LightReader

Chapter 3 - VOL.0 - CHAPTER 3: Six Lives on the Edge (Part 0 - Prologue)

Koridor Kematian

Pagi itu, udara di Akademi Himikaya terasa lebih berat dari biasanya. Bukan karena cuaca; melainkan karena benturan mana dari ribuan siswa yang berkumpul di aula besar. Hari ini bukan sekadar ujian biasa. Hari ini adalah babak kualifikasi yang akan menentukan siapa yang layak memasuki Pertempuran Royale Nasional .

Rio berjalan dengan langkah berat menyusuri koridor, tangan dimasukkan dalam-dalam ke saku celananya, tas sekolahnya disampirkan sembarangan di salah satu bahunya. Matanya merah—akibat begadang semalaman membaca manga.

"Rio! Berhenti di situ, dasar pemalas!"

Sebuah suara yang familiar membuat Rio berhenti di tempatnya. Di depan loker berdiri Ellen , seragamnya disetrika sempurna. Kilatan aura api samar terpancar dari kulitnya—pertanda bahwa dia 100% siap bertempur.

Rio menguap panjang. "Selamat pagi, Ellen... Kamu energik sekali. Jam berapa sekarang?"

"Energik?!" Ellen melangkah lebih dekat, menatap Rio dengan tajam. "Kudengar kau satu tim dengan Moon dan Gery. Jangan sampai kau mempermalukan mereka di babak kualifikasi. Jika kau tersingkir sebelum bertemu denganku di arena final, aku tidak akan pernah memaafkanmu."

"Ya, ya..." gumam Rio dengan suara mengantuk. "Lagipula, siapa yang mau gagal? Mengulang kelas terdengar terlalu merepotkan."

Pertemuan Tim C

Ketika sampai di bangku tim, Rio disambut oleh Gery , yang wajahnya pucat pasi. Gery dengan panik memoles sarung tangan tempurnya berulang kali—tanda jelas dari kegugupan yang luar biasa.

"Rio! Akhirnya kau datang juga!" Gery hampir berteriak. "Aku sudah mengecek daftar peserta. Ada tim-tim dari kelas atas yang meremehkan kita hanya karena 'peringkat terbawah' ada di tim ini. Kau pasti serius, oke?!"

"Tenang, Gery," sebuah suara bariton yang tenang menyela. Moon duduk di sudut bangku, membaca buku mantra kecil. Dia melirik Rio dengan tatapan datar yang sulit ditebak. "Rio punya caranya sendiri dalam melakukan sesuatu. Jangan biarkan sistem Hexa-Life menghancurkan semangatmu sebelum kita mulai."

"Moon-sama benar," Gery segera menegakkan postur tubuhnya. "Sistem itu... sungguh kejam."

Rio duduk di antara mereka, memejamkan matanya sejenak. "Hexa-Life, ya? Enam kristal kehidupan... jadi jika aku melakukan kesalahan sekecil apa pun, nyawa tim kita akan terancam?"

Moon mengangguk. "Tepat sekali. Dan sistemnya baru saja aktif."

Suasana Arena

Tiba-tiba, suara terompet magis menggema dari tengah lapangan, membuat seluruh stadion bergetar. Ribuan mahasiswa di tribun mulai bersorak, meneriakkan nama idola mereka. Di atas, di balkon VVIP yang terlindungi oleh kaca anti-sihir, Rio bisa merasakan sepasang mata mengawasinya dengan penuh perhatian.

Lylya... pikir Rio, sambil melirik sedikit ke atas.

Layar besar di tengah arena menyala, menampilkan angka "6" besar di samping nama Tim C.

"Ayo," Moon berdiri sambil menutup bukunya. "Saatnya menunjukkan kepada mereka apakah kita benar-benar tim 'sampah' atau sesuatu yang lain sama sekali."

Rio berdiri, meregangkan punggungnya yang pegal. "Hoooammm... baiklah, ayo selesaikan ini agar aku bisa tidur siang."

[Dan Babak 1 dimulai...]

More Chapters