LightReader

Chapter 894 - Cahaya di Tengah Kehampaan

Di dalam gugus galaksi Abell 2029...

Galaksi terbesar di wilayah tersebut, IC 1101, perlahan berubah menjadi tempat yang mengerikan.

Dahulu, galaksi itu dipenuhi cahaya.

Planet-planet mengelilingi bintang.

Asteroid memenuhi ruang antarbintang.

Nebula-nebula menghiasi langit.

Berbagai peradaban hidup di antara sistem-sistem bintang yang tak terhitung jumlahnya.

Namun sekarang...

Semuanya mulai menghilang.

Satu demi satu.

Planet lenyap.

Asteroid menghilang.

Bintang-bintang kehilangan cahayanya.

Beberapa wilayah ruang angkasa mulai berubah menjadi kehampaan.

Semua itu terjadi karena satu kekuatan.

Bootes Void.

Kelompok dari Cosmic Void yang menginvasi gugus Abell 2029.

Mereka tidak sekadar menghancurkan wilayah yang mereka kuasai.

Mereka mengosongkannya.

Apa pun yang berada di dalam wilayah mereka perlahan terserap ke dalam Cosmic Void.

Dan di tengah kehancuran tersebut berdiri sebuah kerajaan.

Kerajaan IC 1101.

Kerajaan yang selama bertahun-tahun menjaga salah satu wilayah terbesar di galaksi.

Namun sekarang...

kerajaan itu hampir tidak tersisa.

Di antara puing-puing istana yang telah hancur...

seorang pria paruh baya duduk dengan tubuh yang terlihat lelah.

Perseiron.

Panglima perang IC 1101.

Selama invasi Bootes Void, dialah yang memimpin pasukan kerajaan untuk mempertahankan galaksi.

Ia telah kehilangan banyak prajurit.

Banyak kota telah runtuh.

Banyak wilayah kerajaan telah lenyap.

Sang Raja...

telah menghilang.

Tidak ada yang tahu apakah sang Raja telah tertelan oleh Cosmic Void atau telah dibawa ke wilayah kekuasaan Bootes Void.

Sejak saat itu, Perseiron mengambil satu sumpah.

Melindungi sang putri.

Putri Abell IC 1101.

Perseiron menatap gadis yang kini bersandar lemah di bahunya.

Putri itu masih mengenakan pakaian kerajaan yang telah penuh debu.

Di kepalanya terdapat mahkota kecil berwarna emas.

Mahkota yang dahulu menjadi simbol kejayaan kerajaan.

Kini simbol itu terlihat begitu kecil di tengah kehancuran istana.

Perseiron menarik napas panjang.

"Putri..."

Tidak ada jawaban.

Sang putri hanya diam dengan mata yang terpejam, terlalu lelah untuk berbicara.

Perseiron memandang ke langit.

Langit malam IC 1101 tidak lagi seperti dahulu.

Sebagian wilayahnya gelap.

Bintang-bintang menghilang satu demi satu.

Cahaya yang tersisa bahkan tidak cukup untuk menerangi puing-puing istana.

Perseiron menundukkan kepala.

"Apakah semuanya akan berakhir seperti ini?"

Ia melihat sekeliling.

Tembok istana telah runtuh.

Menara kerajaan hancur.

Jalan-jalan dipenuhi puing.

Pasukan kerajaan yang tersisa hanya berjumlah sedikit.

Dan di kejauhan...

kehampaan terus mendekat.

Bootes Void semakin memperluas wilayahnya.

Perseiron menggenggam tangannya.

Selama beberapa saat, ia hanya diam.

Ia tahu keadaan mereka sangat buruk.

Bahkan jika seluruh pasukan IC 1101 mengerahkan kekuatan terakhir mereka...

mereka mungkin tetap tidak mampu menghentikan Bootes Void.

Namun Perseiron tidak menyerah.

Ia telah berjanji.

Ia akan melindungi sang putri.

Selama sang putri masih hidup...

ia tidak akan meninggalkan tempat ini.

Tiba-tiba—

Perseiron melihat sesuatu.

Cahaya.

Sangat jauh.

Awalnya hanya berupa titik kecil di antara kegelapan.

Perseiron mengangkat kepalanya.

"Apa itu...?"

Cahaya tersebut semakin terlihat.

Perseiron berdiri perlahan.

Tatapannya tidak pernah lepas dari benda bercahaya itu.

Cahaya tersebut bergerak.

Menuju IC 1101.

Semakin dekat.

Semakin terang.

Namun jaraknya masih sangat jauh.

Perseiron tidak tahu apa yang sedang mendekat.

Apakah itu pasukan Bootes Void?

Musuh baru?

Atau sesuatu yang lain?

Ia tidak tahu.

Tetapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama...

ia melihat sesuatu yang bukan kehampaan.

Sebuah cahaya.

Perseiron menatapnya dengan penuh harapan.

"Mungkinkah..."

Ia tidak melanjutkan kalimatnya.

Ia tahu dirinya tidak boleh terlalu berharap.

Namun manusia selalu memiliki sesuatu yang membuat mereka tetap bertahan.

Harapan.

Perseiron kembali menatap sang putri.

Ia kemudian berkata dengan suara pelan.

"Putri..."

Sang putri perlahan membuka matanya.

"Kita belum boleh menyerah."

Perseiron berdiri dan membantu sang putri untuk bangkit.

"Saya sudah bersumpah untuk melindungi Anda."

Ia menatap cahaya di kejauhan.

"Selama saya masih mampu berdiri..."

Perseiron menggenggam senjatanya.

"...saya akan terus melawan."

Sang putri memandangnya.

Perseiron kemudian tersenyum tipis.

"Mungkin itu keajaiban."

Cahaya di kejauhan semakin besar.

Perseiron tidak tahu siapa yang datang.

Namun ia memilih untuk mempercayai satu hal.

Bahwa selama masih ada cahaya yang menuju mereka...

perjuangan mereka belum berakhir.

More Chapters