LightReader

Chapter 4 - Persahabatan Bersyarat

Kaivan mengangkat kepalanya, menatap mata Tania yang tulus. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa seolah ada seseorang yang benar-benar peduli padanya. "A-aku… cuma lagi banyak pikiran, Tania. Tapi aku tidak apa-apa."

"Kalau ada sesuatu yang mengganggumu, jangan ragu buat cerita, ya? Aku ada di sini untukmu," ujar Tania sambil tersenyum hangat. Ia menepuk bahu Kaivan dengan lembut sebelum kembali ke tempat duduknya.

Hari demi hari berlalu, dan kehadiran Tania semakin mengisi hidup Kaivan. Mereka saling berbagi cerita di kantin, pulang bersama, bahkan belajar berdampingan di perpustakaan. Perhatian Tania menyelimutinya seperti pelukan yang menenangkan, dan Kaivan mulai percaya bahwa ia tidak lagi sendirian. Setiap senyum Tania membuat jantungnya berdegup kencang, menumbuhkan harapan, bahwa mungkin, kali ini, cinta tidak akan kembali menghancurkannya.

Namun kenyataan, seperti biasa, dengan kejam mematahkan mimpi rapuh itu.

Suatu sore, di bawah pohon besar di halaman sekolah, Kaivan akhirnya mengumpulkan keberanian. "Tania, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan," katanya, suaranya sedikit bergetar.

Tania menoleh padanya, ekspresinya lembut. "Apa itu, Kaivan?"

Kaivan menarik napas dalam-dalam, mengerahkan seluruh keberaniannya. "Aku… aku menyukaimu, Tania. Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya dengan cara lain, tapi rasanya kamulah orang yang selama ini kucari. Aku ingin kita lebih dari sekadar teman."

Tania terdiam sejenak, lalu tersenyum pelan. "Kaivan, aku benar-benar menghargai perasaanmu. Tapi untuk sekarang, aku rasa lebih baik kita tetap berteman. Kamu adalah teman yang sangat penting bagiku, dan aku tidak ingin kehilangan itu. Tapi… mungkin setelah kita lulus nanti, kamu bisa mengenalkanku pada orang tuamu," tambahnya dengan nada yang ambigu.

Kata-kata terakhir itu menyalakan secercah harapan rapuh di hati Kaivan. Namun seiring waktu berlalu, kehangatan itu terasa hampa. Sikap Tania yang dulu terasa tulus mulai tampak dibuat-buat, seolah hanya sebuah peran. Semakin sering, Kaivan melihatnya bersama Rina dan Dandi, tertawa lepas tanpa dirinya.

Suatu malam, kecurigaan yang menggerogoti hatinya tak lagi bisa ia abaikan. Ia mengikuti mereka, dan di kafe kecil yang sering mereka datangi, Kaivan melihat pemandangan itu, Tania, Rina, dan Dandi duduk bersama, tawa mereka mengalir bebas. Ia mendekat perlahan, menguping dari balik jendela.

"Kaivan itu gampang banget dimanfaatkan," kata Tania sambil tertawa. "Dia pasti mau membelikanku apa saja, mungkin karena dia belum pernah dekat dengan cewek cantik sebelumnya."

Rina ikut tertawa. "Dia benar-benar mengira kamu menyukainya. Dulu aku bahkan sempat merasa dia bakal mengaku ke aku, untung saja Dandi muncul. Kalau tidak, mungkin dia benar-benar melakukannya."

Dunia Kaivan runtuh. Setiap kata berubah menjadi pisau, mengoyak dadanya, menghancurkan sisa kepercayaan yang masih ia miliki. Dengan langkah berat, ia berbalik dan pergi tanpa disadari. Air matanya jatuh tanpa tertahan saat ia tersandung menyusuri jalan, merasa seolah segalanya, kepercayaan, harapan, bahkan dirinya sendiri, telah direnggut darinya.

Namun di sudut jalan yang remang, seseorang memperhatikannya. Seorang gadis berambut hitam panjang dengan mata merah menyala. Ia berdiri diam, tatapannya tajam dan tak tergoyahkan. Tapi Kaivan, tenggelam dalam kesedihannya, sama sekali tidak menyadari keberadaannya.

Di bawah ribuan cahaya kota yang berkilauan, Kaivan terus berjalan. Jaket hitamnya menggantung longgar di tubuhnya yang kurus. Wajahnya dingin, seolah tanpa emosi, namun di dalam dirinya badai tak pernah berhenti mengamuk. Setiap langkah terasa berat, seakan beban masa lalunya mencengkeram pergelangan kakinya, menolak untuk melepaskannya.

Beberapa hari kemudian, Tania berdiri di seberang jalan, menyapanya dengan senyum manis yang dulu membuat jantung Kaivan berdebar. Kini, senyum yang sama hanya meninggalkan rasa pahit.

"Kaivan! Di sini!" panggilnya sambil melambaikan tangan penuh semangat. Lampu neon kafe di belakangnya memantulkan cahaya pada rambutnya yang tergerai, membuatnya tampak bersinar.

Kaivan berhenti sejenak, memaksakan senyum yang tak pernah mencapai matanya. "Hai, Tania," jawabnya datar, menyembunyikan badai di dalam dirinya. Ia melangkah mendekat, memperhatikan betapa kontrasnya keceriaan Tania dengan bayangan gelap yang menyelubunginya.

Mereka duduk di meja sudut. Aroma kopi memenuhi udara, bercampur dengan tawa pelan pengunjung lain. Tania memesan latte favoritnya, sementara Kaivan hanya memilih air mineral. Tangannya sedikit gemetar saat memegang gelas, cepat-cepat ia sembunyikan di bawah meja. Meski duduk berhadapan, terasa seolah ada dinding tak kasatmata di antara mereka.

Tania condong ke depan, menopang dagunya dengan kedua tangan yang saling bertaut. "Ada apa denganmu akhir-akhir ini, Kaivan? Kamu kelihatan murung terus. Dulu kamu ceria. Aku suka Kaivan yang itu, yang selalu bikin aku tertawa."

Kaivan menatap matanya, berharap menemukan ketulusan di sana. Namun yang ia lihat hanyalah pantulan wajahnya sendiri yang penuh keraguan. "Aku cuma… lagi banyak memikirkan sesuatu. Itu saja," gumamnya.

Tania tersenyum lembut. "Apa pun itu, aku ada untukmu. Kamu tahu itu, kan? Aku akan selalu ada."

Namun di balik kata-kata itu, Kaivan merasakan sesuatu yang lain, sesuatu yang tajam dan mencekik. Ia menundukkan pandangan, menyembunyikan retakan di wajahnya. Setiap kata Tania terasa seperti duri yang semakin menusuk ke dalam hatinya.

Beberapa hari setelah pertemuan itu, Tania mengajak Kaivan ke sebuah restoran mewah di pusat kota. Dindingnya dipenuhi cermin tinggi dan lampu gantung kristal yang memantulkan cahaya hangat ke seluruh ruangan. Seorang pelayan berpakaian rapi mengantar mereka ke meja sudut, menciptakan suasana yang terasa romantis, meski hati Kaivan sama sekali tidak merasakannya.

Tania terkikik kecil sambil membaca menu. "Kaivan, lihat ini. Mereka punya steak wagyu yang katanya lumer di mulut! Kita pesan itu, ya?"

Kaivan hanya mengangguk, merasa seperti boneka yang digerakkan oleh benang. Saat makanan datang, Tania menyantapnya dengan penuh semangat, matanya berbinar sambil memuji betapa lezatnya steak itu. Namun bagi Kaivan, setiap suapan terasa hambar. Akhirnya, ia memberanikan diri bertanya.

"Tania… apa kamu benar-benar menikmati waktu bersamaku?" Suaranya pelan, hampir tenggelam oleh denting peralatan makan di sekeliling mereka.

Tania mendongak, sedikit terkejut, lalu tertawa kecil. "Tentu saja, Kaivan! Aku suka makan enak, apalagi kalau bersama kamu. Lagipula, kamu adalah orang yang paling spesial bagiku."

Jawaban itu terdengar manis, namun meninggalkan rasa pahit di dadanya. Senyum Tania tampak tulus, tetapi di baliknya ada sesuatu yang tak bisa Kaivan percayai. Kata-katanya terasa seperti topeng, tak pernah memperlihatkan apa yang sebenarnya tersembunyi di baliknya.

Malam itu, mereka berjalan pulang bersama. Angin malam bermain di antara rambut panjang Tania, membuatnya tampak sempurna di bawah cahaya lampu jalan. Namun di mata Kaivan, keindahan itu tertutup bayangan. Setiap langkah terasa seperti membawanya semakin jauh, menjauh darinya, dan dari dirinya sendiri.

More Chapters