LightReader

Chapter 898 - Sumpah di Tengah Kehancuran

Malam di IC 1101 terasa begitu sunyi.

Di dalam ruang bawah tanah yang tersembunyi di balik reruntuhan, Perseiron tertidur dengan tubuh bersandar pada batu besar.

Putri Abell berada di sampingnya.

Untuk beberapa saat, tidak ada suara pertempuran.

Tidak ada ledakan.

Tidak ada pasukan Bootes Void.

Hanya keheningan.

Di dalam tidurnya...

Perseiron kembali ke masa lalu.

Ia berdiri di dalam istana yang masih utuh.

Dinding-dindingnya bersinar.

Cahaya bintang memenuhi jendela-jendela besar.

Di hadapannya berdiri seorang pria yang mengenakan pakaian kerajaan.

Raja 1101.

Angka 1101 bukanlah nama asli sang raja.

Itu adalah julukan yang diberikan kepadanya untuk membedakan dirinya dari para penguasa galaksi lainnya.

Di alam semesta yang memiliki jumlah penguasa yang tidak terhitung, angka sering digunakan sebagai julukan agar setiap penguasa dapat dikenali.

Raja 1101 menatap Perseiron dengan serius.

"Perseiron."

"Yang Mulia."

"Aku memiliki satu perintah untukmu."

Perseiron menundukkan kepala.

"Perintah apa pun akan saya laksanakan."

Raja 1101 kemudian menatap ke arah taman istana.

Di sana terdapat seorang gadis kecil yang sedang berlari dengan ceria.

Rambutnya bergerak tertiup angin.

Wajahnya penuh kebahagiaan.

Dialah Abell.

Putri Abell IC 1101.

Saat itu, dia masih terlalu muda untuk memahami dunia yang luas di luar istana.

Raja 1101 tersenyum kecil.

"Jadilah pelindungnya."

Perseiron menatap sang raja.

"Putri Abell?"

"Ya."

Raja 1101 mengangguk.

"Apa pun yang terjadi."

Perseiron langsung berlutut.

"Saya bersumpah."

Ia mengangkat kepalanya.

"Saya akan melindungi Putri Abell selama saya masih mampu berdiri."

Waktu kemudian berjalan.

Gadis kecil itu tumbuh.

Perseiron juga berubah.

Ia menjadi salah satu prajurit terkuat IC 1101.

Kemudian menjadi panglima perang utama kerajaan.

Namun sumpahnya tidak pernah berubah.

Ia tetap berada di sisi Abell.

Sampai suatu hari...

langit IC 1101 berubah menjadi gelap.

Bootes Void datang.

Perang dimulai.

Bertahun-tahun berlalu.

IC 1101 terus bertahan.

Planet demi planet menjadi medan pertempuran.

Bintang-bintang mulai menghilang.

Wilayah kerajaan perlahan menyusut.

Dan akhirnya...

Raja 1101 menghilang.

Perseiron masih bertahan.

Masih menjalankan sumpahnya.

Melindungi Abell.

"Perseiron..."

Sebuah suara terdengar.

"Perseiron..."

Perseiron membuka matanya.

Ia kembali berada di ruang bawah tanah.

Namun suara itu bukan berasal dari masa lalu.

Abell sedang tidur di sampingnya.

Wajahnya tampak ketakutan.

Perseiron segera menyadari bahwa sang putri sedang mengalami mimpi buruk.

"Putri..."

Ia mendekat.

Abell masih belum terbangun.

Perseiron kemudian memeluknya dengan hati-hati.

"Tenang."

Abell perlahan menjadi lebih tenang.

Perseiron menatap wajahnya.

Ia teringat masa lalu.

Dulu Abell adalah gadis kecil yang selalu berlari di taman istana.

Sekarang...

istana itu sudah tidak ada.

Kerajaan mereka hampir hancur.

Namun Abell masih berada di sisinya.

Perseiron tersenyum tipis.

"Setidaknya..."

Ia menatap sekeliling ruangan.

"...kita masih bersama."

Untuk sesaat, ia membayangkan kehidupan setelah semua kekacauan ini berakhir.

Tidak ada perang.

Tidak ada Bootes Void.

Tidak ada kehancuran.

Hanya kehidupan damai.

Namun suara Abell membuatnya kembali sadar.

"Perseiron..."

Abell membuka mata.

Ia tampak sedikit terkejut ketika menyadari dirinya berada dalam pelukan Perseiron.

Perseiron melepaskannya perlahan.

"Apakah Anda baik-baik saja?"

Abell mengangguk.

Ia berusaha tersenyum.

Kemudian tangannya mencari tangan Perseiron.

Ia menggenggamnya erat.

"Perseiron..."

"Ya?"

"Aku ingin mengatakan sesuatu."

Perseiron menatapnya.

Abell menarik napas.

"Aku sudah lama mengagumimu."

Perseiron terdiam.

"Sejak masih berada di istana."

Abell menundukkan kepala.

"Dulu aku selalu melihatmu sebagai orang yang berdiri di sisiku."

Ia tersenyum kecil.

"Tapi semakin aku tumbuh..."

Abell kembali menatapnya.

"...aku menyadari bahwa perasaanku kepadamu berbeda."

Perseiron tidak segera menjawab.

Abell menggenggam tangannya semakin erat.

"Aku ingin kita menjadi pasangan."

Ruangan itu kembali sunyi.

Perseiron memandang Abell.

Di tengah dunia yang sedang runtuh, permintaan itu terasa begitu sederhana.

Ia tidak tahu apakah mereka akan berhasil keluar dari IC 1101.

Ia tidak tahu apakah perang akan berakhir.

Namun ia tahu satu hal.

Ia tidak ingin meninggalkan Abell.

Perseiron akhirnya mengangguk lemah.

"Baik."

Abell tersenyum.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, wajahnya menunjukkan kebahagiaan yang tulus.

Ia kembali memeluk Perseiron.

"Kita akan selalu bersama."

Perseiron membalas pelukan itu dengan tenang.

"Selama saya masih bisa berdiri. Saya tidak akan melanggar sumpah."

More Chapters