Perjalanan menuju Abell 2029 masih terus berlangsung.
Hari berganti.
Lautan galaksi yang luas tetap membentang di depan armada.
Tidak ada portal.
Tidak ada jalan pintas.
Hanya ruang tanpa batas yang harus mereka lewati.
Di dalam Ginga Stars, Storm berdiri di ruang kendali utama.
Wajahnya tetap tenang, tetapi tangannya perlahan mengepal.
Ia jelas mulai kehilangan kesabaran.
"Ini terlalu lama."
Napstylea yang berada di kursi navigator menoleh kepadanya.
"Storm..."
"Kita tidak akan sampai."
Suara Storm datar.
Napstylea mencoba menenangkannya.
"Kita hanya perlu bersabar. Abell 2029 memang sangat jauh."
Storm menatap layar holografik yang memperlihatkan koordinat tujuan.
"Kalau kita terus bergerak seperti ini..."
Ia berhenti sejenak.
"...kita tidak akan sampai pada waktunya."
Proxi yang berada di dekat panel analisis segera menoleh.
Storm kemudian berjalan menuju pusat kendali.
"Proxi."
"Ya, Kapten Storm?"
"Perbesar Ginga Stars."
Proxi terdiam.
"Seberapa besar?"
Storm menatap lautan galaksi di depan mereka.
"Sebesar yang diperlukan."
Napstylea langsung menoleh.
"Storm, apa maksudmu?"
Storm mengangkat tangannya.
"Kita akan menggunakan energi kosmik yang tersebar di Universe sebagai sumber tenaga."
Proxi memahami maksudnya.
"Jadi kita tidak lagi bergantung pada sumber energi internal Ginga Stars."
"Benar."
Storm mengangguk.
"Gunakan energi kosmik di sekitar kita."
Proxi langsung menjalankan perintah.
"Dimengerti."
Sistem Ginga Stars mulai aktif.
[COSMIC ENERGY EXTRACTION: ACTIVE.]
Cahaya mulai menyelimuti tubuh mecha.
Energi dari ruang di sekitarnya perlahan mengalir menuju Ginga Stars.
Nebula-nebula jauh bergetar.
Partikel kosmik bergerak mengikuti medan energi yang terbentuk.
Bintang-bintang yang berada jauh di antara galaksi tampak seperti titik-titik cahaya yang perlahan tertarik menuju medan energi Ginga Stars.
Kemudian...
Ginga Stars mulai membesar.
Perlahan.
Namun terus meningkat.
Ukuran mecha yang sebelumnya sudah mampu mencapai skala galaksi kini melewati batas tersebut.
Satu galaksi.
Kemudian beberapa galaksi.
Lalu puluhan galaksi.
Tubuh Ginga Stars akhirnya mencapai ukuran yang begitu besar hingga menyerupai sebuah gugus galaksi raksasa.
Napstylea membeku di kursinya.
Matanya terbuka lebar.
"Ini..."
Ia menatap keluar.
Tubuh Ginga Stars kini membentang begitu luas di tengah lautan galaksi.
Kapal Nexus yang sebelumnya tampak besar kini hanya terlihat seperti titik cahaya kecil.
Armada Andromeda dan Tringgulung juga tidak lebih dari kumpulan cahaya redup di kejauhan.
Napstylea menelan ludah.
"Storm..."
Storm tetap berdiri tenang.
"Ginga Stars..."
Napstylea menunjuk ke luar.
"Ukurannya sekarang..."
Storm menatap tubuh Ginga Stars.
"Masih belum maksimal."
Napstylea langsung terdiam.
"Apa?"
Storm menoleh kepadanya.
"Kalau sumber daya kosmik di sekitar kita cukup melimpah, Ginga Stars bisa menjadi jauh lebih besar."
"Seberapa besar lagi?"
Storm menjawab tanpa ragu.
"Seukuran Universe bahkan lebih."
Napstylea terdiam.
Proxi berhenti sejenak dari pekerjaannya.
"Ukuran Universe?" ulangnya.
Storm mengangguk.
"Namun untuk mencapai ukuran itu, kita membutuhkan energi kosmik dalam jumlah yang sangat besar."
Napstylea masih memandangi ruang di luar.
Ia mencoba membayangkan sebuah mecha yang ukurannya dapat menyamai seluruh Universe.
Bayangan itu saja sudah sulit dipahami.
Storm kemudian berjalan menuju bagian depan ruang kendali.
"Proxi."
"Ya."
"Bawa semua armada."
Proxi memahami perintah tersebut.
"Bagaimana caranya membawa armada?"
Storm mengangkat tangannya.
Di kejauhan, telapak tangan Ginga Stars perlahan terbuka.
Ukurannya kini begitu besar hingga armada yang terdiri dari kapal-kapal raksasa terlihat sangat kecil dibandingkan telapak tersebut.
Storm kemudian menggerakkan tangannya dengan hati-hati.
"Letakkan Nexus dan kedua armada di telapak Ginga Stars."
Proxi segera mengirimkan instruksi kepada seluruh armada.
Pesan itu diterima oleh Nexus.
Aryes melihat layar dengan ekspresi terkejut.
"Apa?"
Di luar Nexus, seluruh awak melihat tangan raksasa Ginga Stars mendekat.
Lira berdiri dari kursinya.
"Itu..."
Violys tidak mampu berkata-kata.
Jester justru tertawa kecil.
"Jadi kita sekarang akan menumpang di tangan Ginga Stars?"
Zero menatap keluar dengan wajah serius.
"Sepertinya begitu."
Armada Andromeda dan Tringgulung perlahan bergerak menuju telapak Ginga Stars.
Nexus mengikuti dari belakang.
Tidak lama kemudian...
Ketiga armada tersebut berada di atas telapak tangan raksasa Ginga Stars.
Bagi Storm, mereka hanya seperti kapal-kapal kecil.
Namun Storm tetap menggerakkan tangannya dengan sangat hati-hati.
Napstylea memperhatikan semuanya dengan kagum.
"Storm..."
"Hm?"
"Apakah kau yakin bisa membawa semuanya?"
Storm menatapnya.
"Jangan khawatir."
Ia kemudian menatap ke depan.
"Kita akan sampai lebih cepat."
Proxi mengaktifkan sistem navigasi.
[COSMIC ACCELERATION SYSTEM — READY.]
Storm mengangkat tangan satunya.
Energi kosmik mulai berkumpul di sekitar tubuh Ginga Stars.
Lautan galaksi seolah bergerak.
Ruang di depan mereka bergetar.
Kemudian Storm berkata dengan tenang.
"Berangkat."
Dalam sekejap—
BOOOOM!
Ginga Stars melesat.
Bukan seperti sebuah kapal.
Bukan seperti sebuah mecha biasa.
Ia bergerak seperti raksasa kosmik yang menembus lautan Universe.
Galaksi-galaksi yang jauh tampak seperti cahaya kecil yang dilewati dalam sekejap.
Armada Andromeda, Tringgulung, dan Nexus tetap berada di telapak tangan Ginga Stars.
Mereka tidak lagi harus menempuh perjalanan panjang dengan kecepatan armada biasa.
Kini seluruh ekspedisi dibawa oleh satu raksasa.
Storm menatap lurus ke depan.
Koordinat Abell 2029 semakin dekat.
Napstylea berdiri di sampingnya.
Untuk sesaat, ia kembali melihat ukuran Ginga Stars melalui jendela utama.
Ia masih belum terbiasa dengan pemandangan tersebut.
Sebuah mecha sebesar gugus galaksi.
Membawa seluruh armada di telapak tangannya.
