Felicia melangkah setengah langkah ke depan dan memberi anggukan sopan. Senyumnya lembut, namun matanya berkilau seperti bilah tersembunyi. Setiap gerakannya terukur, posisinya diam-diam siap.
"Dan ini Ethan serta Radit," lanjut Kaivan.
Ethan mengangguk singkat, matanya menyapu sekeliling. Radit tampak santai, meski jemarinya bergerak gelisah, bahasa tubuhnya berbisik tentang kesiagaan.
"Psst, jadi Kaivan dan Felicia sudah tunangan?" bisik Ethan pelan.
Radit menutup sebagian mulutnya. "Baru dengar juga, bro…"
Mereka tidak menyadari bahwa semua itu hanya sandiwara. Sebuah taktik.
Tatapan Raphael berhenti pada masing-masing dari mereka, tajam dan penuh perhitungan. Ia sempat menahan pandangan pada Ethan, lalu pada Radit, seolah menimbang sesuatu yang tak bisa ditebak.
"Teman, ya?" gumamnya. Kedua lengannya bersedekap, kepalanya sedikit menunduk. "Jalan ini bukan untuk semua orang. Hanya untuk mereka yang benar-benar mengerti."
Kaivan tidak bergeming. Matanya terkunci pada Raphael, suaranya tenang namun kokoh. "Kami siap. Kami mencari kebenaran hidup."
Angin pagi menyapu rambutnya. Ketegangan mengental di udara. Felicia bergeser mendekat, menyesuaikan pijakannya. Satu gerakan keliru saja, dan ia akan bertindak.
Akhirnya Raphael berdiri, membenarkan jubah lusuhnya. "Baiklah," ucapnya pelan, dengan nada samar yang sulit ditebak. "Ikuti aku. Kalian akan bertemu yang lain."
Mereka menyusuri jalan sempit yang semakin sunyi di setiap langkah. Cahaya meredup di bawah rindangnya pepohonan, dan taman yang tadi hangat berubah menjadi labirin bayangan. Felicia berjalan tepat di belakang Kaivan, matanya memeriksa setiap sudut. Ethan dan Radit mengikuti dekat, langkah mereka ringan namun tegang.
Raphael memimpin tanpa ragu. Posturnya tegak, langkahnya mantap, seakan ia menuntun mereka bukan hanya ke sebuah tempat, tetapi ke batas tipis antara keyakinan dan kehancuran.
Bangunan tua itu menjulang di depan mereka, dindingnya dipenuhi lumut, jendelanya retak tertutup usia. Pintu berderit saat disentuh Raphael, suaranya memotong sunyi seperti peringatan halus bahwa sebuah garis baru saja dilewati.
"Tempat yang sama seperti kemarin," bisik Radit pada Ethan.
Ethan hanya mengangguk, wajahnya tegang. Mereka melangkah masuk. Udara lembap menempel di kulit, bau kayu lapuk dan debu memenuhi paru-paru. Sebuah lampu minyak tergantung di langit-langit, nyalanya bergetar, melukis ruangan dengan warna emas yang patah-patah. Sunyinya berat, seolah hidup.
Sekelompok pria duduk bersila di atas karpet usang, mengenakan tunik putih polos. Ada yang tampak tenang, ada pula yang waspada. Ketika Kaivan dan yang lain masuk, ketegangan merambat di udara.
Raphael melangkah ke tengah. "Rekrutan baru. Mereka datang untuk mempelajari ajaran kita. Sambut mereka sebagai saudara."
Tak seorang pun berbicara. Api lampu bergoyang, dan bayangan seperti mendekat, meneliti setiap gerakan.
Dari sudut ruangan, seorang pria tua berjanggut putih menatap tajam. Suaranya dalam dan stabil. "Apakah kalian benar-benar siap? Jalan ini bukan untuk mereka yang ragu."
Kaivan melangkah maju dan membalas tatapannya. "Kami siap," katanya tegas. "Kami datang untuk memahami, bukan hanya menjadi penonton."
Mata pria tua itu menyisir wajahnya, menguji dan menimbang. Hening kembali turun. Lalu anggukan pelan, seperti putusan tanpa suara. "Jalan ini terjal. Tidak ada ruang untuk keraguan."
Felicia menyentuh punggung Kaivan dengan lembut, caranya mengatakan aku di sini. Ethan dan Radit saling berpandangan. Kewaspadaan mereka belum hilang, namun keyakinan mulai tumbuh.
Dalam sunyi yang pekat, Kaivan mengeluarkan Tome of Omnicent. Cahaya lembut menyebar dari halaman-halamannya, menerangi dinding retak dan wajah-wajah di sekitar dengan sinar pucat. Tinta bergerak seperti bintang cair, berbisik dalam bahasa yang terlupakan.
Felicia mendekat. "Apa yang kau lihat?"
Kaivan membaca sejenak, lalu menutup buku itu dengan hati-hati. "Nanti akan kujelaskan," gumamnya, tatapannya jauh, seolah sudah dibayangi sesuatu yang berat.
Ia memberi isyarat halus pada Ethan dan Radit dengan sedikit gerakan kepala, cukup untuk mengatakan tetap waspada. Mereka mengangguk, saling mengerti tanpa kata.
Kaivan menyelipkan kembali Tome itu ke dalam jaketnya. Namun sebelum mereka bergerak, seorang pria bermata tajam dan wajah datar memanggil, "Kalian. Ikuti aku."
Pintu besi berderit terbuka, suaranya berat dan dingin. Di baliknya terbentang lorong sempit dengan lampu redup yang berkedip. Udara terasa tebal dan lembap. Kaivan melangkah lebih dulu, diam namun mantap. Felicia, Ethan, dan Radit mengikuti. Langkah mereka bergema, seperti tabuhan pelan perlawanan.
"Tas kalian," bentak seorang penjaga bertubuh besar, suaranya sedingin pintu baja tadi. Tatapannya setajam pisau.
Tanpa pilihan, mereka menyerahkan semuanya. Saat Kaivan melepaskan tas yang berisi Tome, rasanya seperti melepaskan bagian dari dirinya sendiri.
Radit mendekat dan berbisik, "Tome-nya…"
Kaivan menjawab pelan, "Aku tahu di mana letaknya. Tunggu saat yang tepat."
Sebuah suara memanggil dari dalam. Mereka diminta mengikuti lagi. Langkah mereka menelusuri lorong batu yang menelan suara. Dindingnya terasa hidup, mengawasi. Orang-orang yang mereka lewati tidak sekadar melihat, mereka menilai.
Di ujung lorong terbuka sebuah ruangan luas. Deretan kursi tua berjajar di sepanjang dinding, dan para anggota organisasi berdiri membentuk lingkaran, mengepung mereka. Seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun melangkah maju, wajahnya keras seperti batu.
"Sebutkan nama kalian. Asal kalian. Dan tujuan kalian."
Kaivan berdiri tegak. Tatapannya tidak goyah. "Kaivan, dari Bandung. Aku mencari pemahaman, sebuah kebenaran yang tidak bisa diberikan oleh dunia biasa."
