LightReader

Chapter 9 - Saat Tome Memanggilnya

"Apa sebenarnya rahasia yang kau sembunyikan?" gumamnya pelan sebelum kembali menyelipkan buku itu ke dalam tas. Dengan langkah berat, Kaivan menjauh dari rumah itu, tanpa menyadari bahwa hidupnya telah berubah selamanya.

Semakin jauh ia melangkah, semakin kuat pula perasaan ganjil itu. Tas yang membawa buku tersebut seakan memancarkan kehadiran tak kasatmata, sebuah energi yang memanggilnya dari dalam kegelapan. Kaivan berhenti, menatap tas itu dengan kening berkerut. Jantungnya berdegup semakin kencang, seolah menanggapi sesuatu yang belum sanggup ia pahami.

Angin malam bertiup lebih keras. Jalan yang tadi terasa biasa kini tampak asing. Kaivan mencoba mengalihkan pikiran, merogoh saku dan mengeluarkan uang pemberian nenek itu. "Hah, lebih. Mungkin aku beli sesuatu buat dimakan," gumamnya.

Saat akhirnya tiba di rumah, Kaivan membuka pintu perlahan, berusaha tak menimbulkan suara. Di tangannya ada sebungkus tahu sumedang. Aroma sederhana dari makan malam masih tersisa, menyelimuti rumah dengan kehangatan yang justru bertabrakan dengan kehampaan di dadanya. Ibunya, seorang perempuan dengan senyum lembut yang tak pernah pudar, duduk di sofa, menatap layar televisi.

"Kok pulang malam? Dari mana saja? Sudah, makan dulu," ucap ibunya pelan, suaranya menenangkan seperti alunan musik. Tatapannya penuh kasih, tanpa tuntutan apa pun.

Kaivan berhenti di ambang pintu, melepas sepatu dengan kepala tertunduk. "Cuma jalan-jalan, Bu. Tidak ke mana-mana… aku sudah makan, beli tahu sumedang," jawabnya singkat, memaksakan senyum tipis.

Ibunya hanya mengangguk, tak bertanya lebih jauh. Tanpa berkata apa pun, Kaivan melangkah menuju tangga. Tas di bahunya terasa seperti beban tak terlihat yang menariknya turun. Di puncak tangga, ia berhenti sejenak, menarik napas panjang, lalu masuk ke kamarnya.

"Tome Omnicent…" bisiknya, menatap sampul buku itu. Jemarinya menyentuh permukaannya yang kasar, hawa dingin tak wajar merambat ke seluruh tubuhnya. Dengan hati-hati, ia membuka halaman pertama. Simbol-simbol aneh bergerak di atas kertas, mengalir seperti air, hidup, memanggil, membisikkan namanya dari kedalaman gelap. Bulu kuduknya meremang, detak jantungnya semakin liar.

Dunia di sekelilingnya mengabur. Ketika penglihatannya kembali jelas, Kaivan berdiri di sebuah tanah tandus yang asing, dunia yang tenggelam dalam kehancuran. Langit tak lagi biru, melainkan hitam pekat, seperti tinta tumpah yang menelan cahaya bintang. Awan berwarna darah kering bergulung-gulung, mengirimkan getaran yang mengguncang tulangnya. Udara menekan dadanya, sarat teror, Kaivan hampir lupa cara bernapas.

Tanah di bawah kakinya retak seperti kaca pecah. Dari celah-celahnya, cahaya merah menyembur, disertai gemuruh dahsyat, seolah bumi merintih kesakitan. Kaivan terpaku di tengah kekacauan, tubuhnya terasa ringan sekaligus teramat berat, seakan hukum gravitasi ditulis ulang. Ada sesuatu yang maha besar di sana, kehadiran yang membuatnya merasa lebih kecil dari debu.

Lalu ledakan itu datang. Dentuman memekakkan telinga merobek udara. Dari cakrawala, siluet raksasa bermunculan, makhluk-makhluk kolosal menjulang, dan sosok bersayap melayang di langit medan perang tanpa akhir. Tubuh mereka besar, bersayap megah, namun kepala mereka kecil, proporsinya mengerikan. Mata merah menyala menatap Kaivan, seperti bara yang menghakimi keberadaannya.

Suara tembakan memecah udara. Jeritan manusia bercampur ledakan tanpa henti. Kaivan melihat seorang pria dan wanita berlari sambil bergandengan menuju portal putih bercahaya, meninggalkan jejak sinar yang menyilaukan. Ia menoleh lagi, sekelompok manusia, kecil dan rapuh dibanding para titan, bertarung dengan sisa tenaga. Tank mengaum, menembakkan peluru demi peluru. Jet tempur melesat rendah, meluncurkan rudal. Semuanya seperti mimpi buruk yang menolak berakhir.

Dengan ngeri, Kaivan menyadari ia berdiri tepat di pusat medan perang. Lututnya gemetar, namun tubuhnya menolak bergerak. Ia hanya bisa menyaksikan manusia, rapuh namun keras kepala, terus melawan meski kemenangan tak terlihat. Auman makhluk-makhluk itu semakin dekat, setiap getaran terasa seperti akhir dunia.

Ia ingin berteriak, namun suaranya lenyap ditelan hiruk-pikuk.

Saat Tome Menyebut Namanya

Tiba-tiba, sembilan sosok melesat melewatinya. Manusia, mengenakan zirah khusus, senjata berkilau, gerakan mereka tajam dan terlatih. Formasi mereka mencerminkan pertempuran tak terhitung. Salah satu memberi isyarat, mengumpulkan yang lain untuk menyerang.

Dari atas, monster bersayap membentangkan sayapnya. Sebuah bola energi merah membara terbentuk di tangannya, cahayanya begitu menyilaukan hingga Kaivan menutup mata. Namun meski kelopak matanya terpejam, panasnya tetap terasa, cahaya mematikan yang mengancam menelan segalanya.

Lalu, gelap. Sunyi mutlak menelan peperangan.

Saat Kaivan membuka mata, ia berdiri sendirian di tanah kehancuran yang sama. Namun ada yang berubah. Sebuah suara bergema di dalam kepalanya, asing, namun terasa ganjilnya akrab. Getarannya memenuhi benaknya.

"Apakah kau Omniruler?" desisnya, mengejek.

"Tak peduli berapa kali diulang… kau selalu gagal." Suara itu dingin dan meremehkan, setiap kata menembus hingga ke inti jiwanya.

Kaivan terbangun dengan napas tersengal, seolah baru berlari bermil-mil jauhnya. Keringat dingin membasahi tubuhnya, dadanya terasa sesak. Namun lebih dari itu, mimpi tersebut meninggalkan sesuatu yang jauh lebih dalam, keyakinan bahwa apa yang ia lihat bukan sekadar ilusi.

Meski rasa takut mencengkeram, buku itu kembali memanggilnya. Dengan langkah ragu, ia mendekati meja dan membuka tome itu untuk kedua kalinya. Halaman di depannya telah berubah. Simbol-simbol kriptik menjelma menjadi kata-kata, kalimat jelas yang membuat tubuhnya membeku.

"Wahai pembawaku, Kaivan Badrika Alijaya."

Kaivan menelan ludah. Takut dan takzim bercampur di dadanya. Apa sebenarnya yang diinginkan buku ini darinya? Mengapa dia, dari sekian banyak orang, harus memikul takdir sebesar ini?

"A-apa… apa maksudnya ini?" bisiknya gemetar. Ia berdiri di tepi jurang tak berujung. Dan jauh di lubuk hatinya, ia sudah tahu, hidupnya takkan pernah kembali sama.

Tubuhnya terasa berat, bukan karena lelah, melainkan karena kehadiran Tome Omnicent di tangannya. Meski bersampul kayu tua, buku itu terasa hidup, seakan menatap balik. Keheningan menekan, seolah dunia berhenti berputar, meninggalkannya sendirian bersama entitas misterius ini.

Dengan bibir bergetar, Kaivan akhirnya bertanya,

"Apa artinya ini? Apa kau… sedang berbicara padaku?"

More Chapters