LightReader

Chapter 89 - BAB – SENYUM PERTAMA SANG DEMON

Sore itu, setelah pelajaran selesai, lorong sekolah mulai sepi.

Rei dan yang lain berjalan keluar gerbang, membiarkan angin sore menyapu rasa lelah mereka.

Rika memegang perutnya pelan.

Rika : "Rasanya… lapar…"

Riku melirik dan tertawa kecil.

Riku :

"Aku sudah duga.

Gimana kalau sebelum ke apartemen, kita mampir minimarket dulu? Biar kalau ngobrol sama Ravien nggak cuma modal air liur."

Rika : "Setuju."

Airi mengangguk santai.

Airi : "Aku juga. Sekalian beli yang manis-manis."

Hina hanya ikut melangkah di samping mereka, memeluk tas di depan dada. Di kepalanya, hanya ada satu pertanyaan:

Hina (dalam hati):

Ravien… kamu beneran baik-baik saja, kan…?

—Perjalanan Singkat dan Detak Jantung yang Aneh

Mereka tiba di minimarket dekat apartemen Rei.

Riku yang paling cepat bergerak langsung mengambil keranjang dan mulai mengisinya dengan roti, onigiri, snack, dan minuman.

Rika : "Riku, jangan asal masukin! Nanti kantongmu jebol."

Riku : "Selama dompetku masih bernapas, tak akan kubiarkan pacarku kelaparan."

Rika sontak mencubit pinggang Riku dengan pipi merah.

Rei hanya menggeleng sambil mengambil beberapa minuman kaleng. Airi cekikikan sambil menambah beberapa snack favoritnya.

Hina mengambil satu kotak jus dan satu roti kecil, lalu berdiri di ujung rak. Pikirannya masih tersangkut di satu titik.

Hina (dalam hati): 

Semoga Ravien… benar-benar baik-baik saja… tapi kenapa aku sesek ini…?

Setelah selesai, mereka menuju kasir. Riku yang membayar semuanya—seperti biasa.

Riku : "Sudah aku yang bayar. Anggep aja ini investasi kebahagiaan bersama."

Rika : "Alasan. Padahal mau pamer."

Riku : "Itu juga."

Mereka tertawa, lalu berjalan menuju apartemen.

Pintu 101, Rambut Basah, dan Aroma Sabun

Gerbang apartemen Rei mereka lewati, tapi kali ini tujuan pertama bukan kamar 202.

Mereka berhenti di depan pintu 101.

Riku menarik napas pelan.

Riku : "Baiklah, kita coba."

Tok tok tok…

Suara ketukan pelan terdengar. Beberapa detik, tidak ada jawaban.

Lalu—

Klek.

Pintu terbuka.

Udara hangat bercampur aroma sabun menyusup keluar—dan Ravien berdiri di sana, rambut peraknya masih basah.

Hina sontak terpana.

Hina (dalam hati):

Rambutnya… habis mandi…

Dan… wangi…

Samar, ia menangkap aroma sabun lembut bercampur sedikit wangi segar yang asing tapi menyenangkan.

Ravien mengerjap sekali, menatap mereka satu per satu.

Ravien :

"Ada apa kalian datang ke sini?

Tersesat massal?"

Airi maju selangkah, memeluk kantong plastik belanjaannya.

Airi :

"Kami ke sini karena mengkhawatirkanmu, tentu saja.

Tiga hari nggak masuk, tanpa kabar."

Ravien mendengus pelan.

Ravien :

"Untuk apa khawatir? Aku baik-baik saja.

Kalau itu saja urusannya, kalian bisa pulang."

Riku melipat tangan di dada, menggeleng.

Riku :

"Bukan cuma kami, Ravien.

Teman-teman sekelas juga khawatir.

Dan… Hina juga. Karena kamu menghilang tiga hari tanpa sepatah kabar."

Hina refleks menunduk, wajahnya memerah. Ia menggenggam kantong belanja lebih kuat.

Ravien melirik Hina sekilas. Ada jeda singkat.

Lalu ia menghela napas dalam-dalam, menyerah.

Ravien :

"…Masuk."

Ia membuka pintu lebih lebar.

Mereka masuk satu per satu: Riku dan Rika duluan, disusul Airi dan Rei. Hina terakhir… dan saat ia melewati Ravien, aroma sabun itu kembali menyentuh hidungnya.

Hina (dalam hati):

Aduh… jangan mikir yang aneh, jangan mikir yang aneh, Hina…!

Pintu tertutup pelan di belakang mereka.

Meski ini bukan kunjungan pertama mereka, Riku dan Rika tetap saja refleks melihat sekeliling.

Kamar Ravien—untuk ukuran seorang demon—sangat rapi.

Lantai bersih, meja teratur, tempat tidur tertata, dan ruangan menguarkan aroma segar.

Riku :

"Serius, setiap ke sini aku masih nggak percaya ini kamarnya demon yang kerjaannya tidur di kelas."

Rika :

"Jujur, kamar aku kalah rapi…"

Hina (dalam hati, malu):

Kamar aku juga… kalah.

Ravien menunjuk area lesehan dekat meja rendah.

Ravien :

"Duduklah. Jangan mengotori apa pun."

Mereka semua duduk. Riku bersebelahan dengan Rika, Airi dengan Rei.

Hina hendak duduk agak menjauh… tapi Ravien ikut duduk di sampingnya dengan santai.

Detak jantung Hina langsung lompat satu beat.

Maaf yang Tidak Mereka Butuhkan

Sesaat suasana hening. Hanya suara plastik belanja yang disusun.

Ravien akhirnya membuka suara.

Ravien :

"Aku minta maaf soal lomba.

Karena tindakanku… sekolah kalian kalah.

Kalian seharusnya bisa dapat liburan ke pantai."

Suara Ravien terdengar datar, tapi ada sedikit tekanan yang tidak biasa.

Seperti seseorang yang tidak terbiasa minta maaf, tapi memaksa dirinya mengatakannya.

Airi mengibaskan tangan.

Airi :

"Nggak usah minta maaf begitu, Ravien.

Teman-teman di sekolah juga tidak mempermasalahkan itu, kok.

Mereka malah bilang, 'pasti ada alasan kenapa dia sampai segitunya'."

Rei mengangguk pelan.

Rei :

"Dan mereka benar."

Riku ikut menambahkan, tersenyum santai.

Riku :

"Soal liburan, tenang saja.

Seperti yang sudah kulempar di kelas:

mau kita menang atau kalah, selama pacarku senang,

aku tetap akan ajak kalian semua liburan."

Rika yang sedang membuka plastik snack langsung menoleh dan memelototi Riku.

Rika :

"Berhenti bilang begitu di depan orang lain…"

Riku :

"Tapi kan itu benar."

Pipi Rika memerah, dan ia menjewer pipi Riku.

Riku :

"Auw—auw—"

Yang lain tertawa. Suasana yang tadinya tegang jadi hangat.

Rika kemudian mengeluarkan semua makanan dan snack dari kantong.

Rika :

"Ini, makan. Kalau ada masalah, bicarakan sambil ngunyah. Lebih gampang."

Mereka pun mulai makan bersama—roti, onigiri, snack, dan minuman. Obrolan mengalir ke kejadian lomba, komentar murid lain, dan bagaimana Ravien tiba-tiba menghilang.

—Permintaan Aneh dari Demon Sombong

Di sela-sela kunyahan, Ravien meletakkan gelas minumannya dan menatap Riku.

Ravien :

"Aku mau tanya satu hal."

Riku menghentikan kunyahan, menatap balik.

Riku :

"Apa itu?"

Ravien :

"Di dunia manusia ini…di mana aku bisa membeli… sebuah ponsel?"

Semua langsung diam sejenak, menatap Ravien bersamaan.

Airi :

"Eh?"

Ravien melanjutkan dengan nada datar, tapi matanya sedikit menghindar.

Ravien :

"Semenjak aku tinggal di sini… aku tidak punya ponsel.

Dan… sekarang aku butuh satu."

Riku bersandar, mengangguk mengerti.

Riku :

"Ada mal tidak jauh dari sekolah.

Di sana ada toko elektronik ternama. Kamu bisa beli di sana."

Ia lalu tersenyum miring, melirik ke arah Hina.

Riku :

"Untuk soal 'siapa yang menemani'…

aku sibuk mengantar pacarku, jadi…

kau bisa ajak Hina."

Hina langsung tersentak.

Hina :

"Eh?!"

Airi menutup mulut menahan tawa.

Airi : "Usul yang bagus."

Rika ikut mengangguk jahil.

Rika : "Setuju. Kalau Ravien pergi sendirian, dia bisa nyasar seharian.

Kalau sama Hina, minimal ada yang pakai otak selain brute force."

Ravien menoleh pada Hina, menatapnya lurus. Tatapannya seperti biasa—tenang tapi tajam.

Ravien : "Hina."

Hina langsung menegakkan punggung.

Hina : "Y-ya?!"

Ravien : "Apa kau bersedia… besok menemaniku pergi ke mal?

Menunjukkan tempat membeli ponsel."

Ruangan seolah mengecil di sekitar Hina.

Jantungnya berdetak kencang.

Hina (dalam hati): Tenang… tenang… ini cuma nemenin beli ponsel… cuma… nemenin… beli…

Wajahnya memerah, mata sedikit menghindar.

Hina : "Bi… bisa…"

Jawabannya pelan, hampir tidak terdengar, tapi cukup jelas bagi semua orang.

Airi tersenyum lebar.

Riku menahan tawa.

Rika menggigit snack sambil memandang mereka dengan mata berbinar.

Rei hanya tersenyum sambil menyesap minuman.

Rei (dalam hati): Syukurlah… Hina akhirnya mulai melihat dirinya pantas untuk bahagia juga.

Malam, Janji, dan Senyum Pertama

Mereka melanjutkan makan dan mengobrol sampai malam datang.

Lampu kamar menyala hangat, suara tawa bergantian mengisi ruangan.

Mereka cerita soal reaksi murid-murid, soal lomba, soal betapa anehnya hari itu…

dan sesekali menggoda Hina yang kini terlihat lebih sering salah tingkah bila Ravien dipuji.

Saat jam mulai beranjak malam, Rei melihat jam.

Rei : "Kayaknya sudah cukup untuk hari ini.

Besok masih sekolah."

Airi mengangguk.

Airi : "Benar juga.

Kalau pulang terlalu malam, nanti aku yang dimarahin Ibuku."

Riku berdiri, merapikan bungkus snack.

Riku : "Baiklah. Terima kasih sudah menerima kami lagi, Demon Tukang Tidur."

Ravien berdiri, menyandarkan bahu ke dinding dekat pintu.

Ravien : "Yang lebih tepat, kalian yang mengacak-acak kamarku dua kali."

Rika tertawa.

Rika : "Nanti dibersihin lagi, kan? Kamu orangnya rapi."

Mereka menuju pintu satu per satu.

Airi mendahului, lalu Rika dan Riku, lalu Rei.

Hina berdiri terakhir, berbalik menghadap Ravien sebentar.

Hina : "Emm… Ravien… terima kasih… sudah bilang kamu akan masuk sekolah besok.

S… selamat malam."

Ravien menatap Hina sejenak.

Ada sesuatu yang lembut melintas di matanya—tidak sedingin biasanya.

Lalu, untuk pertama kalinya sejak mereka mengenalnya…

Sudut bibir Ravien terangkat pelan.

Ravien :

"…Sama-sama.

Selamat malam."

Pintu menutup perlahan setelah mereka semua keluar.

Di koridor, mereka berhenti sejenak, saling menatap dengan wajah shock.

Airi :

"…Kalian lihat tadi?"

Riku :

"Dia… baru saja…"

Rika menatap Hina, mata berbinar.

Rika :

"…tersenyum.

Ravien barusan tersenyum ke kamu, Hina."

Hina memegang dadanya pelan, pipinya memanas.

Hina (dalam hati): Senyum itu… untukku…?

Dan entah kenapa, malam terasa sedikit lebih hangat dari biasanya.

More Chapters