LightReader

Chapter 79 - Buktikan Kesetiaanmu

Pria itu tidak berkata apa-apa. Wajahnya sulit dibaca, seolah tidak memihak apa pun. Lalu pandangannya beralih pada Felicia yang duduk anggun namun tegang, bahunya tertarik kaku seperti tali yang siap putus.

"Felicia," ucapnya tenang, suaranya lembut seperti embun di ujung bilah. "Aku berdiri di sisi Kaivan. Dan aku ingin memahami apa yang ia yakini."

Ethan dan Radit menyusul, memilih kata-kata mereka dengan hati-hati, meniru ketenangan Kaivan dan Felicia. Setiap kalimat ditimbang, setiap napas dijaga, karena di tempat seperti ini, satu kata saja bisa berubah menjadi peluru.

Setelah sesi tanya jawab yang panjang dan menegangkan, sang pemimpin akhirnya mengangkat tangan dan menunjuk Felicia. "Kau. Ikut denganku. Yang lain, tetap di sini."

Felicia menoleh pada Kaivan. Anggukan kecil darinya terasa seperti tali penyelamat di tengah keheningan yang semakin mencekik. Tanpa ragu, ia bangkit dan mengikuti, meski udara di lorong sempit itu terasa makin berat di setiap langkah.

Radit menggigit bibirnya. "Kenapa mereka memisahkan kita?"

"Salah satu petinggi mereka sepertinya tertarik padanya," gumam Kaivan, suaranya tenang namun dingin. "Kita tetap tenang. Jangan bergerak tiba-tiba. Jangan beri mereka alasan untuk curiga."

Felicia berjalan menyusuri lorong redup, cahaya lampu yang berkedip memantul di dinding lembap. Udara terasa tebal, seakan menyimpan rahasia yang tak mampu ia tangkap sepenuhnya. Saat tiba di sebuah ruangan kecil dengan cahaya kuning kusam, ia duduk tegak. Posturnya tenang, seperti bayangan yang menolak disentuh rasa takut.

Di aula utama, suasana terasa seperti waktu yang ditahan. Kaivan, Ethan, dan Radit berdiri berdampingan dalam diam. Dari ujung ruangan, seorang pria berjubah hitam muncul. Gerakannya halus, matanya menebas seperti pisau.

"Buktikan pengabdian kalian," katanya rendah, seperti badai yang menahan napas. Ia berhenti di depan Kaivan, tatapannya tajam dan tak bergeser. "Ikuti perintah kami. Jangan bertanya. Jangan melawan. Hanya dengan itu kalian akan mengerti arti kepasrahan sejati."

Kaivan menundukkan kepala sedikit. Di dalam dirinya, pikirannya menyusun peta strategi. Ia tahu, satu langkah salah saja, semuanya akan runtuh. Ini bukan waktunya menjadi pahlawan. Ini permainan bertahan hidup.

Tanpa berkata lagi, pria itu mengangkat tangan. "Pisahkan mereka. Interogasi satu per satu."

Setelah terpisah dari Felicia, Kaivan, Ethan, dan Radit digiring ke ruangan dingin yang diterangi lampu neon berkedip. Beberapa pemuda dan pemudi berdiri di sana, wajah mereka tegang, mata mereka dipenuhi ketakutan. Kaivan menyapu ruangan dengan pandangannya, dan di tengah kerumunan itu ia melihat Raphael berdiri tegak, tatapannya tajam dan waspada.

Gema langkah kaki mengiringi mereka menyusuri lorong beton. Udara berat, dipenuhi bayangan bisikan. Mereka memasuki ruang sempit yang remang, di mana tiga anggota senior organisasi sudah menunggu. Salah satunya, pria berwajah penuh bekas luka, menatap mereka dengan benci.

"Aku kenal kalian," desisnya serak. "Kalian yang kabur lewat semak-semak kemarin."

Ethan mengatupkan rahang, tinjunya mengepal. Sebelum siapa pun sempat bereaksi, Radit melompat maju. Tendangannya mendarat tepat di wajah pria itu, menjatuhkannya ke lantai dalam satu hentakan, tak sadarkan diri.

Anggota lain mencabut pistol, tetapi Kaivan sudah bergerak lebih dulu. Tubuhnya melesat seperti bayangan, serangannya tepat dan nyaris tanpa suara. Pria itu roboh sebelum sempat mengarahkan senjata. Sejenak, ruangan menjadi benar-benar hening.

Radit menatap Kaivan dengan tak percaya. "Sejak kapan kau secepat itu?"

Kaivan mengembuskan napas. "Aku juga tidak tahu. Rasanya seperti semua orang melambat."

Tatapan Ethan melesat ke arah pintu. "Kita sudah bikin keributan. Kalau mereka menangkap kita, selesai sudah."

Tanpa menjawab, Kaivan mengeluarkan selembar kertas terlipat dari dalam jaketnya. Dengan cepat ia menggambar tata letak yang terpatri di ingatannya, peta yang ditanamkan oleh Tome Omnicent. Lorong, pintu, jalur keluar. Setiap garis ditarik dengan tujuan.

Ia menyerahkannya pada Radit dan Ethan.

"Pakai seragam mereka," perintah Kaivan pelan. "Pergi ke ruang penyimpanan dan ambil perlengkapan apa pun yang bisa kalian temukan. Aku akan mencari Tome dan Raphael. Mungkin aku masih bisa menyadarkannya."

Radit dan Ethan saling berpandangan, lalu bergerak cepat. Mereka melepas pakaian para penjaga yang tak sadarkan diri dan mengenakan seragam itu. Radit menepuk bahu Ethan dengan seringai tipis. "Saatnya merusak pesta kecil mereka."

Tanpa kata lain, mereka menghilang ke lorong gelap, bayangan mereka bergetar di dinding lembap. Kaivan berbalik ke arah berlawanan, setiap langkahnya senyap dan terukur. Detak jantungnya stabil, pikirannya setajam silet. Setiap suara, setiap bayangan, bisa menjadi ancaman.

Setelah melewati beberapa pintu dan ruangan kosong, ia memasuki aula yang dipenuhi para remaja gelisah. Mata mereka kosong, namun fokus Kaivan hanya tertuju pada satu orang.

"Raphael," bisiknya.

Raphael menoleh. Keterkejutan melintas di wajahnya, lalu segera digantikan kewaspadaan. "Kaivan? Apa yang kau lakukan di sini?"

Kaivan mendekat dan menyerahkan secarik kertas terlipat. "Baca ini. Mereka bukan guru. Mereka kelompok teroris. Mereka mencuci otak kita."

Mata Raphael melebar saat membaca, wajahnya memucat. "Kau yakin…?" gumamnya.

Sebelum Kaivan sempat menjawab, langkah kaki berat menggema di lorong. Mereka segera menyembunyikan kertas itu. Kaivan berbisik cepat, "Kita bicara nanti. Aku harus bergerak."

Raphael mengangguk singkat. "Kaivan, tunanganmu. Dia di lantai dua, di ujung lorong. Aku akan mencoba memperingatkan yang lain."

Di ruangan lain dalam gedung itu, Felicia berdiri di tengah ruang terang, meski udara di sekitarnya terasa menekan. Tangannya yang halus sedikit gemetar saat memegang nampan minuman. Ia berusaha menjaga wajahnya tetap datar, walau kegelisahan mengalir di dadanya seperti sungai deras.

Di hadapannya duduk Yusra, pemimpin organisasi, bersandar di kursi besar dengan tatapan menjijikkan. Matanya mengembara di tubuh Felicia dengan cara yang membuatnya merasa seperti benda.

"Berapa usiamu, lima belas?" suara berat Yusra membuat bulu kuduknya meremang. "Tapi tubuhmu, wajahmu, luar biasa. Kau tidak terlihat seperti siswi SMA biasa."

Felicia hanya mengangguk kecil, memaksa dirinya untuk tidak tersentak. Tangannya bergetar saat mulai memijat bahunya, berusaha mengalihkan rasa mual yang memelintir di dalam perutnya. "Ah… aku sebenarnya tidak secantik itu," ucapnya pelan, nada suaranya datar, menyembunyikan ketakutan di balik ketenangan semu.

Di dalam hati, ia terus berdoa agar diberi kekuatan. Bertahan sedikit lagi. Namun ia tahu waktu semakin menipis. Bagaimanapun caranya, ia harus menemukan jalan untuk keluar dari tempat ini.

More Chapters