari kekalahan mutlaknya di tempat dimensi aneh ini.

Selain tidak bisa mengeluarkan tenaga penuhnya: kekuatannya dibatasi oleh dimensi ruang.

Storm kesulitan mendekati Tesseract. Dia bahkan berdiri saja sejak tadi, tanpa bergerak sama sekali.

Cukup berfikir untuk menyerang dan bertahan... Dia sudah bisa membuatnya kewalahan.

"Sialan, licik sekali kau makhluk jelek."

Kutuk Storm sambil berdiri susah payah.

Tesseract berdiri tenang.

"Hadapi aku menggunakan segenap kemampuanmu. Katanya kau mau menantang makhluk dari dimensi lain."

"Sungguh naif sekali."

Storm menggeram kesal.

Armor Ashura mendadak hilang. Semua fungsi Armor Scarlet Slycrimson, lama-kelamaan sudah tidak berfungsi lagi.

Bukan karena rusak, melainkan tempat ini menahan semua kekuatan penuhnya.

Seperti tempat penyegelan alami.

"Kurasa aku perlu menggunakan kekuatan terkuatku."

Storm berucap dengan penuh tekad.

Didalam hatinya. Storm ingin bertemu Arabels... Kekasih hatinya. Dia merasa bersalah karena lebih mementingkan pertarungan.

Storm benar-benar berharap, Arabels memahami kondisinya.

"Aku tidak punya banyak waktu, menghabiskan pertarungan melawan makhluk dimensi terendah sepertimu."

"Tesseract Dimension."

Nama itu menggema didalam dimensi ruang.

Tesseract sama sekali tidak tertarik banyak bicara.

"Manusia memang naif. Pantas saja kalian makhluk terlemah di alam semesta ini. Hanya dengan orang tercinta saja, manusia lemah sepertimu bisa melemah."

Storm segera menyahutnya.

"Kau tidak akan pernah mengerti arti penderitaan. Aku tahu kau abadi, tapi makhluk abadi tidak pernah merasakan bagaimana rasanya kehilangan oleh orang yang tersayang."

Storm menatap tangannya yang sedikit gemetar.

"Jika bukan karena aku masih memiliki hati nurani, aku mungkin hilang arah. Aku tidak menginginkan hal itu terjadi padaku."

Ucapan itu menggema... Seolah merasakan apa yang dirasakan oleh lubuk hati terdalamnya.

More Chapters