LightReader

Chapter 13 - Bab 13 Heart of the Abyss

Malam di Eldoria masih bergelayut antara senja dan bintang. Di tengah menara penjaga, sahabat ketiga itu menyusun rencana sambil menunggu cahaya bulan menembus celah‑celah batu.

"Pertama, kita harus mengirim sinyal ke nasihat Arcana," kata Lyra sambil menatap hologram yang masih berputar di atas meja batu. "Jika mereka mengetahui tentang ancaman di Pulau Bayu, mereka dapat menyiapkan pertahanan di sana atau mengirim bantuan."

Dian menatap layar Sistema, lalu menekan kombinasi tombol yang menyalakan saluran komunikasi ajaib kuno. "Saya sudah menghubungkan ke Relik Koneksi Arkan—sinyal ini akan menembus leyline dan langsung ke ruang tak terjamah nasihat. Waktu yang dibutuhkan tiga jam, bila tidak ada gangguan."

Kael mengangguk. "Kita tidak punya waktu lama. Kegelapan itu menembus setiap celah, bahkan di laut." Ia menatap ke arah pelabuhan yang bersinar tipis di kejauhan, di mana kapal‑kapal penjaga angin berlabuh.

Lyra melangkah ke sebuah papan kayu tua, menuliskan mantra perlindungan pada kulitnya. "Aku akan menyiapkan 'Wind‑Veil', lapisan pelindung yang menyalurkan energi positif ke kapal. Dengan begitu, apa pun yang mencoba menyusup melalui kabut atau badai akan terhalang."

Dian menatap peta holografik lagi, memperbesar pulau yang berada di tengah samudra: Pulau Bayu, tempat para Penjaga Angin beristirahat, menatap ke langit seperti menara‑menara batu terlindungi perak. Di sana, batu‑batu leyline menembus tanah, mengumpulkan energi angin yang sudah lama diselaraskan dengan cahaya.

"Berarti kita berangkat besok subuh," kata Kael sambil menatap kompas yang berdegup pelan. "Aku akan membawa 'Sunblade', pedang yang masih menyimpan sisa energi matahari. Jika ada yang menghalangi, setidaknya ada cahaya yang bisa menembus kegelapan."

Mereka menghabiskan sisa malam menyiapkan perlengkapan: ransel berisi obat‑obatan, makanan kering, dan kristal‑kristal kecil yang menyerap energi pelindung. Dian menempatkan modul Sistemanya di dalam kotak kayu berukir, memastikan ia dapat mengakses kembali jaringan leyline selama pelayaran. Lyra menyiapkan gulungan mantra yang akan dibakar di atas dek, menciptakan "Aether Flare" yang akan menandai jalur mereka di atas laut.

Pagi tiba dengan kabut tebal yang membungkus Eldoria. Di pelabuhan, sebuah perahu berlayar berwarna perak mengambang, dibalut kabut seperti selimut putih. Nakhoda—seorang pria tua bernama Maelon, bekas Penjaga Angin—menyambut mereka dengan senyum lemah, namun mata matanya bersinar penuh kewaspadaan.

"Bergerak cepat, anak‑anak," ucap Maelon sambil menurunkan jangkar. "Angin sudah berubah; kutukan itu merambah ke lautan. Aku merasakan getaran gelap menembus ombak—kita tidak boleh terlambat."

Saat perahu meluncur, Lyra menyalakan gulungan Aether, menciptakan cahaya biru‑hijau yang menari di atas gelombang. Sinar itu menyerupai bintang yang menuntun, sementara Sistemanya mengkondisikan energi di bawah permukaan laut.

"Ada titik konsentrasi di kedalaman tiga mil dari sini," bunyi Sistem, "gelombang gelap berdenyut, seolah‑akan menyerap energi laut itu sendiri."

Kael menatap cakrawala, menggerakkan Sunblade ke arah matahari yang masih menampakkan sinarnya meski disembunyikan awan. "Jika energi gelap ini menembus ke Pulau Bayu, ia akan mengganggu keseimbangan angin. Kita harus memutus alirannya sebelum ia mencapai pulau."

Mereka menurunkan perahu ke arah titik yang terdeteksi. Dari dalam udara, suara berderak terdengar—seperti gemuruh batu di bawah laut. Tiba‑tiba, sebuah kolom energi hitam menjulang dari kedalaman, membentuk siluet menakutkan yang berdenyut seperti jantung gelap. Di tengah kolom, sebuah kristal besar berwarna obsidian berputar, memancarkan getaran gelap yang menebar ke sekeliling.

"Ini adalah 'Heart of the Abyss'," bisik Dian, matanya tertuju pada data yang mengalir cepat. "Jika tidak dihentikan, ia akan mengalir melalui leyline laut ke Pulau Bayu dan menutup angin selamanya."

Kael mengangkat Sunblade, memusatkan cahaya matahari pada kristal. "Aku akan memecahnya dengan cahaya murni."

Lyra menyanyikan mantra "Tempest Cleave", memanggil angin kencang yang menampar ombak. Angin memutar perahu, menyeimbangkan energi yang berasal dari kristal. Sementara itu, Dian mengalirkan pulsa resonansi dari Sistema ke kristal, menciptakan getaran berlawanan yang mengoyak jaringan gelap.

Pertempuran antara cahaya, angin, dan kegelapan berlangsung selama beberapa menit yang terasa selamanya. Kristal obsidian bergetar, retakan‑retakan muncul, lalu seketika runtuh menjadi serpihan‑serpihan bersinar seperti bintang jatuh, menghilang ke dalam laut. Gelombang hitam menghilang, digantikan oleh cahaya biru‑keemasan yang merembes ke seluruh perairan.

Saat debu laut mengendap, laut kembali tenang. Angin berhembus lembut, membawa aroma garam dan bunga kelapa. Di perbincangan, Pulau Bayu muncul, menampakkan menara‑menara batu berbalut daun perak yang menunggu mereka.

Maelon menatap Cakrawala, mata berkaca‑kaca. "Kita berhasil menghalangi satu serangan, tapi masih ada lebih banyak lagi. Penjaga Angin menunggu kita; mereka akan menilai apakah kita layak bertempur dalam pertempuran melawan kegelapan."

Kael mengangguk, menatap matahari yang mulai terbenam di balik pulau. "Kita tidak hanya menyelamatkan menara, tapi juga menjaga nafas dunia ini. Mari kita membawa harapan ke Pulau Bayu, dan membiarkan angin‑angin suci membawa kami ke pertempuran selanjutnya."

Dengan langkah mantap, mereka menurunkan perahu ke pantai berpasir putih, sementara Sistemanya bersinar di belakang mereka, menyiapkan jaringan leyline baru yang akan menyatukan cahaya, angin, dan udara dalam satu perlindungan—sebuah simfoni yang akan melawan bayangan‑bayang yang mengintai di ujung dunia.

Di balik cakrawala, awan gelap berputar perlahan, menandakan bahwa kegelapan belum sepenuhnya terpuruk. Namun, kini ada tiga pahlawan yang menyalakan lentera harapan, siap mengejar tiap hembusan angin, setiap gelombang, hingga akhir zaman.

More Chapters