LightReader

Chapter 22 - Di mana Dia Diizinkan untuk Tinggal

Thivi menatap punggung Kaivan, rasa ingin tahu melunakkan ekspresinya. "Tapi bukannya hidup di kota lebih nyaman? Semua yang kamu butuhkan ada di sana," ujarnya lembut, dipenuhi pertanyaan jujur.

Kaivan mengangguk samar, meski ia tahu Thivi tak bisa melihatnya. Pandangannya sempat terangkat ke langit bertabur bintang. "Mungkin," gumamnya pelan. "Tapi di sini, udaranya terasa berbeda, lebih bersih, lebih bebas."

Thivi terdiam, membiarkan kata-katanya meresap. Ada sesuatu dalam suara Kaivan yang membuatnya paham bahwa, untuk saat ini, itulah batas yang bersedia ia buka.

Perjalanan mereka berakhir di rumah Thivi, sebuah rumah sederhana yang bermandikan cahaya hangat dari balik jendela. Di bawah langit penuh bintang, sebuah ikatan baru mulai terjalin di antara mereka, rapuh, namun nyata, teranyam dari rasa ingin tahu, kepercayaan, dan momen-momen singkat yang akan tinggal lama dalam ingatan.

Namun ketenangan itu tak bertahan lama. Saat pintu terbuka, seorang pria muncul, lebih tua dari Thivi, wajahnya dipahat oleh kekhawatiran dan amarah yang tertahan. Kakak laki-lakinya berdiri di ambang pintu, tatapannya tajam, penuh cemas yang nyaris meledak.

"Aku sudah bilang jangan berkendara sendirian! Seharusnya kamu menungguku menjemput!" hardiknya, suaranya membelah sunyi malam. Udara terasa berat oleh kata-katanya.

Thivi menunduk. Rasa bersalah jelas tergambar di wajahnya. Jemarinya mencengkeram ujung bajunya, mencari pegangan di tengah kegelisahan. Sebelum ia sempat bicara, Kaivan melangkah maju, tenang dan mantap.

"Mungkin ini salah saya," ujarnya rendah namun teguh. "Saya melihatnya dari jauh, seharusnya saya menghentikannya lebih cepat." Tatapannya bertemu langsung dengan sang kakak, tanpa gentar.

Kakak Thivi menatap Kaivan sejenak, bimbang antara kesal dan bingung. "Yang penting dia selamat," gumamnya akhirnya, meski nada tak sepenuhnya lunak.

Senyum tipis terukir di wajah Kaivan. Ia tahu malam ini bukan sekadar pertemuan kebetulan. Ada sesuatu yang bergerak di balik keheningan. Ia melirik Thivi sekilas, mata gadis itu dipenuhi kelegaan dan rasa bersalah yang belum sepenuhnya hilang.

Ketegangan mereda ketika sosok lain muncul, ayah Thivi, pria berusia lanjut dengan rambut mulai diselimuti uban. Tatapannya tajam, menilai.

"Jadi, apa sebenarnya keperluanmu di desa ini?" tanyanya, suaranya rendah dan berwibawa.

Kaivan memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Saya ke sini untuk proyek sekolah. Kami meneliti limbah elektronik dan mencari ponsel rusak," jawabnya tenang.

Pengalaman panjang sang ayah membuatnya segera menangkap sisi gelap dari topik itu. "Memberikan limbah elektronik ke warga sipil itu ilegal," katanya tegas.

"Kami tidak meminta sumbangan, Pak," Kaivan menjawab hati-hati. "Kami ingin membelinya secara legal. Hanya ponsel lama, tidak lebih." Ia menyembunyikan satu kebenaran, rencana mengekstraksi emas dari komponen rusak itu.

Perdebatan moral yang tersirat perlahan mereda seiring malam kian larut. Setelah diskusi singkat, ayah Thivi akhirnya mengizinkan Kaivan membeli ponsel-ponsel bekas itu, dengan syarat ia sendiri yang menjemputnya.

Sebagai ucapan terima kasih karena telah menolong Thivi, Kaivan dipersilakan menginap malam itu.

Malam di Desa Kalapa terasa hening. Di bawah langit penuh bintang, Kaivan duduk sendirian di teras rumah Thivi. Sunyi menyelimutinya, namun pikirannya bergejolak.

Langkah kaki lembut terdengar. Thivi muncul dari balik bayangan, diterangi cahaya bulan. "Kenapa masih di luar? Sudah larut," tanyanya pelan.

"Aku belum mengantuk," jawab Kaivan, masih menatap langit. "Malam di sini terlalu indah untuk dilewatkan. Kamu sendiri?"

Thivi duduk di sampingnya. "Sebenarnya… aku merokok," katanya ragu, mengeluarkan sebungkus rokok. "Aku tak ingin keluargaku tahu."

Kaivan menatapnya tanpa menghakimi. "Aku tidak merokok," katanya ringan.

Thivi tersenyum lega dan menyodorkan sebatang rokok. "Temani aku malam ini."

Kaivan menerimanya. Korek menyala, asap tipis melayang di udara malam.

"Malam terasa berbeda di sini, ya?" ucap Thivi pelan.

Mereka kembali terdiam. Lalu Kaivan berkata, "Ngomong-ngomong, boleh aku minta nomor ponselmu?"

"Tentu," jawab Thivi lembut.

"Lain kali, ajak aku ke Bandung," katanya tiba-tiba.

"Tentu," jawab Kaivan singkat namun pasti.

Pagi datang perlahan. Kaivan pamit pada keluarga Thivi, lalu kembali ke dunia yang menantinya.

More Chapters