LightReader

Chapter 900 - Di Luar Batas Universe

Ginga Stars terus melesat.

Tubuhnya yang kini berukuran sebesar gugus galaksi bergerak menembus lautan gugus galaksi dengan kecepatan luar biasa.

Di bawah telapak tangannya...

Nexus, armada Andromeda, dan armada Tringgulung terlihat sangat kecil.

Bahkan jika dibandingkan dengan ukuran telapak Ginga Stars, seluruh armada tersebut tampak seperti sekumpulan semut yang sedang dibawa oleh seorang raksasa.

Namun Ginga Stars tetap bergerak dengan hati-hati.

Storm tidak ingin satu pun armada terlepas dari telapak tangannya.

Di dalam inti Ginga Stars...

Storm duduk di ruang kendali.

Tangannya mengendalikan sistem utama.

Tatapannya lurus ke depan.

Abell 2029 semakin dekat.

"Lebih cepat."

Proxi yang berada di ruang data langsung menjawab.

"Kecepatan Ginga Stars sudah mendekati batas aman."

Storm tidak mengalihkan pandangannya.

"Naikkan sedikit lagi."

Proxi terdiam.

"Kapten."

"Aku tahu."

Storm kemudian tersenyum tipis.

"Aku hanya ingin segera bertemu dengan makhluk yang mampu membuat wilayah ini berada di ambang kehancuran."

Ia menggenggam kendali Ginga Stars.

"Jika mereka benar-benar sekuat yang dikatakan..."

Tatapannya menjadi tajam.

"...aku ingin melihatnya sendiri."

Napstylea yang duduk di kursi navigator memperhatikan Storm.

Ia kemudian mengelus dadanya perlahan.

Ia sudah memahami sifat Storm.

Jika Storm telah menetapkan tujuan...

sulit bagi siapa pun untuk menghentikannya.

Napstylea tersenyum kecil.

"Aku memang tidak bisa menghentikanmu."

Storm menoleh sebentar.

Napstylea melanjutkan.

"Tapi aku senang."

Storm diam.

"Setidaknya..."

Napstylea menatap ruang angkasa di depan mereka.

"...kita tetap bersama."

Ia tersenyum.

"Bahkan kalau perjalanan ini membawa kita sampai ke ujung Universe."

Storm tidak menjawab.

Namun ekspresinya sedikit melunak.

Ginga Stars terus melaju.

Beberapa saat kemudian...

Proxi tiba-tiba berhenti menganalisis jalur perjalanan.

"Kapten."

"Hm?"

"Aku menemukan sesuatu."

Storm menoleh.

Napstylea juga memperhatikannya.

Proxi menampilkan peta holografik raksasa.

Berbagai gugus galaksi, supercluster, dan jaringan kosmik muncul.

"Data mengenai struktur Universe ternyata berbeda dari perkiraan kita."

Storm mengamati peta tersebut.

"Jelaskan."

Proxi memperbesar peta.

"Selama ini kita menganggap para Supercluster sebagai penjaga Universe."

Sebuah simbol muncul.

SUPERCLUSTER.

"Namun sebenarnya..."

Proxi mengubah tampilan.

"Universe terlalu luas untuk dikendalikan atau dijaga sepenuhnya oleh mereka."

Storm terdiam.

Napstylea mengerutkan kening.

"Apa maksudnya?"

"Supercluster bukan penjaga keseluruhan Universe."

Proxi menunjuk berbagai wilayah yang sangat luas.

"Mereka hanya bagian kecil dari struktur kosmik yang jauh lebih besar."

Storm menatap peta.

"Jadi para Supercluster..."

"...bukan penguasa Universe."

Proxi mengangguk.

"Benar."

Ia kemudian menampilkan struktur Cosmic Web.

"Supercluster memiliki peran sebagai penjaga wilayah Cosmic Web tertentu."

"Gugus-gugus galaksi merupakan bagian dari struktur kekuasaan kosmik di dalam wilayah tersebut."

Kemudian Proxi memperkecil seluruh peta.

Semakin diperkecil...

semakin besar Universe terlihat.

Gugus galaksi yang sebelumnya tampak sangat besar kini hanya menjadi titik-titik kecil.

Wilayah Supercluster tampak seperti bagian kecil dari keseluruhan struktur.

Napstylea terdiam.

"Seberapa besar sebenarnya Universe?"

Proxi menjawab.

"Jauh lebih besar daripada yang bisa kita bayangkan."

Storm memandangi peta.

"Dan para Supercluster?"

"Mereka sendiri tidak dapat melihat seluruh Universe secara langsung."

Storm dan Napstylea saling berpandangan.

Keduanya sama-sama tidak percaya.

Jika para Supercluster yang kekuatannya mampu menandingi entitas Cosmic Void saja tidak dapat melihat keseluruhan Universe...

maka ukuran Universe sebenarnya berada di luar pemahaman mereka.

Storm akhirnya berkata pelan.

"Jadi bahkan mereka..."

"...hanya hidup di dalam sebagian kecil dari Universe."

Proxi mengangguk.

"Kesimpulan sementara menunjukkan demikian."

Napstylea menatap ruang di luar Ginga Stars.

"Kalau Universe sebesar itu..."

Ia berhenti.

"...maka mungkin ada sesuatu yang lebih besar."

Storm memahami maksudnya.

"Alam semesta lain."

Proxi langsung mengangguk.

"Itu sangat mungkin."

Ia menampilkan beberapa simbol misterius.

"Jika kita terus meninggalkan batas Universe ini..."

Proxi memperbesar bagian luar peta.

"...kita kemungkinan akan memasuki wilayah yang disebut Multiverse."

Napstylea terdiam.

"Multiverse..."

Storm menatap simbol tersebut.

"Berarti ada Universe lain."

"Benar."

Proxi melanjutkan.

"Dan kemungkinan tidak hanya satu."

Hening.

Untuk beberapa saat, Storm hanya melihat peta tersebut.

Alam semesta.

Multiverse.

Universe yang tak terhitung.

Sebuah struktur kosmik yang bahkan tidak mampu mereka pahami sepenuhnya.

Storm teringat sesuatu.

"Triesverse."

Proxi menoleh.

Napstylea juga langsung memperhatikannya.

Storm berkata,

"Di antara semua Universe..."

Ia menatap layar.

"Aku lebih tertarik pada Triesverse."

Napstylea tersenyum.

"Karena itu adalah masa depan kita."

Storm mengangguk.

"Benar."

Ia kembali menatap lautan galaksi di depan.

Mereka mungkin bisa mengunjungi banyak Universe.

Mungkin bahkan menjelajahi Multiverse.

Namun Triesverse berbeda.

Triesverse bukan sekadar alam semesta lain.

Itu adalah masa depan dari Universe mereka sendiri.

Tempat yang menyimpan kemungkinan tentang apa yang akan terjadi pada mereka.

Tentang bagaimana peradaban berkembang.

Tentang bagaimana kekuatan kosmik berubah.

Dan mungkin...

tentang masa depan Storm sendiri.

Proxi berkata,

"Secara logika, menjelajahi seluruh Multiverse akan membutuhkan waktu yang tidak dapat kita ukur."

Storm tersenyum kecil.

"Kalau begitu kita tidak perlu menjelajahi semuanya."

Napstylea menatapnya.

"Kita punya tujuan akhir dari perjalanan itu sendiri."

Storm mengangguk.

"Triesverse."

Ginga Stars terus melaju.

More Chapters