LightReader

Chapter 895 - Cahaya yang Jatuh dari Langit

Langit IC 1101 semakin gelap.

Kehampaan dari wilayah Bootes Void terus merambat ke berbagai penjuru galaksi.

Bukan hanya planet dan bintang yang menghilang.

Energi ruang hampa mulai memasuki wilayah-wilayah yang masih bertahan.

Di antara reruntuhan istana...

Perseiron masih berdiri sambil memandangi cahaya yang semakin mendekat dari kejauhan.

Namun tiba-tiba—

Tubuh Putri Abell kehilangan keseimbangan.

"Putri!"

Perseiron segera menangkap tubuhnya sebelum terjatuh.

Ia memandang wajah sang putri dengan cemas.

"Putri Abell!"

Tubuh Abell terasa semakin lemah.

Napasnya terdengar berat.

Energi kehampaan mulai memengaruhi dirinya.

Perseiron menggertakkan gigi.

Ia menggenggam pedangnya erat.

"Tidak akan..."

Tatapannya berubah serius.

"Jangan sampai energi itu mengambil Anda juga."

Abell perlahan membuka mata.

Ia melihat wajah Perseiron yang penuh kekhawatiran.

Kemudian, dengan sisa tenaganya, ia menggelengkan kepala.

"Perseiron..."

"Jangan bicara dulu."

Perseiron mencoba membantunya berdiri.

Namun Abell justru meraih tubuhnya dan memeluknya erat.

Perseiron terdiam.

"Putri?"

Abell memejamkan mata.

"Aku tidak ingin kehilangan siapa pun lagi."

Suara gadis itu terdengar lemah.

"Ayahanda sudah menghilang..."

Ia menarik napas.

"Banyak prajurit sudah tidak kembali."

Abell kemudian mempererat pelukannya.

"Aku tidak ingin kau juga menghilang."

Perseiron membeku.

Selama ini ia selalu menganggap dirinya sebagai seseorang yang harus melindungi sang putri.

Namun sekarang...

justru sang putri yang mengkhawatirkannya.

"Lebih baik kita pergi."

Abell menatapnya.

"Kita masih bisa bertahan di tempat lain."

Perseiron tidak langsung menjawab.

Abell melanjutkan dengan suara pelan.

"Kalau kita tetap di sini tanpa pasukan..."

Tatapannya menunjukkan ketakutan, tetapi juga keteguhan.

"...kita hanya akan kehilangan diri kita sendiri."

Perseiron menundukkan kepala.

Pedang yang sejak tadi digenggamnya perlahan mengendur.

Ia melihat tangan Abell yang masih memegang pakaiannya.

Begitu tulus.

Begitu sederhana.

Dan begitu berbeda dari perintah perang yang selama ini ia dengar.

Perseiron akhirnya memahami sesuatu.

Ia bukan hanya menjaga seorang putri.

Ia sedang menjaga seseorang yang juga menginginkan dirinya tetap hidup.

"Putri..."

Perseiron menarik napas panjang.

"Anda benar."

Ia menyarungkan pedangnya.

"Kita pergi."

Tiba-tiba—

WUUUUSSH!

Sebuah cahaya melintas di atas mereka.

Perseiron langsung mengangkat kepalanya.

Matanya melebar.

Satu cahaya.

Kemudian dua.

Lalu puluhan.

Cahaya-cahaya itu mulai bermunculan dari langit.

Seperti meteor yang jatuh menuju permukaan IC 1101.

Perseiron refleks menarik pedangnya kembali.

"Serangan?"

Ia bersiap.

Jika itu pasukan Bootes Void, ia harus melindungi Abell.

Beberapa detik kemudian...

Perseiron kembali menatap langit.

Jumlah cahaya terus bertambah.

Terlalu banyak.

Dan kecepatannya...

terlalu tinggi.

Perseiron mengepalkan tangan pada gagang pedangnya.

Ia tahu satu hal.

Tanpa pasukan.

Tanpa pertahanan kerajaan.

Tanpa bala bantuan...

bertarung sekarang sama saja dengan mempertaruhkan nyawa mereka tanpa tujuan.

Ia akhirnya menurunkan pedangnya.

"Ayo pergi Putri."

Abell terkejut.

"Perseiron?"

"Kita tidak akan melawan mereka."

Perseiron mengulurkan tangannya.

"Kita harus bertahan."

Abell menatap tangan itu beberapa saat.

Kemudian ia menggenggamnya.

Perseiron segera menariknya dan mulai berlari meninggalkan reruntuhan istana.

Mereka melewati jalan-jalan yang telah hancur.

Meninggalkan bangunan kerajaan yang tidak lagi bisa mereka pertahankan.

Di belakang mereka...

cahaya-cahaya terus jatuh dari langit.

DUUM!

Tanah bergetar.

Perseiron tidak menoleh.

Ia hanya terus berlari.

Tangannya menggenggam tangan Abell dengan kuat.

"Kita harus menemukan tempat berlindung."

Abell mengangguk.

Mereka berdua terus berlari di tengah kota yang telah kehilangan sebagian besar cahayanya.

More Chapters