LightReader

Chapter 88 - KAMAR KOSONG, HATI YANG PENUH

Beberapa hari setelah lomba, SMA Seirei Gakuen perlahan kembali ke ritme biasa.

Suara murid-murid di koridor, bunyi kursi diseret, guru yang mengajar dengan semangat seperti biasa—semua seolah menelan begitu saja insiden brutal di arena beberapa hari lalu.

Yang mengejutkan, tak ada satu pun murid yang terang-terangan menghujat Ravien.

Sebagian hanya berbisik:

Murid A : "Memang agak ngeri sih waktu lomba itu…"

Murid B : "Tapi kan dia nggak pernah ganggu siapapun di sekolah. Pasti ada alasannya."

Murid C : "Dan jujur aja… lawannya memang kelihatan nyebelin…"

Rei yang mendengar potongan-potongan kalimat seperti itu di sepanjang koridor hanya menghela napas pelan.

Rei (dalam hati): Untung… sekolah ini bukan tempat yang langsung menghakimi hanya dari satu sudut.

Ia bersandar sebentar di kusen jendela kelas, menatap lapangan yang mulai ramai oleh murid-murid yang bersiap latihan.

Rei (dalam hati): Aku benar-benar milih sekolah yang tepat, ya…

Tapi ada satu hal yang tidak kembali normal.

Bangku di sebelah Hina.

Bangku milik Ravien.

Kosong—selama tiga hari berturut-turut.

Bangku Kosong di Samping Hina

Jam pelajaran berlangsung seperti biasa. Guru menjelaskan materi di depan, murid-murid mencatat, beberapa menguap pelan.

Di barisan dekat jendela, Hina duduk tegap, buku catatan terbuka rapi.

Namun matanya… sesekali melirik kursi di sebelahnya yang tak terisi.

Hari pertama Ravien tidak masuk, banyak yang mengira:

"Mungkin cuma malas seperti biasa."

Hari kedua…

"Apa dia sakit, ya?"

Hari ketiga…

Bahkan teman-teman dari kelas lain mulai ikut gelisah.

Murid 1 : "Nggak biasanya si Demon Tukang Tidur itu nggak kelihatan sama sekali."

Murid 2 : "Jangan-jangan… dia merasa bersalah karena insiden lomba itu?"

Murid 3 : "Atau kena masalah sama sekolah?"

Hina menunduk, menggenggam ujung pulpen.

Hina (dalam hati): Ravien… kamu ke mana…?

Hina mencoba fokus kembali pada pelajaran, menulis ulang penjelasan di papan. Namun dalam beberapa baris, huruf yang ia tulis mulai berantakan.

Ia mengingat saat dirinya kesulitan dalam pelajaran pasti akan selalu ada yang membantunya.

Bel istirahat berbunyi.

Murid-murid bubar, sebagian menuju kantin, sebagian menuju taman.

Rei, Airi, Riku, dan Rika beranjak dari bangku mereka… tapi menyadari satu orang tak bergerak.

Hina masih duduk di tempat, menatap buku catatan yang belum disentuh lagi.

Airi menghela napas kecil, lalu berjalan mendekat dan duduk di depan meja Hina sambil menumpukan dagu di tangan.

Airi : "Hina… kamu nggak ke kantin?"

Hina tersentak pelan.

Hina : "Ah… eh… n-nanti aja…"

Riku ikut bersandar di kursi depan, menatap bangku kosong di sebelah Hina.

Riku : "Kamu khawatir soal Ravien, ya?"

Hina diam… tapi itu sudah cukup sebagai jawaban.

Airi melirik sekilas kursi kosong itu, lalu kembali ke Hina.

Airi : "Kalau Ravien nggak ada kabar selama tiga hari…menurutku, kita nggak bisa cuma duduk diam."

Riku mengangguk.

Riku : "Setuju.Mungkin dia pikir semua orang benci dia gara-gara sekolah kalah lomba."

Rei yang sejak tadi mendengarkan dari samping ikut mendekat, menyilangkan tangan.

Rei : "Padahal… dari yang aku dengar tidak ada satu pun yang menyalahkan dia."

Airi menatap Hina lagi.

Airi : "Habis pulang sekolah… gimana kalau kita ke kamarnya?"

Hina menatap mereka satu per satu, lalu mengangguk pelan.

Hina : "Aku… juga mau tahu keadaannya."

Rei tersenyum tipis.

Rei : "Oke. Setelah jam pelajaran selesai, kita semua ke apartemennya."

Airi : "Deal."

Riku : "Setuju."

Rika : "Aku ikut. Mau sekalian memarahi dia karena bikin Hina nangis, tapi… ya, habis itu kupeluk juga kalau perlu."

Hina langsung memerah.

Hina : "Jangan… jangan peluk Ravien sembarangan…"

Rika : "Oho~"

Airi dan Riku hanya tertawa pelan melihat itu.

—Flashback – Tiga Hari Tanpa Sekolah

Sementara itu, di kamar 101 apartemen lantai 1…

Pagi hari pertama setelah lomba, Ravien membuka mata—

dan langsung memutuskan tidak pergi sekolah.

Ravien (dalam hati, sembari memelototi langit-langit):

Bosan. Ribet. Ramai.

Aku malas melihat wajah panitia lomba ataupun guru-guru hari ini.

Ia bangkit malas-malasan, mandi sekadarnya, makan sedikit, lalu… kembali terkapar di kasur.

Hari kedua…

nyaris sama.

Hari ketiga…

masih tidak ada niat mengambil seragam.

Bagi Ravien, hidupnya berjalan seperti biasa.

Tidak ada rasa bersalah. Tidak ada penyesalan.

Justru kebosanan.

Namun di hari ketiga, menjelang sore, bola kristal di meja kamar berkilau lembut.

Ravien menoleh.

Ravien :

"…"

Ia mengulurkan tangan dan menyentuh permukaan kristal itu.

Cahaya mengembang, menampilkan sosok wanita demon berambut hitam dengan merah gelap dengan aura kuat—Lirya, kakak pertamanya.

Lirya :

"Yo, Ravien. Lama tidak ku lihat wajah sombongmu."

Ravien mendengus.

Ravien :

"Kenapa kau menelepon? Bosan, ya, di hutan terlarang?"

Lirya menyipitkan mata.

Lirya :

"Aku mau cek satu hal.

Bagaimana hidupmu di dunia manusia?

Sudah punya teman?

Atau kamu cuma tidur di kelas seperti biasa?"

Ravien mengalihkan pandangan.

Ravien :

"…"

Namun pada akhirnya ia bercerita—dengan versi singkatnya sendiri.

Tentang sekolah yang penuh berbagai ras.

Tentang Rei dan teman-temannya yang aneh tapi tidak menyebalkan.

Tentang seorang gadis manusia bernama Hina yang selalu membawakannya onigiri dan minuman.

Tentang lomba antar sekolah.

Tentang bagaimana ia menghajar Hayato sampai memuntahkan darah.

Tentang dirinya yang tidak masuk sekolah selama tiga hari tanpa alasan khusus.

Di awal, ekspresi Lirya tampak puas.

Lirya :

"Hou~ jadi akhirnya adikku punya teman juga.

Dan bahkan berani berdiri di depan untuk membela seorang gadis."

Mata Lirya berkilat jahil.

Lirya :

"Apalagi… kau menyebutnya wanitaku, ya?"

Ravien :

"…!"

Wajah Ravien memanas sesaat. Ia mengalihkan pandangan cepat-cepat.

Ravien :

"Itu… cuma spontan. Dia sedang diancam.

Dan aku tidak suka orang yang berani menyentuh orang terdekatku."

Lalu ekspresi Lirya berubah drastis ketika bagian pertarungan diceritakan detail—bagaimana Ravien nyaris membunuh Hayato di arena, dan niatnya untuk memukul lagi jika tidak dihentikan.

Lirya :

"…Kau hampir membunuh murid sekolah lain lagi di acara resmi, Ravien."

Suara Lirya menurun, berat.

Lirya :

"Itu tindakan bodoh...Dan kau tidak masuk sekolah selama tiga hari hanya untuk bermalas-malasan?"

Ravien hendak menjawab santai, namun Lirya menatapnya tajam—tatapan yang sangat familiar dari masa kecil.

Lirya :

"Dengarkan aku baik-baik.

Kalau BESOK kau masih tidak masuk sekolah…

aku akan datang ke sana, menyeretmu keluar dari kamar,

dan mengingatkan tubuhmu pelajaran kakak pertamamu ini."

Ravien langsung merinding.

Sekilas, ia teringat masa kecilnya—

waktu ia berkali-kali dihajar Lirya karena mengganggu Seris, adik mereka, atau mencari masalah dengan ras lain tanpa alasan yang pantas.

Ravien (dalam hati):

…Oh tidak. Aku tidak mau mengulang trauma itu.

Ravien :

"Baik, baik! Besok aku masuk sekolah.

Puaskah kau?"

Lirya tersenyum puas.

Lirya :

"Begitu dong...Pertahankan pertemananmu di sana. Dan—"

Ia mencondongkan tubuh ke arah kristal, wajahnya makin jail.

Lirya :"—perjuangkan wanitamu itu baik-baik."

Wajah Ravien langsung merah padam.

Ravien :

"Berisik!!"

Tanpa menunggu, ia langsung memutus sambungan kristal.

Ruangan kembali hening.

Beberapa detik, Ravien hanya berdiri di tengah kamar, menatap bola kristal gelap itu.

Ravien (dalam hati):

Wanitaku… huh…

Tanpa sengaja, bayangan Hina muncul di benaknya.

Hina yang selalu tersenyum malu-malu saat meletakkan onigiri di mejanya.

Hina yang merapikan rambutnya yang jatuh ke depan telinga.

Hina yang berlari dan memeluknya dari belakang di arena, menangis sambil memohon ia berhenti.

Pipi Ravien terasa hangat.

Ravien (dalam hati, kesal pada diri sendiri):

Kenapa wajahnya terus muncul di kepalaku…?

Apa aku menyukainya…

dan kalau iya—apa aku siap?

Ia menggeleng cepat-cepat, berusaha menepis pikiran itu. Namun satu hal lain menonjok ingatannya.

Ponsel Hina.

Hancur—di bawah sepatu Hayato.

Ravien mengepalkan tangan.

Ravien (dalam hati):

Sialan.

Ponsel itu satu-satunya alat komunikasinya.

Dan itu hasil kerja sampingan, kalau tidak salah.

Ia berjalan ke meja, menarik kursi, lalu mengambil laptop dari ruang penyimpanan di tas dimensi-nya.

Jari-jarinya bergerak cepat di atas keyboard. Dalam beberapa menit, Ravien sudah menerobos database internal sekolah, melihat data siswa kelasnya.

Tak butuh waktu lama untuk menemukan nama itu.

Nama : Hoshizora Hina

Tanggal lahir : [besok]

Ravien membeku sejenak.

Ravien :

"…Besok?"

Matanya melebar.

Ravien (dalam hati): Serius? Besok ulang tahun Hina…?

Panik pelan merayap ke dalam dadanya.

Ravien berdiri, berjalan mondar-mandir di kamar.

Ravien :

"Aku harus… minimal… meminta maaf karena membuat keadaan jadi seperti itu.

Dan… ponsel. Aku harus mengganti ponselnya."

Namun ada satu masalah sangat besar.

Ravien menatap jendela kamar kecilnya.

Ravien (dalam hati):

Masalahnya…

aku sama sekali tidak tahu daerah dunia manusia ini.

Ia tidak tahu toko mana yang bagus.

Tidak tahu arah.

Tidak tahu merek ponsel yang cocok.

Untuk sejenak, Ravien duduk kembali, mengacak rambutnya sendiri.

Ravien (dalam hati):

Ahh sial baru kali ini…

aku ingin melakukan sesuatu untuk orang lain,

tapi bahkan tidak tahu harus mulai dari mana.

Akhirnya ia berdiri kembali.

Ravien :

Sudahlah. Mandi dulu.

Ia pergi ke kamar mandi, membiarkan air membasahi wajah dan rambutnya, berharap itu dapat meredakan kekacauan di kepalanya.

Beberapa menit kemudian, dengan rambut masih agak basah, ia keluar hanya dengan kaos dan celana santai.

Saat itulah—

Tok… tok… tok…

Suara ketukan pelan terdengar dari pintu depan.

Ravien mengerutkan kening.

Ravien :

"…?"

Siapa yang datang di jam seperti ini?

Ia berjalan mendekat, setiap langkah membuat rasa penasarannya meningkat.

Tangan kanannya menyentuh gagang pintu, memutarnya perlahan.

Pintu terbuka.

Dan di sana—

berdiri seseorang yang sama sekali tidak ia duga akan datang.

More Chapters