LightReader

Chapter 7 - Bab 7: Tanah yang Menolak Langit

Kabut hitam menggantung di udara seperti luka yang tidak pernah sembuh.

Begitu Li Yun melangkah melewati celah batu terakhir, dadanya langsung terasa berat. Bukan sakit—melainkan seperti dunia di sekitarnya enggan mengakuinya.

"Selamat datang," kata Shen Yao datar, "di Zona Terlarang Heiyuan."

Tanah di bawah kaki mereka berwarna kelabu, retak-retak seperti bekas terbakar. Pohon-pohon tumbuh miring dengan daun hitam kehijauan, tanpa suara angin. Bahkan cahaya terasa redup, seolah disedot oleh tanah itu sendiri.

Li Yun menarik napas.

Ruang Napas di dadanya bergetar aneh—bukan menolak, bukan menyambut.

"…tempat ini tidak punya Napas Langit," gumamnya.

Shen Yao meliriknya tajam.

"Kau cepat belajar."

Ia melangkah maju.

"Zona ini diciptakan secara paksa," lanjutnya. "Saat sekte memotong Napas Langit dulu, sisa-sisa rusaknya jatuh ke sini. Tempat ini menolak hukum kultivasi normal."

Li Yun menelan ludah.

"Dan kau membawaku ke sini karena…?"

"Karena di sini," jawab Shen Yao tanpa menoleh,

"kau tidak akan langsung diburu."

Mereka belum berjalan jauh ketika tanah di depan bergerak.

Li Yun refleks berhenti.

Sesuatu merangkak keluar dari celah tanah—makhluk seperti serigala, tapi tubuhnya retak seperti keramik pecah, dan dari celah itu keluar kabut hitam.

Makhluk Terbuang.

Shen Yao menghela napas pendek.

"Jangan pakai hembusan napas."

Li Yun membeku.

"Kenapa?"

"Karena di sini," katanya dingin,

"napasmu akan dimakan balik."

Makhluk itu menerjang.

Li Yun mundur setengah langkah, menahan refleksnya. Ia memusatkan diri—bukan pada menarik atau menghembuskan napas, tapi menahan ruang kosong di dadanya.

Makhluk itu mendekat—

lalu tiba-tiba tersedot ke arah Li Yun.

Bukan oleh kekuatan.

Melainkan oleh kehampaan.

Tubuh makhluk itu bergetar, kabut hitamnya terkoyak, lalu runtuh menjadi debu abu-abu sebelum sempat menyentuh Li Yun.

Li Yun terhuyung, terkejut.

Li Yun terhuyung, terkejut.

Shen Yao berhenti.

"…jadi begitu," gumamnya. "Ruang Napasmu menyerap ketiadaan."

Li Yun menatap tangannya sendiri.

"Aku tidak melakukan apa-apa."

"Itu yang membuatnya berbahaya," jawab Shen Yao. "Zona ini akan mempercepat pertumbuhanmu, tapi juga mempercepat kematianmu."

Mereka melanjutkan perjalanan.

Di kejauhan, bayangan bangunan runtuh mulai terlihat—pilar-pilar patah, altar kuno, simbol langit yang dicoret dan dihancurkan.

"Dulu," kata Shen Yao pelan, "ini adalah tempat para penjaga Napas Langit berdiri."

Li Yun menoleh.

"Penjaga?"

"Orang-orang yang memastikan dunia bernapas seimbang," jawabnya. "Semuanya dibunuh."

Sunyi menyelimuti mereka.

Tiba-tiba, Shen Yao berhenti mendadak.

"Ada yang masuk," katanya.

Li Yun ikut menegang.

"Makhluk?"

"Bukan." Mata Shen Yao menyipit.

"Manusia."

Tekanan berat muncul dari kejauhan—berlapis, teratur, dan terlatih.

"Pemburu Sekte," gumam Shen Yao. "Dan kali ini… bukan murid."

Di balik kabut, beberapa siluet muncul, jubah mereka tidak putih, melainkan abu-abu tua dengan lambang sekte yang dipatahkan.

Salah satu dari mereka melangkah maju.

"Pewaris Napas Langit," suaranya serak namun jelas.

"Serahkan dirimu. Zona Terlarang ini tidak akan melindungimu lama."

Li Yun berdiri tegak.

Ruang Napas di dadanya berdetak pelan.

Shen Yao tersenyum miring.

"Babak berikutnya," bisiknya,

"akan jauh lebih berdarah."

Dan kabut pun mulai bergerak.

More Chapters