LightReader

Chapter 130 - Chapter 130

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

❄🔥 CHAPTER 130 — "Dewa Es Turun, Ancaman Pertama & Kemarahan Damien"

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Angin membeku.

Langit seolah ditekan oleh tangan raksasa tak terlihat.

Aurelius Frostmourn turun dengan langkah pelan, namun setiap langkah membuat salju di seluruh kota berhenti bergerak.

Zura tersungkur, bukan karena takut—

tetapi karena insting kunonya sedang menahan diri agar tidak membunuh Dewa Es itu di tempat.

Damien tetap berdiri.

Nafasnya kasar.

Tulang tubuhnya retak halus akibat dingin Lyanna tadi.

Aurelius memandang Damien… seperti memandang anak kecil yang mengotori panggung para dewa.

"Kaulah yang menyentuh putriku… dalam keadaan seperti ini?"

Nada suaranya tenang,

tapi dinginnya membuat jantung Damien seperti dicekik.

Rex langsung mundur tiga langkah.

Hana berpegangan pada dinding sambil gemetar.

"Damien… jangan melawan… itu DEWA!!"

Zura mengangkat wajahnya.

"Jangan sentuh dia, Frostmourn. Jika tidak—"

Aurelius mengangkat satu jari.

Zura langsung ditekan oleh gravitasi es.

"Diam, boneka kuno. Kau tidak memiliki hak bicara."

Pupil Zura berkedut tajam.

"…kau berani."

■■■■■■■■■■■■■■■■■■■

🔥 ADEGAN 1 — Tekanan Dewa

■■■■■■■■■■■■■■■■■■■

Aurelius mengarahkan telapak tangan ke Damien.

"Sang sampah yang mengambil kesempatan…

Aku tahu tipe seperti kau."

Damien hampir tersungkur.

Tekanan itu menghimpit paru-parunya seperti batu sebesar gunung.

Setitik darah menetes dari sudut bibir Damien.

Tulang bahunya retak.

Namun Damien tetap menatap lurus.

"…jadi, hanya karena aku menyelamatkan dia…

kau mau matiin aku?"

Aurelius menjawab tanpa ekspresi:

"Menyalakan api untuk membantunya? Salah."

"Menyentuh tubuhnya? Salah."

"Mencoba mendekat saat darah Sovereign-nya bangun? Kesalahan terburukmu."

Aurelius mengangkat tangannya sedikit lebih tinggi.

Es mulai merayap di kaki Damien.

"Manusia kecil. Menjauhlah dari putriku."

Damien menatap balik tanpa mundur setengah langkah.

"Kalau aku mau menjauh…

aku sudah kabur dari tadi."

Aurelius berhenti sejenak.

"…kau bodoh atau berani?"

Damien tersenyum miring.

"Perpaduan yang buruk buat musuhmu."

■■■■■■■■■■■■■■■■■■■

❄ ADEGAN 2 — Damien Hampir Mati (Dramatis, Aman)

■■■■■■■■■■■■■■■■■■■

Aurelius menekan udara.

KRAKK—!!

Dingin itu melesat dan menusuk dada Damien dari jarak jauh.

Tidak sampai menembus tubuh,

tapi cukup untuk membuat Damien terhuyung mundur dengan nafas tercekat.

Rex mundur sampai jatuh.

"BROOOO DIA NGGAK BAKAL BERTAHAN—!!"

Hana menjerit, "Damien!!!"

Es merambat ke dada Damien.

Seolah mengambil alih jantungnya.

Aurelius berkata datar:

"Tidak perlu mati.

Aku hanya akan membuatmu terbaring beberapa bulan.

Agar kau paham batasmu."

Damien terguncang…

tapi menatap Aurelius dengan mata penuh perlawanan.

"Kalau kau… mau nyakitin aku…"

Damien menegang, aura lunar hitam-perak menyala sedikit.

"…oke. Tapi jangan berani sentuh Lyanna seperti dia boneka."

Hening.

Rex dan Hana menatap Damien dengan mulut terbuka.

Zura hampir tidak percaya:

"Dia… melawan dewa??"

Aurelius perlahan menoleh kembali ke Damien.

"…kau menasehati aku tentang putriku?"

Damien:

"Aku bilang: jangan sentuh dia sembarangan.

Dia teman aku."

Aurelius mengangkat alis tipis.

"Teman? Seorang sampah mortal ingin berteman dengan garis keturunan Sovereign?"

Damien mencengkeram tanah.

"Aku nggak peduli status."

■■■■■■■■■■■■■■■■■■■

🔥 ADEGAN 3 — Zura Menunjukkan Kelasnya

■■■■■■■■■■■■■■■■■■■

Tiba-tiba—

BUAAANGGG—!!

Aura gelap padat keluar dari Zura.

Calamity Overlord Realm 5.

Lebih tinggi satu ranah penuh dari Aurelius.

Aurelius berhenti.

Matanya menyipit.

"Jadi rumor itu benar… kau bukan boneka biasa."

Zura berdiri.

Bekunya hancur di bawah kakinya.

"Sentuh Damien lagi… aku pastikan kau tidak bisa kembali ke dunia asalmu."

Aurelius mengangkat tangan.

"Jangan memaksaku bertindak."

Zura menegang.

"Cobalah."

Damien tiba-tiba berseru:

"Zura, jangan! Jangan bikin dia panik!"

Zura menunduk pelan, masih menatap Aurelius.

"Jika bukan karena kau, Damien, aku sudah membunuhnya."

Aurelius tertawa dingin untuk pertama kalinya.

"Jadi kau benar-benar melindungi manusia itu?"

Zura tidak menjawab.

Dia hanya berdiri di depan Damien.

■■■■■■■■■■■■■■■■■■■

❄ ADEGAN 4 — Lyanna Terbangun

■■■■■■■■■■■■■■■■■■■

Suara pelan terdengar dari tengah badai es:

"…Damien…?"

Lyanna memegangi kepalanya.

Aura Sovereign-nya menurun drastis, stabil kembali ke tubuh.

Mata birunya perlahan kembali jernih.

Aurelius langsung bergerak.

"Lyanna! Jangan bangun dulu—"

Namun Lyanna menyingkirkan tangannya.

Dengan wajah lemah namun tegas.

"Jangan sakiti Damien."

Aurelius membeku.

"…apa?"

Lyanna menatap Damien.

"Dia yang menahan aku… dia yang nyelamatin aku."

Damien tersenyum tipis, walau tubuhnya masih beku.

Aurelius memandang Damien—

bukan lagi dengan dingin,

tapi dengan bahaya.

"…jadi betul dia sudah masuk ke hidupmu."

Damien: "Hah? Masuk ke mana? Jangan bikin ambigu begitu—"

Lyanna: "Damien. Diam."

Damien langsung tutup mulut.

■■■■■■■■■■■■■■■■■■■

🔥 ADEGAN 5 — CliFFHANGER: ORGANISASI ECLIPSE MUNCUL

■■■■■■■■■■■■■■■■■■■

Langit tiba-tiba menghitam.

Bayangan raksasa seperti bulan pecah muncul di udara.

Zura menegang.

"…Eclipse Organization. Mereka menemukan Lyanna."

Aurelius langsung berubah serius.

"Tidak mungkin… mereka tidak boleh tahu dia bangun—"

Damien meludah darah.

"Apa pun itu… mereka datang untuk nyulik Lyanna, kan?"

Zura: "Ya."

Damien tersenyum miring.

"…bagus banget."

Dia berdiri pelan.

"Baru bangun, sudah langsung ada yang harus dihajar."

Sebuah suara dari langit menggema:

"Serahkan Putri Sovereign.

Atau seluruh kota akan hilang dalam tiga menit."

Aurelius memucat.

Zura mengepalkan tangan.

Lyanna setengah pingsan.

Damien menatap langit seperti melihat tantangan baru.

Kalimat terakhir:

"Baiklah," Damien menarik nafas panjang.

"Ayo lihat siapa yang hilang duluan."

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

END CHAPTER 130

━━━━━━━━━━━━━━━━━━

More Chapters